[BTS Fan Fiction] Youth of Lily - Fifth Run

11:00 AM



FIFTH RUN
Breathe or dream
Row the oars along with your heartbeat
if you are trapped in the other’s thin judgments
then the sun will set on your life like a court
What am I doin’ with my life
this moment won’t ever come again
I’m asking myself again, am I happy right now?



"Oh good-bye days
Imakawarukigasuru
Kinou made ni so long
Kakkoyokunaiyasashisaga soba niarukara
~With you."

Sebuah musik terdengar samar dari earphone. Bersamaan dengan itu, pendengar dari musik tersebut ikut bersenandung pelan bersamanya. Tidak ada seorang pun di sana saat itu, di tangga yang dapat membawamu ke atap gedung. Itulah mengapa dia dapat merasa sedikit tenang untuk sesaat. Tidak akan ada yang menatapnya. Tidak ada pula yang menghakiminya. Dia aman berada sendirian.
Sesungguhnya itu adalah sebuah ironi. Dia menggumamkan lagu yang menceritakan padanya mengenai sesuatu yang berubah tapi pada kenyataannya dia tidak pernah berubah. Tidak ada yang berubah di dalam sana. Jimin mendengar lagu tersebut berulang kali dengan harapan bahwa lagu tersebut dapat membantunya merasakan hal yang sama. Dia berharap bahwa lagu tersebut dapat menguatkannya. Persis seperti lirik selanjutnya dari lagu tersebut. Kesedihan dan ketakutan akan datang bagaimanapun caranya bahkan meski dia tidak menginginkannya. Dia tidak dapat melakukan apa pun dengan itu.
Jika saja dia dapat mengucapkan “halo” dan tersenyum pada pemikiran-pemikiran tersebut. Namun yang dia lakukan adalah kabur darinya. Dia mengurung dirinya setiap kali mereka datang.
“Aku tidak mengira itu adalah kau.”
Sebuah nada ceria dari suara yang sedikit serak mengejutkan Jimin ketika dia mendengarnya. Dia melihat teman sekelasnya dari hari ketika dia memiliki momen ketakutan di dalam toilet.
Sekejap dalam benaknya, Jimin hendak kabur dari sana namun pemuda itu menahannya terlebih dahulu. Dia memintanya untuk tinggal.
“Untuk informasi saja, aku tidak punya penyakit menular apa pun. Kenapa kau terus-terusan kabur dariku? Aku bukan orang jahat. Ah, di toilet, aku minta maaf jika sudah mengatakan hal kasar padamu yang tidak kumaksud seperti itu. Aku hanya bercanda. Kau bereaksi berlebihan terhadapnya. Aku Kim Taehyung. Kau tahu aku berasal dari kelas yang sama denganmu, kan?”
Jimin melihat senyuman berbentuk kotak yang dia kenali setiap kali pemuda itu tertawa ketika berbicara dengan temannya di kelas. Kim Taehyung, tentu saja Jimin tahu nama teman sekelasnya.
“Kau punya suara yang enak didengar. Kau suka mendengarkan musik? Aku membuat kru dengan temanku dan beberapa kakak kelas. Kalau saja kau ingin bergabung.” Ada jejak keraguan pada kalimat terakhir yang diucapkan Taehyung. Dia tidak tahu apakah pemuda yang satu ini akan setuju tapi dia sangat ingin untuk berteman dengannya.
“A-aku minta maaf. Aku tidak tertarik untuk bergabung dalam sebuah kru.”
Jimin sesungguhnya tidak mengerti maksud dari kru tersebut. Apa yang dimaksud pemuda itu? Tapi saat itu dia hanya berpikir bahwa dia harus pergi dari tempat ini. Orang-orang akan mulai memperhatikannya. Itu akan menjadi buruk.
“Kenapa? Mereka orang-orang yang menyenangkan. Baiklah, Suga Hyung memang sedikit kasar dan menakutkan tapi dia baik. Dia punya selera musik yang bagus. Jin Hyung tidak banyak bicara tapi dia akan mendengar dan menjawabmu. Namjoon, kau tahu Namjoon, kan?” Jimin mengangguk gugup. Taehyung memulainya lagi. Berbicara tanpa henti. “Dia itu siswa terpandai di kelas, uhm terpandai seangkatan maksudku. Dia terlihat akan tidak mengacuhkanmu pertama kali tapi sesungguhnya dia merespons pada ucapanmu. Mereka semua teman-temanku. Kau juga bisa menjadi temanku juga. Semakin banyak semakin menyenangkan. Jangan jadi anti sosial. Ini kan SMA. Kau harus menikmatinya selagi kau bisa lakukan itu. Momen ini tidak akan datang untuk kedua kalinya dalam kehidupanmu.”
Jimin kehilangan kata-kata. Dia terlihat terkejut dengan kecepatan Taehyung berbicara dan banyaknya jumlah kata-katanya.
“Baiklah, ini akan lebih meyakinkanmu kalau kau bertemu dengan mereka langsung. Ikut aku.” Taehyung mulai memegang tangan Jimin lagi. Pemuda tersebut memberontak sesaat tapi Taehyung kembali mengatakan hal lain padanya. “Mereka tidak akan menggigitmu, kau tahu. Kau sudah menghadiri sekolah ini lebih dari sebulan, bagaimana bisa kau tahan untuk tidak bersosialisasi dengan yang lain?”
Jimin tidak ingin membicarakan hal tersebut. Dia mencoba melepaskan diri dari Taehyung tapi pemuda itu cukup kuat. Dia tidak membiarkan Jimin pergi.
“Dari mana kamu berasal sebelumnya? Kau bukan dari Seoul, kan? Aku bisa mendengar aksenmu.” Taehyung mencoba memulai percakapan dengan Jimin selagi mereka berjalan ke ruang musik yang kosong yang kebetulan diisi oleh tiga orang lainnya.
“Busan.” Jimin menjawab dengan enggan. Lagi pula dia tidak dapat mengabaikan pemuda yang terus-terusan berbicara padanya.
“Oh, Busan! Aku suka laut. Kau sering main di laut?”
“Tidak terlalu.”
“Kenapa kau pindah di tengah semester? Kenapa tidak sejak awal semester?”
Jimin terpaku pada pertanyaan tersebut. Dia berhenti melangkah. Tangannya mulai bergetar memikirkan alasan tersebut. Dia harus menenangkan diri. Mengalihkan pikirannya dari kenangan yang mengancam untuk menyeruak ke permukaan di dalam benaknya.
“Apa itu sesuatu yang tidak dapat kau bicarakan? Maaf, aku tidak akan menanyakannya lagi. Yang lain akan berada di ruang musik. Ayo pergi ke sana sebelum jam istirahat berakhir.”
Untuk kabur. Jimin menjawab pertanyaan tersebut di dalam benaknya selagi mengikuti Taehyung masuk ke dalam ruang musik. Dia tahu bahwa dia tidak boleh kabur dari masalah tapi dia lemah. Dia telah kalah dalam pertarungan dengan dirinya dan orang-orang.
Suga Hyung! Aku bawa anggota lain untuk bergabung dengan kru kita!” Taehyung terlihat sungguh-sungguh dengan perkataannya. Dia tidak mengusik Jimin untuk memberitahunya lebih jauh, malahan dia membuka pintu dengan tingkah yang berlebihan. Menyapa tiga orang lainnya yang sedang duduk di dalam ruangan melakukan hal yang tidak Jimin ketahui.
Apa anak ini selalu melakukan seperti ini?
Salah satu dari siswa itu mengerang sebagai respons pada Taehyung. Itu membuat Jimin berjengit. Pemuda itu terlihat kesal dan rambutnya merah. Apa dia ketua di sini? Dia mungkin Suga Hyung yang tadi Taehyung katakan. Pemuda ini memang terlihat sangat mengintimidasi, seperti orang-orang dari sekolah lamanya.
“Kurasa tadi aku minta kau beli air dan camilan bukan untuk mengajak orang aneh lainnya ke dalam kru.” Si Rambut Merah meletakkan beberapa kertas yang dia pegang ke atas kursi/meja kecil di tengah tiga orang tersebut.
“Kenapa? Lebih banyak kan lebih menyenangkan, Hyung. Kita bisa punya lebih banyak kesenangan dengan lebih banyak orang.” Taehyung membuat Jimin kagum karena sikapnya yang tidak gentar terhadap kakak kelas yang menakutkan itu. Itu sudah pasti adalah salah satu sifat dasarnya.
“Kemari, Jimin. Aku akan memperkenalkanmu pada yang lainnya.” Taehyung menarik Jimin untuk mendekat.
“Seseorang tolong ingatkan aku mengapa aku setuju untuk berhubungan dengan anak gila ini?” si pemuda berambut merah menggeram sambil mengusap wajahnya.
“Kau telah menyetujui kegilaan ini ketika kau memintaku bergabung dengan kru. Taehyung tidak akan membiarkan siapa pun pergi sekali dia telah memutuskannya.” Siswa yang tidak asing untuk Jimin mengatakan dengan dalam kepada Suga. Dia adalah Kim Namjoon. Jimin mengenalnya, siswa yang pandai di kelas.
Suga menggeram sekali lagi. Itu membuat nyali Jimin semakin ciut. Dia berpikir dia datang tak diundang di tempat ini. Dia ingin segera keluar dari kekacauan ini tapi Taehyung memeganginya.
“Jangan takut pada Suga Hyung. Dia hanya terlihat kasar di luar, tapi di dalam dia sangat baik hati.”
“Kapan kau lihat aku berbaik hati padamu, Bocah?” Suga menyalak ke arah Taehyung.
“Ini Jin Hyung. Hyung, ini Park Jimin, teman sekelasku. Siswa pindahan baru.” Taehyung tidak merespons pertanyaan tersebut malahan memperkenalkan orang lainnya yang Jimin tidak sadari keberadaannya sejak awal. Dia duduk dengan diam di samping. Pemuda itu menatapnya, itu membuat Jimin kembali gentar.
Tidak apa-apa. Tidak ada yang salah, Park Jimin. Beranikan dirimu.
“Halo, aku Seokjin. Kau bisa memanggilku Jin.” Pemuda itu mengulurkan tangan pada Jimin. Dengan ragu-ragu Jimin menjabatnya.
“Ini Namjoon, kau mungkin sudah mengenalnya.” Jimin menunjuk pada siswa lain. “Tapi dia tidak mengenalmu. Dia itu anti sosial. Jadi, biarkan aku memperkenalkanmu padanya.”
Namjoon mengerang karena komentar tersebut tapi dia menatap Jimin, seperti dia sedang mempelajarinya.
“Dan yang terakhir, ini Suga Hyung.”
“Yoongi. Jangan panggil aku seperti itu di sekolah. Harus berapa kali aku bilang itu?”
“Baiklah, Min Yoongi Hyung. Suga adalah nama rappernya. Kau nge-rap juga? Suga Hyung sangat suka hip-hop.”
“Aku tidak bisa nge-rap.”
“Kalau begitu, apa kau bisa menari?” Taehyung sedang mengulangi alur pertanyaan Yoongi sebelumnya pada Jimin.
“Aku bisa menari.” Jimin terlihat ragu.
“Kau menulis lagu?”
“Huh?” Jimin merasa bingung dengan pertanyaan tersebut.
“Kalau begitu sangat bagus. Hyung, dia lebih baik daripada aku. Dia bisa menari. Dia juga punya suara yang bagus. Dia bisa bergabung dengan kru.” Taehyung berkata pada Yoongi.
“Apa aku memintamu untuk melakukan audisi? Di mana minuman dan camilan yang kuminta kau belikan?”
Taehyung menyengir lebar.
“Bocah ini memang gila. Aku bersumpah kalau dia merekrut orang aneh lainnya aku akan membunuhnya dengan tangan kosong,” Yoongi mengomel. Jin tertawa sebagai respons sementara Namjoon terlihat cuek.
“Itu berarti dia menerimamu, Jimin. Selamat datang di kru.” Taehyung mengedipkan mata pada Jimin kemudian mendekati Yoongi untuk memberikan kantong plastik yang berisi makanan dan minuman yang dia minta.
Jimin merasa bahwa dia baru saja menjejakkan kaki ke dalam sebuah dimensi dunia yang berbeda; pemuda pendiam yang lebih tua darinya, kakak kelas berambut merah, siswa terpandai di kelas, anak gila yang hiperaktif, dan dirinya. Kombinasi dari kelompok ini mungkin adalah sesuatu yang tidak terbayangkan oleh Jimin.
Apakah ini akan menjadi seperti “selamat datang di pertunjukan orang-orang aneh”?
Jimin berharap dia tidak akan punya masalah dengan anggota yang lainnya.
☆☆☆☆☆☆☆

Datang dan belajarlah dengan kami.
Ayo persiapkan masa depan.
Masa depanmu akan menjadi lebih cerah ketika kau belajar.
Jangan takut, kami akan membimbingmu.”

Samar terdengar sebuah lagu dari speaker yang tergantung di depan gedung. Gedung tersebut bertuliskan “Agensi Les Privat Hope” yang tertempel di jendela gedung.
Jungkook sedang berdiri di depan gedung tersebut di tengah malam. Menatap bangunan tiga lantai bercat keabu-abuan. Sesungguhnya itu adalah waktunya untuk murid-murid masuk ke dalam kelas. Ada beberapa murid yang berjalan memasuki gedung. Mereka berlarian kecil ke dalam gedung dengan cepat seakan tidak sabar lagi untuk memulai pelajaran segera. Hanya Jungkook yang tertinggal di depan gedung. Pemuda itu tidak terlihat memiliki keinginan untuk bergabung dengan kelompok tersebut. Malahan dia berputar dan mulai berjalan pergi dari sana.
“Kau datang lagi hari ini.” Hoseok menyapanya dengan senyuman ketika pemuda yang lebih muda itu berjalan memasuki mini market. Dia sedang menyusun produk-produk ke dalam rak masing-masing.
Jungkook mengernyit mendengar sapaan tersebut. Kalau saja pemuda yang lebih tua tersebut tahu bahwa Jungkook bolos dari kelas hagwon-nya. Apa dia akan mengomeli Jungkook untuk itu? Dia tidak akan mengusirnya keluar jika dia tahu, kan? Jungkook tidak punya tempat untuk pergi selain rumahnya. Dia tidak ingin pulang lebih awal. Ibunya akan bertanya mengapa dia pulang secepat ini.
“Apa aku mengganggumu bekerja, Hyung? Aku akan membantumu. Jangan usir aku.” Jungkook mengambil beberapa bungkus camilan dan menyusunnya di rak.
Hoseok menahan tangannya. “Tidak, tidak, kau tidak seharusnya membantuku. Ini adalah pekerjaanku. Manajerku akan memecatku jika dia tahu aku membuat pelanggan melakukan pekerjaan.”
“Tapi....”
“Kau boleh tinggal di sini selama yang kau inginkan tapi tolong beli sesuatu supaya manajerku tidak akan memarahiku karena ini. Sekarang, pergi duduk di mana pun kau inginkan dan biarkan aku melakukan pekerjaanku.”
“Oke, Hyung. Terima kasih.”
Dengan ragu Jungkook memutar kakinya ke arah salah satu meja bar di pojok toko. Dia mengambil beberapa camilan dan sebotol air mineral bersamanya setelah dia meletakkan beberapa uang kertas di meja kasir. Setelah meletakkan mereka ke atas meja, dia tidak menyentuhnya. Malahan, dia menarik keluar ponselnya dan melihat-lihat media sosialnya. Dia memainkan ponsel selama lima menit kemudian kembali merasa bosan. Kemudian, dia memutuskan untuk menyalakan musik dan mendengarnya melalui headphone merah miliknya. Tapi rasanya hari ini mendengarkan musik pun tidak membantunya untuk melewati malam. Hingga waktunya dia pulang, Jungkook tidak tahu apa yang harus dia lakukan.
Jungkook menyadari bahwa Hoseok sesekali melirik ke arahnya tapi pemuda yang lebih tua itu tidak mengatakan apa pun. Jungkook sangat menghargai hal tersebut. Dia tidak tahu apa yang harus dia katakan jika Hoseok bertanya padanya.
Apa dia kabur dari rumah? Tidak, dia tidak kabur.
Apa dia bolos dari kelasnya? Ya, dia melakukan itu.
Mengapa?
Mengapa... itu adalah pertanyaan yang Jungkook tidak pernah miliki jawaban terhadapnya. Dia tidak tahu mengapa dia harus belajar hingga hidungnya mimisan setiap kali dia melakukannya terlalu keras. Dia tidak mengerti alasan dia harus menghadiri beberapa pelajaran di luar pelajaran sekolah yang dia tidak minati. Apa yang menjadi alasan dari keberadaannya di dunia? Akhir-akhir ini dia merasakan kekosongan.
Oh, Jungkook memulainya lagi. Dia harus berhenti berpikir seperti ini tapi dia tidak dapat mengendalikannya. Pemikiran-pemikiran itu selalu menemukan jalan mereka kembali ke dalam benaknya setiap kali Jungkook berusaha membuangnya.
Sepanjang hidupnya, Jungkook hanya tahu bagaimana untuk belajar. Selain hal itu, dia tidak tahu. Apa lagi yang harus dia lakukan? Ibunya tidak membiarkannya bermain di luar. Bahkan untuk bermain di dalam rumah pun dibatasi dua jam sehari di akhir pekan. Dia masih cukup beruntung memiliki ponsel dan laptop untuk dia simpan sendiri.
“Kau akan jadi botak kalau berpikir terlalu banyak, kau tahu?” Tiba-tiba saja Hoseok memutuskan untuk memotong arus pikiran Jungkook. Dia muncul untuk berdiri di samping Jungkook.
Jungkook menatap pemuda tersebut. Dia tersenyum pada Jungkook, seakan tidak hal yang mengganggunya saat itu. Itu membuat Jungkook bertanya-tanya apakah pemuda lebih tua ini benar-benar tidak pernah merasa terusik oleh apa pun ataukah dia pernah merasakannya namun dia berhasil untuk mengusir pergi pemikiran buruk tersebut. Jika dia dapat melakukannya, bagaimana cara dia melakukannya? Jungkook sangat ingin mengetahuinya.
“Apa? Mengapa kau menatapku seperti itu?” Hoseok menyentuh wajah dengan sedikit horor.
Hyung, apa kau tahu apa yang kau ingin lakukan di masa depan? Apa kau punya mimpi?”
Hoseok terdiam untuk sesaat. Dia terlihat sedang memikirkan jawabannya. “Aku tidak terlalu suka bermimpi. Itu tidak nyata. Aku lebih suka mengatakan apa yang ingin kulakukan di masa depan sebuah tujuan hidup.”
Jungkook bergerak dari posisinya. Dia memberikan pemuda yang lebih tua itu perhatian lebih banyak. “Apa tujuan hidupmu?”
Hoseok menggaruk dagunya pelan. “Aku punya banyak. Pertama, aku ingin Howon menjadi manusia, bukan berarti aku bilang dia sekarang bukan manusia, tapi yah begitulah, kau tahu. Kedua, aku harap Hara dan Hani...”
“Hani?” Jungkook memotong.
“Adikku yang paling kecil. Dia masih dua tahun. Sampai mana aku? Oh, aku berharap Hara dan Hani dapat bertemu pria yang baik untuk menghabiskan hidup bersama. Kemudian, aku berharap Halmoni dapat hidup panjang jadi dia akan hidup bersama kami untuk waktu yang sangat lama. Orang tuaku, semoga mereka dapat pulang ke rumah lebih sering jadi mereka tidak akan melewatkan masa pertumbuhan Hani.”
Hyung, kau berbicara seperti pria tua.”
“Ya kah? Yeah, Howon sering bilang kalau aku lebih mirip ayahnya daripada kakak laki-laki.”
“Semua tujuan hidupmu adalah mengenai orang lain.”
“Aku tidak bisa mengelak darinya. Aku tumbuh besar di dalam keluarga besar dan aku adalah anak tertua. Kami tidak kaya. Setiap hari itu penuh perjuangan tapi ketika aku melihat makanan disajikan di atas meja kami, aku merasa sangat lega bahwa keluargaku punya sesuatu untuk dimakan.”
“Tidakkah kau punya tujuan hidupmu sendiri? Sebuah harapan untuk dirimu?” Jungkook tidak dapat memahami seorang altruis seperti Hoseok. Bagaimana bisa dia tidak memiliki sedikit pun keegoisan?
Hoseok berpikir sejenak. “Tentu saja aku punya.”
“Apa itu?” Jungkook sangat ingin mendengarnya.
“Menarik. Aku sangat ingin dapat menari sepuas hati.”
“Kalau begitu, apa kau ingin menjadi penari atau koreografer?”
Hoseok menyentuh alisnya. Dia terlihat ragu untuk sesaat. “Sesungguhnya aku tidak tahu. Aku hanya ingin menari. Aku tidak berpikir sejauh itu mengenainya.”
Jungkook tidak menanyakan pertanyaan lain. Dia malah terdiam.
“Hei, Jungkook. Kau tahu cara menari?”
“Aku? Menari?” Jungkook terlihat setengah geli. Bagaimana bisa dia, si siswa kutu buku, menari? Jika kau memintanya untuk menarikan tangannya di atas buku catatan untuk mencatat, maka kau akan mendapatkan jawaban ya.
“Kau mau belajar? Aku bisa mengajarimu. Kulihat kau menikmati mendengar musik sepanjang hari setiap kali kau datang ke sini. Kupikir kau pasti memiliki kepekaan terhadap ritme yang bagus.”
“Kau sungguh serius, Hyung?” Jungkook tidak terdengar terlalu yakin. “Tidakkah kau punya pekerjaan yang harus dilakukan? Apa kau punya waktu luang?”
“Tentu saja aku punya. Aku bukan robot. Aku juga butuh beberapa jam istirahat. Biasanya aku tidak bekerja setelah Sabtu siang. Aku mendedikasikan waktu itu untuk bersama adik-adikku. Sesekali aku juga akan mengajari Howon menari.”
“Tidakkah aku mengganggu waktu keluargamu?”
“Ayolah. Kau teman Howon dan orang yang ditaksir Hara. Mereka tidak akan mengatakan apa pun jika kau bergabung malahan mereka akan sangat senang.”
Jungkook merona ketika Hoseok mengatakan Jungkook adalah seseorang yang adik perempuannya sukai.
“Jadi? Jika kau setuju, kau bisa bergabung dengan kami Sabtu ini. Kita akan pergi ke Hongdae untuk berlatih di sana.”
“Kenapa Hongdae? Tidakkah di sana terlalu padat untuk berlatih? Itu juga Sabtu.”
“Tidak, itu latihan yang bagus. Kau tidak akan pernah belajar dari yang terbaik jika kau tidak ingin menunjukkannya pada orang-orang.” Hoseok mulai bergerak dari meja ketika dia melihat seorang pelanggan menantinya untuk menghitung barang yang ingin dia beli. “Sabtu siang. Jam tiga, kita bisa bertemu di depan gedung sekolahmu untuk naik bus dari sana.”
“Ba...iklah.” Jungkook tidak terlalu yakin.
“Kalau begitu, sekarang kau harus pulang. Ini sudah larut dan jangan bolos kelas lagi besok. Ibumu akan kecewa jika dia tahu dia membayar kelasmu dengan sia-sia. Kalau kau tidak mau, berhenti saja. Lebih baik menyimpan uang itu daripada membuangnya sia-siang.”
Hoseok mengetahuinya.
☆☆☆☆☆☆☆




Suka dengan cerita ini? Bisa lanjut baca di postingan dengan tag "Youth of Lily". Kalau nggak sabaran menanti terjemahan bisa langsung mampir ke sini untuk versi Inggrisnya. 

You Might Also Like

5 comments

  1. huaaaa.... kerreennn... nggak sabar nunggu lanjutannya. aku udah baca yang eng ver nya tapi nggak tau kenapa nggak terlalu dapet fell nya wkwk. di tunggu lanjutannya ka.. Hwaiting !!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kok malah kamu kebalik sih. Wkwkwkwk... biasa orang-orang malah bilang tulisan versi terjemahanku yang feelnya janggal, lebih suka versi inggrisnya.

      Delete
  2. wkwk... nggak tau juga haha... mungkin karna lebih menghayati kalau pake bahasa sendiri haha..
    mau nanya yang eng ver nya udah update lagi nggak ? hehe bener" nunggu updatean eng dan indo ver nya wkwk

    cepet update yah ka.. fighting !!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mungkin. Hehehe.

      Versi Inggris akan diupdate setelah terjemahan Demian kelar. Nggak bisa mikir kalau lagi nerjemahin gini.

      Kalau yang versi Indonesia, pelan-pelan nanti kuterjemahkan di sela-sela nerjemahin Demian.

      Delete
    2. oh... okay hehe... fighting ka..

      Delete

2016 Reading Challenge

2016 Reading Challenge
Deasy has read 2 books toward her goal of 30 books.
hide