Impian Awal Musim Semi

9:55 PM




Mereka mengatakan bahwa makna musim semi adalah sebuah perjumpaan. Es yang sebelumnya membeku mulai mencair. Hewan-hewan merangkak keluar dari sarang persembunyian mereka dan hendak berkeliaran bebas di angkasa dan daratan. Bunga-bunga mengintip malu, ingin menyambut perjumpaan dengan angin semilir yang hangat dan kecupan dari burung-burung bertamu. Pertemuan kembali. [1]
Kau tahu, apa kesamaan dari musim semi dan masa muda? Itu adalah dalam masa muda terdapat musim semi. Dalam Bahasa Mandarin, mereka menggunakan satu kata yang sama. Musim semi (春天-Chun Tian) dan masa muda (青春-Qing Chun). Seperti energi yang tercipta oleh musim semi, masa muda identik dengan keinginan dan impian yang ingin dicapai. Dimulai dari sebuah langkah kecil saat pertama kali keluar untuk melihat dunia.
Dinding itu menyimpan sebuah impian. Impianku. Di sana aku menatapnya. Di tempat itu aku mengutarakan segalanya. Deretan kata dan gambar yang mewakili keinginan terdalamku. Aku menempelkannya untuk kuperhatikan dari jauh. Pun, agar ia terus mengingatkanku pada apa yang ingin kucapai.
“Lo tuh gila ya?”
“Kita masih muda. Ngapain sih ngoyo kayak gini. Have fun. Enjoy life.
Maaf, caraku bersenang-senang dengan masa mudaku adalah seperti ini. Menatap impianku satu per satu tercapai.
Masa muda, tentu saja kita harus banyak bersenang-senang, menikmati hidup. Melakukan segudang kegilaan, kesalahan, dan orang-orang akan memaafkanmu untuk apa yang kau lakukan atas nama: “Namanya juga masih muda.”
Meskipun begitu, banyak hal masih akan kau khawatirkan; tentang masa depan, arah hidup, bahkan detik ini tentang apa yang ingin kau lakukan. Itu juga terjadi padaku.
Susunan batu bata berlapis cat putih di sekujur tubuhnya yang berdiri kokoh di salah satu sisi kamarku itu menyimpan kenangan. Kenangan akan diriku yang memiliki segudang impian. Namun, hari ini sepertinya aku harus berpaling menatap pada dinding lain.
Ketika kau menatap sisi itu sekelilingmu terasa gelap. Kau tak bisa melihat apa yang sedang dan akan terjadi di depan matamu. Ia bisa membuatmu merasa tak berdaya, frustasi, dan ingin memberontak, berpaling darinya. Ya, itu adalah dia. Kau pun pasti mengetahuinya. Ia bernama Dinding Realitas. Berdiri tegak, kokoh, dan terasa dingin. Menghalangi segala yang ada di depan dari penglihatanmu.
“Bermimpi itu boleh tapi tentukan batas waktunya. Jangan terlena. Lakukan sesuatu.” Kau pikir aku tidak berusaha melakukan sesuatu?
“Kalau ternyata itu tidak menghasilkan uang, jangan teruskan. Segera cari yang lain.” Uang. Uang. Uang. Selalu itu, mereka yang telah berbenturan dengan dinding realitas, katakan. Jika itu tidak menguntungkan, segera akhiri usahamu.
Apa kau sudah melupakannya? Bahwa di dalam perjalanan mencapai mimpi itu terdapat banyak hal lain yang bisa kau dapatkan selain keuntungan materi. Pengalaman. Bukankah hal itu lebih berharga?
Saat ini, usiaku baru mulai berkutat dengan angka dua. Sepuluh tahun lagi, diriku barulah tiga puluhan, apa yang harus kutakutkan? Jika pada akhirnya mungkin saja hasil menunjukan kegagalan setidaknya aku pernah melakukannya.
Jangan takut untuk melakukannya. Kalaupun tidak berhasil, kau masih muda. Masih ada banyak waktu untuk memulai kembali. Memang tak pernah ada kata terlambat untuk memulai sesuatu, namun akan lebih baik jika kau mengawalinya lebih dahulu dari siapapun.
Dinding itu menyimpan hasratku. Keinginan untuk menghancurkan apa yang menghalangi langkahku untuk beranjak menuju sebuah tempat beraroma musim semi bernama impian. Orang-orang bercerita seperti itulah permulaan musim semi. Langkah kecil-kecil, sepintas terlihat ragu, namun dipenuhi impian.

[1] Terinspirasi oleh salah satu chapter dalam buku yang ditulis Zhang Yixing. :)


Tangerang, 8 Oktober 2015

Notes: ditulis untuk memenuhi tantangan nulis bareng Kampus Fiksi dengan tema Dinding.

You Might Also Like

1 comments

  1. Pertama aku mau komen kalau fotonya bagus. Hahaha.
    Pink gitu, jadi pas sama dominasi warna di blog ce2.. :D
    Aku suka pesan-pesan dalam cerpen ini tentang mimpi. Hehehe

    ReplyDelete

2016 Reading Challenge

2016 Reading Challenge
Deasy has read 2 books toward her goal of 30 books.
hide