Thought of Kafka and Things that Happened

5:05 PM



Well, this isn't a real post about Franz Kafka or book Kafka on the Shore. It's just a random post that I made after reading a short biography of him. Just a random thought. Nothing meaningful. Mostly only about my rants about life. :) 

Maybe later I will post another talk about Kafka after I read Kafka on the Shore by Murakami. Lol. I bought that book long time ago but hasn't opened the plastic wrap yet. Got no time to read something serious. :P



Bagaimana cara memulai posting-an random ini? Sebenarnya ini hanya bermula dari sebuah kejadian yang sederhana, sebuah obrolan di grup Whatsapp tentang buku Milan Kundera, Kitab Lupa dan Gelak Tawa yang dibaca oleh seorang teman untuk Reading Challenge yang kami adakan secara iseng. Berawal dari sana, entah mengapa saya merasa penasaran dengan buku tersebut, setelah sebelumnya sempat iseng-iseng juga baca soal Milan Kundera.

Berawal dari rasa penasaran dengan novel Kitab Lupa dan Gelak Tawa (judul yang susah, sering kebalik karena ingatnya versi Inggris melulu, The Book of Laughter and Forgetting), tersangkut dalam sebuah review yang menarik tentang buku tersebut. Review tersebut sangat menarik. Sebuah novel yang merupakan kombinasi esai, otobiografi, cerpen, puisi, dan traktat filsafat. Dan satu lagi kutipan yang membuat saya merasa "Gue harus baca nih novel kayaknya."

“Diri adalah keseluruhan dari segala sesuatu yang kita ingat. Jadi, yang membuat kita takut pada kematian bukanlah hilangnya masa depan, melainkan hilangnya masa lalu. Lupa merupakan sebentuk kematian yang hadir dalam kehidupan.”
  

Atas dasar rasa penasaran pada buku tersebut kemudian saya mulai mencari-cari kembali mengenai Milan Kundera dan kembali teringat pada masa-masa mengejar deadline pengumpulan cerpen KFE 3 - memang saya sangat random, pikiran saya meloncat dari sini ke sana -. Satu ingatan yang cukup jelas mengenai hari terakhir pengumpulan tersebut adalah ketika kami saling tukar cerpen di grup, sebuah komentar mengenai sebuah cerpen, "Zul, kamu habis baca Kafka, kah? Tulisanmu kesannya kayak habis baca itu." 

Waktu itu, jelas saya tidak tahu menahu soal Kafka, yang saya tahu mah cuma Kafka on the Shore-nya Murakami, buku yang dari tahun 2015 saya incar untuk beli. Hehehe. Saya mah apah atuh... hanya seorang pemula di bidang sastra. Baca sastra saja masih kelimpungan, apalagi disuruh harus tahu nama-nama besar penulis sastra dunia. 

Well, setelah obrolan singkat, yang sebenarnya nggak penting-penting amat, itu I know that Kafka is a person not only a character from Kafka on the Shore. Tapi, saat itu masih belum penasaran lah. Cukup tahu saja. Then, setelah mencari tahu soal Kundera inilah, rasa penasaran saya mengenai seseorang penulis yang bernama Franz Kafka ini mulai muncul, karena dikatakan tulisan Kundera banyak dipengaruhi oleh Kafka juga. Hmmmh... Okay, mari kita mulai nanya ke Mbah Gugel. 

Setelah nanya, well... Eyang(?) Kafka ini ganteng juga *salah fokus*. LoL.

 

Baiklah, mari kita fokus ke topik bahasan awal. Hal pertama yang menarik perhatian saya dari sosok Kafka ini pada awalnya adalah kutipan-kutipannya. Contoh saja:

Youth is happy because it has the ability to see beauty. Anyone who keeps the ability to see beauty never grows old.
A book must be the ax for the frozen sea within us.
You are free, and that is why you are lost.

I mean, I'm a big fool for great quotes. Apalagi kutipan yang rasanya ngena banget, macam kutipan yang pertama. Masa muda itu bahagia karena kita masih memiliki kemampuan untuk melihat segalanya dengan indah. Isn't it? Beberapa orang mengatakan masa muda itu ideal dengan rasa sakit, macam pandangan timur, itu benar, yang ini pun rasanya tidak salah. Di satu sisi kita merasakan banyak hal yang menyakitkan untuk pertama kalinya. Kehilangan arah, ketakutan, keinginan akan masa depan yang sesuai rencana, benturan antar realitas dan idealisme. Banyak hal, bahkan yang remeh temeh macam cinta pertama, hubungan pertama, *itu remeh temeh, Deas? It's a big deal too, but well... uhm...*. Di sisi lain, meskipun kita merasa takut dan hilang arah kita masih tetap bergerak maju. Masih mampu untuk menertawakan setiap hal, bahkan hal yang sesungguhnya tidak lucu. Segalanya terlihat lebih indah, apalagi jika ada someone special, whether they are best friends or girl/boyfriend. 

Balik lagi soal Kafka, karena melihat kutipan-kutipan itulah saya mulai penasaran buku-buku seperti apa sih yang beliau tulis. Itu baru kutipan, gimana bukunya? 

Nah, terdamparlah saya dalam sebuah laman yang memuat kisah hidup Kafka, it's Wikipedia *lol*. Cukup memusingkan membaca kisah hidup penulis yang satu ini. Well, saya memang selalu pusing kalau membaca biografi seorang tokoh, terutama kalau sang tokoh tersebut berasal dari Jerman - tapi Kafka ini berasal lahir Praha. Rasanya ada sesuatu di dalam kisah hidup mereka yang untukku berat sekali, seberat buku-buku filsafat mereka. #eh
Dari apa yang saya tangkap dalam kisah hidup ini, hampir sama dengan kebanyakan nasib seniman lainnya, Kafka seumur hidupnya tidak pernah merasakan kepopularan. Hanya ketika ia telah meninggal, barulah naskah-naskah yang pernah ia tulis menjadi booming. Yang unik adalah ternyata Kafka bisa dikatakan tidak pernah menuntaskan novel-novelnya. Hmmm... kayak siapa ya... *Ya, gue! Gueh merasa kesindir!
Bahkan, sebelum meninggal, di usianya yang ke 40, Kafka sempat meminta temannya, Max Brod, untuk membakar seluruh naskah-naskah tersebut. Namun, ternyata temannya tidak menjalankan permintaan itu, malah menerbitkan naskah-naskah tersebut. 

Kalau hingga akhir hidup, naskah-naskahku tidak pernah tuntas dan terbit apa saya juga boleh ya mencoba cara Kafka? Siapa tahu jadi femes. *maunya, duh!*

Ada satu hal sih yang membuat saya merasa ternyata penulis yang berhasil mempengaruhi banyak penulis lain pun juga merasakan apa yang kurasakan. Itu adalah bagian ketika Kafka menggalau ke temannya tentang ending novelnya. Lol. Now I know that I'm not alone in this world. There's someone out there who feel the same with me.


Ada hal lain lagi yang membuat saya merasa sosok Kafka ini terasa sangat menarik sekaligus membuat pusing dan uhmm ngeri (?). I dunno why but somehow I feel scared when I read about him, scared because how come his thought, how his feeling about things, feel similar with mine, but at the same time I dunno... Feeling of eerie. Something doesn't feel right but I don't know what is it. 

The tremendous world I have in my head. But how to free myself and free them without ripping apart. And a thousand times rather tear in me they hold back or buried. For this I'm here, that's quite clear to me.
Man cannot live without a permanent trust in something indestructible within himself, though both that indestructible something and his own trust in it may remain permanently concealed from him.

Orang-orang bilang kalau Kafka punya kecenderungan Schizoid. Is he? Buat saya sih, Kafka adalah seorang introvert yang sangaaaaaatttt introvert. Kurasa hal itu banyak terjadi dalam benak orang-orang yang punya kepribadian introvert, include me

Banyak orang yang mengira kalau saya ini seorang ekstrovert karena saya banyak berbicara dengan orang, banyak bergaul. Tapi sesungguhnya, saya pun merasa sangat-sangat tertekan setiap kali berbicara dengan banyak orang. Terkadang juga ingin bersembunyi di suatu tempat yang tidak ada seorang pun ada di sana. Hampir sama seperti Kafka, dalam berbagai sisi. Then, do I have schizoid traits too

Anyway, meskipun saya merasa kutipan pemikiran Kafka itu mengena banget, tapi saya tidak merasa tertarik untuk membaca tulisan-tulisan Kafka, setidaknya untuk saat ini. Rasanya saya pernah melihat bukunya yang berjudul Die Verwandlung a.k.a The Metamorphosis. Tentang seorang pekerja kantoran yang suatu hari berubah menjadi belalang sembah. Dalam bentuk film tentunya. - dan saya baru saja nyadar itu yang main bukan Nicolas Cage, kenapa gue ingetnya Nicolas Cage coba? Haha Pasti gara-gara waktu nonton itu saya sambil nyari film-film Nicolas Cage. 

Nah, waktu itu sempat melihat sekilas sih The Metamorphosis ini dan merasa uhm... ceritanya yang 'absurd' itu not my style. Cerita gaya Kafka seperti ini nih hingga saat ini nggak pernah bisa saya pahami, baik dalam bentuk novel maupun film. Rasanya kalau membaca atau menonton yang seperti itu kepala mau pecah. XD Butuh upgrade isi otak dulu baru bisa nyampe kali ya untuk berhadapan dengan Kafkaesque

Dan akhir-akhir ini saya berpikir setelah melihat buku-buku Kundera dan Kafka (sinopsisnya sih), ternyata banyak kok yang memakai dasar romance dalam novel-novel tersebut dan tulisan mereka diakui sebagai sastra. Entah mengapa, kalau berhadapan dengan sastra akhir-akhir ini di Indonesia, feeling saya saja sih karena saya tidak akrab dengan beginian, saya merasa sastra itu identik dengan sesuatu yang penuh pemikiran yang berat, yang ke-Indonesiaan-nya kuat, lebih-lebih kedaerahannya. Rasanya kalau sudah dengan buku sastra Indonesia, saya sudah mengeluh duluan. Ugh... 

Padahal kalau dipikir-pikir ternyata ide ceritanya sebenarnya sederhana saja. Seperti Kitab Lupa dan Gelak Tawa, ceritanya tentang seorang istri yang berusaha untuk tidak melupakan sang suami yang telah meninggal. Mereka sebelumnya telah diusir dari negara asal mereka karena melawan praktik totalitarianisme komunis Ceko. Begitu... saja (?) Sepertinya tidak 'saja', banyak hal yang ingin diungkapkan dalam kesederhanaan ide cerita. Inilah yang membuat saya penasaran sekali. Ketika orang sudah sangat menguasai hal yang ingin disampaikan, mereka yang mampu membuat hal tersebut seakan-akan hal yang sederhanalah yang menurutku itu benar-benar ahli. Semacam teori iceberg-nya Eyang Hemmingway. Yang ada di permukaan itu hanya sekitar 10%, tapi kamu nggak akan pernah tahu 90% hal yang ada di bawah permukaan.

Memang sepertinya saya butuh piknik ke dunia literasi lebih banyak. :) 

Dan pada akhirnya posting-an ini sama sekali tidak membahas hal yang penting. Hanya racauan dari satu topik ke topik yang lain. Hahaha. Maaf saja kalau kalian jadi membaca hingga akhir hanya karena ingin tahu apa yang ada di sini. :)

You Might Also Like

0 comments

2016 Reading Challenge

2016 Reading Challenge
Deasy has read 2 books toward her goal of 30 books.
hide