[Cerpen] Locked

11:30 PM




Hari ini pun, Bian tersenyum menatapnya. Alena tidak mengerti mengapa adik laki-laki tirinya bisa tersenyum seperti itu padanya setiap kali ia datang berkunjung. Apakah ia tersenyum karena senang melihat Alena terkurung dalam bangunan yang telah mengisolasinya dari dunia luar? Tapi senyuman itu sepertinya tidak menunjukkan ejekan. Ia terlihat tulus. Alena tidak menyukai senyuman itu. 

“Jangan tersenyum.” Alena berkata muram pada pemuda berlesung pipit yang sedang duduk di sampingnya. Alena memalingkan wajah ke luar jendela. Memandangi rintik hujan yang mengetuk-ketuk kaca yang melindungi ruangan itu dari terpaan hujan secara langsung. 

Dari pantulan kaca di jendela, Alena melihat Bian masih saja tersenyum. Tak berniat sedikit pun untuk menyimpan tarikan di sudut bibirnya untuk diri sendiri. Alena membencinya namun ia hanya mampu untuk tidak mengacuhkan keberadaan sosok itu di dekatnya. Kapankah terakhir kali Alena tersenyum? Rasanya ia sudah melupakan cara untuk melakukannya. Senyumannya hilang. Tak bisa ia temukan di mana pun. Mungkin terkunci bersama dengan kenangan tentang Nathaniel di dalam Kotak Pandora yang ia simpan di salah satu sudut dalam hatinya. Bukan Alena tak pernah mencoba menemukannya lagi. Ia pernah mencoba, namun senyumannya terlihat sangat buruk. Ia terlihat seperti badut di taman ria dengan mulut selebar wajah. Mengerikan.

Alena duduk di salah sudut ruangan yang berisi sepuluh orang lainnya. Tak ada satu pun yang mempedulikan apa yang sedang terjadi pada yang lain. Mereka sedang asyik dengan dunia yang mereka bentuk dalam pikiran. Meracau. Memang hanya itulah yang bisa mereka lakukan ketika dunia telah memutuskan untuk membalikkan badan memunggungi mereka. Dengan begitu, mereka bisa menjadi lebih bahagia dengan cara mereka sendiri.

***

“Lena, tidak ada yang bisa membantumu jika kamu sendiri tidak menginginkan pertolongan itu.” Untuk kesekian kalinya setelah beberapa kali periode pertemuan, pria berjas putih panjang itu mengatakan hal itu padanya. Alena tidak kooperatif, itu adalah maksud yang lebih ringkas dari perkataannya. 

Alena tak acuh. Ia tidak membutuhkan siapa pun menolongnya. Ia merasa baik-baik saja. Seluruh anggota tubuhnya berfungsi dengan baik. Ia mampu berpikir dengan jelas. Ia tahu siapa dirinya dan apa yang sedang terjadi. Satu-satunya yang tidak berfungsi dengan baik seperti dahulu hanyalah hatinya. Bagian itu telah direngut paksa darinya. 
***
Alena menjerit histeris. Memberontak ketika seseorang berusaha menyentuhnya. Tak ada yang menganggu sebelumnya. Tak seorang pun dalam ruangan itu berinteraksi dengan gadis muda berpakaian kelabu yang suram itu. Hanya kicauan di dalam kepala yang membuatnya kehilangan kendali atas dirinya. Suara-suara itu berbicara padanya. Menuntutnya atas apa yang terjadi pada Niel. Mengatakan bahwa ia tak pantas untuk berada di sini saat ini. Ia telah membunuh satu-satu orang yang menyadari keberadaannya. Ia membunuh Niel. Alena seharusnya sejak lama mati. Tak ada yang menginginkannya.

Hujan pun turun saat itu. Seakan langit turut menangisi bahwa Alena masih memiliki eksistensi di dunia ini hingga detik ini.


***

"Aku kebal air. Lihat dong, sakti 'kan?" Hujan turun gemericik siang itu, tiga anak perempuan berseragam merah putih berlarian di bawah siraman air dari langit di lapangan sekolah seluas 10x30 meter. Tertawa riang. Mereka berakting seakan tubuh mereka tak akan tembus oleh rintik-rintik air yang kini mulai semakin deras. Tak ingin mengakui bahwa seragam putih mereka kini semakin tampak tembus pandang.

Begitulah permainan di bawah siraman hujan yang sering ia mainkan. Ia tak peduli tubuhnya basah kuyup atau besok ia akan jatuh sakit. Yang ia rasakan hanyalah kesenangan berlari di bawah langit. Tawa tampak lepas. Begitu bebas.

Sejak kapan ia mulai melupakan kesenangan sederhana seperti itu? Dahulu, bahagia itu terasa begitu sederhana. Kini, kesenangan dan senyuman bukan lagi milik Alena. Mereka telah terkunci bersama kenangan. Mengantikan isi Kotak Pandora miliknya. Kebahagiaan adalah hal terlarang bagi Alena.
***
                                                                                                                                                                                                                                                Tangerang, 28 Oktober 2015                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                

You Might Also Like

0 comments

2016 Reading Challenge

2016 Reading Challenge
Deasy has read 2 books toward her goal of 30 books.
hide