[BTS Fan Fiction] Youth of Lily - First Run

10:23 AM






FIRST RUN
This is a ring called a classroom
This is a stadium with no referee only an audience
You know there will never be a victor
everyone will lose
There will be no victor everyone will lose


“YAH, KIM NAMJOON! Kalau kusuruh itu harusnya kau berterima kasih dan lakukan.” Sebuah tubuh terlempar ke atas lantai. Tiga sosok lain berjalan mendekat. Salah satu dari mereka memajukan tubuhnya dan meraih leher baju pemuda di atas lantai. “Kau cari mati?”
Di atas atap gedung sekolah, segerombolan pemuda berseragam SMA mengerubungi seseorang yang bertubuh lebih pendek dari mereka. Tepat di tengah. Layaknya seekor tikus yang terpojok. Namun sorot mata pemuda yang terkurung itu tidak terlihat gentar. Dia menatap balik salah satu pemuda yang terus-terusan memakinya sejak awal mereka menyeretnya ke tempat tersebut. Di sisi kiri dada pemuda itu tersemat papan nama bertuliskan Jung Rahoon.
“Itu ujian atas namamu, untuk apa aku mengerjakannya.“
Pemuda yang memaki itu mengeluarkan suara tawa pendek dengan mata melebar dan mulut terbuka. Dia mendekatkan wajah tepat di depan wajah pemuda bermata sipit yang menjadi lawannya. “Bukannya kita ini teman? Teman seharusnya saling membantu. Ibumu tidak pernah mengajarimu? Ah, aku lupa. Kau kan tidak punya ibu ataupun ayah.”
Para pengikut pemuda itu sontak menertawakan perkataan yang mereka anggap lelucon, namun Namjoon tidak menunjukkan reaksi sama sekali.
“Whoa, anak ini benar-benar ingin mati sepertinya.” Pemuda itu mengayunkan tinjunya dengan cepat ke arah Namjoon, berulang kali. Membuat pemuda tersebut terkapar dengan bibir sedikit robek di ujung dan berdarah.
“Kau sudah puas?” Seakan kejadian tadi tidak melukainya sama sekali, Namjoon segera bangkit dan menatap Rahoon dengan pandangan yang sama.
Amarah pemuda itu semakin naik dengan reaksi seperti itu. Dia menaikkan kembali tinjunya. Namun tertahan oleh sebuah seruan dari arah pintu.
Annyeonghaseyo, Park Sem!”
Rahoon berusaha untuk tidak mengacuhkan seruan yang merupakan jebakan itu. Dia tahu itu pasti hanyalah sebuah tipuan. Namun seruan itu tidak berhenti.
“Anda sedang patroli ya?”
Kroni dari Rahoon mulai gelisah mendengar suara langkah kaki yang semakin mendekat. Samar terdengar pula ketukan benda ke lantai, seperti kebiasaan guru BP mereka.
“Rahoon ya, sepertinya sungguhan Park Sem datang. Kau akan dalam masalah kalau....”
Rahoon mengangkat tangannya sekali lagi hanya untuk kembali tertahan. Dengan kesal dia menghempaskan lengannya turun dan merampas leher baju Namjoon sekali lagi. “Kau beruntung kali ini. Lain kali tidak akan seperti ini.”
Setelah mengatakan hal itu dia melepaskan Namjoon dan memutar tubuh ke arah pintu. “Kita lihat siapa si Brengsek yang berani ikut campur.”
Setelah kepergian mereka, Namjoon segera terduduk di lantai. Tubuhnya sedikit gemetar tapi dia berusaha menghentikannya. Pemuda itu terlihat menghela napas lega namun tidak berlangsung lama. Sebuah suara tepuk tangan dan suara tawa pelan terdengar. Pertahanan Namjoon kembali. Dia mengawasi pintu masuk ke atap, tempat datangnya suara tepukan itu.
Sesosok pemuda berambut merah menyala muncul dengan cengiran lebar di wajahnya.
“Ternyata keputusanku untuk mengelabui mereka tidak salah. Kau terlihat sebentar lagi akan pingsan.” Pemuda itu berkacak pinggang dan menyandar di dekat pintu. “Butuh bantuan untuk ke UKS?”
“Siapa kau?” Namjoon mengawasi pemuda berambut merah itu dengan awas. Dia tidak ingin terlibat dalam masalah lain. Dan pemuda di hadapannya ini tidak tampak seperti siswa yang baik-baik jika melihat seragamnya yang dikenakan secara berantakan. Warna rambutnya terlihat sangat kontras dengan warna kulitnya yang pucat, namun justru hal tersebut membuat siswa tersebut terlihat semakin agresif meskipun sikapnya saat ini terlihat easy going.
Pemuda itu mendekat. Namjoon segera berdiri untuk mempertahankan diri.
“Yoongi. Min Yoongi. Dan kau?” Dia menjulurkan tangannya untuk bersalaman ketika berhenti tepat di depan Namjoon. Dia melirik papan nama yang tersemat pada bagian dada kiri seragam Namjoon. “Ah, Kim Namjoon. Aku tahu kau. Siswa peringkat pertama ujian masuk tahun ini. Kau sangat pandai, ya?”
Namjoon mendengus dan mulai memunguti buku-bukunya yang berserakan di lantai. Beberapa buku terlihat cukup buruk dengan jejak sepatu dan robek di sana-sini. Itu membuat Namjoon menghela napas. Dia tidak mungkin membeli buku baru lagi untuk mengganti buku-buku yang rusak. Ini kali kedua bulan ini. Uangnya tidak akan cukup untuk makan jika dia melakukannya. Itu artinya dia harus memaksa diri meminjam dan mengingat seluruh isi buku-buku yang rusak ini. Pekerjaan yang melelahkan untuknya.
Namjoon tidak menghiraukan Yoongi yang melakukan sesuatu di sampingnya. Selama itu tidak mengganggu ketenangan hidupnya. Namun pemuda aneh itu tiba-tiba saja berseru, “Whoa, kau menulis lirik lagu juga?”
Namjoon menyadari apa yang pemuda itu lakukan. Yoongi memegang buku rahasianya.  Namjoon segera menyambar buku tersebut di tangan Yoongi dengan cepat. Membuat pemuda itu tampak kehilangan kata-kata namun hanya untuk beberapa detik.
“Aku tidak bisa menulis lirik lagu,” ujar Namjoon gusar sambil mempercepat gerakan tangannya untuk memasukkan semua barangnya ke dalam tas.
“Jadi tadi itu apa?” Yoongi seakan tidak menyadari keengganan Namjoon untuk membahas apa yang dia tulis dalam buku yang penuh dengan coretan-coretan tulisan tangannya.
Namjoon berusaha tidak menjawab ucapan Yoongi. Terus berjalan hingga pemuda itu menyerah mengikutinya. Dia tidak ingin siapa pun mengetahui hal ini. Dia tidak ingin membahasnya. Untuknya hal ini adalah satu-satunya pelarian. Sesuatu yang membuat pikirannya berada pada tempat yang semestinya. Menjaga agar dia tetap waras.
Dia sungguh ceroboh hari ini dengan membawa buku tersebut ke sekolah. Jika buku itu jatuh ke tangan Rahoon tadi, maka habislah riwayatnya. Ini semua karena dia ingin menunjukkannya pada seseorang.
Ya, Kim Namjoon!” Seseorang menahan pundaknya dan membuatnya berhenti berjalan. “Siapa yang mengejarmu? Kau jalan seperti sedang dikejar setan.”
Pemuda berwajah tampan dengan bibir yang berbentuk sedikit kotak saat tertawa menatap Namjoon geli ketika pemuda itu berbalik menghadapnya. Namjoon melongok ke belakang pemuda itu untuk mengecek apakah Yoongi masih mengikutinya. Namun dia tidak melihat pemuda berambut merah dan berkulit seputih salju itu. Namjoon pun menghela napas lega.
“Hanya seseorang berambut merah yang sedikit gila.” Namjoon menggelengkan kepala. Ketika melongok ke atas, Namjoon menyadari bahwa tempatnya berhenti adalah ruang kelasnya, 1-3. Dia pun berjalan masuk.
“Rambut merah? Memangnya di sini boleh mewarnai rambut? Kalau begitu aku juga mau mencobanya.” Pemuda itu duduk di samping Namjoon. Tampak begitu bersemangat memikirkan warna apa yang harus dipilih untuk rambutnya.
“Kim Taehyung, jangan sembarangan. Nanti kau akan ditandai oleh guru BP kalau bertingkah.”
“Tapi, kan, keren.”
Pemuda yang dipanggil Taehyung oleh Namjoon itu menjulurkan lidah ke arahnya. Sedikit kekanakan dan sulit diatur seperti biasa, itulah yang dipikirkan Namjoon mengenai teman sebangkunya. Namun dia hanya menggelengkan kepala sambil mengeluarkan buku catatan yang masih baik kondisinya.
"Aku pinjam buku sejarahmu."
Taehyung menaikkan alis matanya separuh mendengar permintaan siswa teladan yang tidak biasa. "Kau lupa bawa buku pelajaran? Tidak biasanya." Dia mengeluarkan sebuah buku yang masih sangat baik kondisinya, seperti baru. Tentu saja, sejarah bukan mata pelajaran kesukaannya, sama halnya seperti mata pelajaran yang lain.
"Tadinya bawa. Sekarang sudah tidak."
"Apa?" Seruan Taehyung nyaris menarik seluruh perhatian orang-orang di kelas. Dia segera menutup mulutnya dan melirik ke kanan dan kiri sebelum berbicara lagi. "Rahoon mengganggumu lagi? Kali ini bukumu yang jadi sasaran?"
Namjoon hanya mengendikan bahunya tak acuh dan mulai melahap buku Taehyung,
"Kau harusnya melaporkan itu ke Park Sem. Ini tidak bisa dibiarkan begitu saja."
Namjoon tidak mengacuhkan saran Taehyung. Dia tahu betul melapor tidak akan menyelesaikan masalah antaranya dan Rahoon. Itu hanya akan semakin mengeruhkan masalah saja. Orang dewasa seperti biasa akan mengira bahwa mereka bertengkar seperti dua anak kecil yang berebut mainan dan akan segera berbaikan beberapa menit kemudian. Mereka tidak pernah menganggap penting masalah Namjoon.
Penindasan Rahoon padanya telah dimulai sejak mereka satu sekolah di tingkat SMP. Namjoon pun tidak paham apa kesalahannya sejak awal hingga menjadi target penindasan Rahoon. Apakah karena dia terlalu pandai? Atau karena dia tidak punya orang tua? Itu kan dua hal yang tidak dapat dia ubah lagi.
Namjoon telah memutuskan untuk tidak ambil pusing dengan masalah Rahoon. Dia hidup bukan untuk bergantung pada pendapat orang lain terhadapnya.
☆☆☆☆☆☆☆

Yoongi masuk ke dalam kelas sambil sesekali terkekeh dan menggeleng. Dia masih memikirkan pertemuannya dengan siswa terpandai yang menjadi adik kelasnya mulai tahun ini.  Tidak habis pikir bahwa ternyata siswa terpandai pun memiliki hobi yang di luar dugaan. Dia mengira bahwa tipe siswa seperti Namjoon hanya akan peduli pada belajar keras untuk mencapai kesempurnaan nilai. Namun Yoongi harus mengakuinya, tulisan Namjoon yang sempat dia lihat tidaklah buruk, bahkan bisa dikatakan cukup baik. Yah, Yoongi bisa menilai itu. Dia punya pengalaman.
"Apa yang kau tertawakan?" Seorang pemuda bermata lebar dan bulat bak sepasang mata rusa betina menghadang Yoongi tepat sebelum pemuda itu sampai di kursi mejanya.
"Hei, Jin." Yoongi duduk di kursinya. "Aku tadi bertemu dengan siswa yang tahun ini memberi kata pengantar luar biasa di acara pembukaan tahun."
"Maksudmu Kim Namjoon? Anak kelas satu yang katanya punya nilai nyaris sempurna di ujian masuk?"
Yoongi mengangguk ringan. "Yep. Anak itu memang menarik. Unik. Kau tahu? Dia bisa menulis lirik lagu."
Jin tidak menangkap apa yang Yoongi bahas di sini, namun ingatan Jin tentang hari pertama masuk sekolah tahun ini masih segar. Tentu saja. Kenangan itu sangat melekat. Ini pertama kalinya dia mendapat hukuman tercepat dalam tahun belajarnya. Hari pertama sekolah. Semua karena seorang pemuda berambut merah yang tertawa keras mendengar pidato pembukaan yang anak baru itu. Pidato yang membuat seluruh siswa dan guru termangu karena tidak paham dengan apa yang Namjoon ucapkan. Tawa Yoongi yang menggelegar dan suara Jin yang berusaha menghentikan teman masa kecilnya menarik perhatian Park Sem seketika. Park Sem adalah guru BP mereka yang sangat suka menandai siswa yang senang membuat masalah dan karena teman berambut merahnya satu ini, kini Jin masuk ke dalam daftar tersebut. Jin harus membersihkan toilet kamar mandi pria selama seminggu sebagai hukuman telah mengacaukan upacara pembukaan ajaran baru. Bersama Yoongi. Tapi pemuda yang satu ini selicik rubah, dia kabur dari masalah dan menyebabkan Jin harus menyelesaikannya sendiri.
"Jin, kau dengar aku?"
Jin memutar matanya. Suara Yoongi dan kebisingan di kelas mendadak seakan dilenyapkan dengan masuknya seorang siswi berambut panjang yang amat dia kenali. Layaknya sebuah film hitam putih dengan satu titik yang berwarna, pandangan Jin terarah kepadanya, Yun Sohee, gadis yang telah dia kenal semenjak kecil.
"Sohee ya!" Tanpa memedulikan Yoongi yang menginginkan perhatiannya, Jin meluncur dari tempat duduk untuk berada di sisi gadis itu.
“Di mana kau pagi ini? Aku menantimu untuk berangkat sekolah bersama.” Mereka juga kebetulan adalah tetangga. Rumah Jin dan Sohee berada di gedung yang sama.
Gadis itu mendecakkan lidah. “Kenapa aku harus berangkat ke sekolah denganmu? Kita bukan anak kecil lagi.”
“Tapi ....” Sebelum Jin dapat mengatakan hal lain Sohee berjalan pergi darinya. dia setengah berlari ke arah Yoongi yang duduk di kursi paling belakang dalam kelas.
“Yoongi ....” Ekspresi wajahnya berubah 180 derajat ketika memanggil nama tersebut namun pemuda berambut merah itu tidak terlihat menyukainya. Dia terlihat sangat bosan dan tidak ingin memedulikan penampilan sosok cantik di samping mejanya.
“Pergilah, Sohee. Aku tidak ada mood untuk meladenimu.”
Ekspresi wajah Jin berubah masam ketika dia mengawasi interaksi tersebut. Bukan hal yang baru.
☆☆☆☆☆☆☆

Enjoy the story? Search the other chapter under youth of lily tag

You Might Also Like

11 comments

  1. wahhh... keren banget ceritanya....

    ReplyDelete
  2. Share di wattap please 😭 disini sedikit bingung cari kelanjutan nya 😢

    ReplyDelete
  3. Share di wattap please 😭 disini sedikit bingung cari kelanjutan nya 😢

    ReplyDelete
    Replies
    1. Di wattpad juga ada kok. Sampai chapter 4. Kalau di sini sudah sampai chapter 8. Tinggal cari saja di bawah tag youth of lily.

      http://my.w.tt/UiNb/mwSBsIxXix (Wattpad)
      http://www.decemberdaisy.net/search/label/youth%20of%20lily (di blog ini)

      Delete
  4. Hai min aku pembaca baru
    Min, aku suka sama masing2 karakter dan masing2 masalah yg mereka punya

    Sama karakter mereka yg sebenernya peduli satu sama lain, sama mereka yg mampu menerima satu sama lain dari masing2 karakter berbeda dan unik

    Konflik mereka jg hampir sama yaitu tentang ketakutan masa sekolah . Ini menginggatkan sama kata-kata temen aku bahwa masa SMA itu lg masa2 mencari jati diri

    Aku harap mereka bisa menyelesaikan masalah yg ada dengan menolong satu sama lain iya walau pasti mereka tidak mau menyelesaikan masalah mereka dengan merepotkan satu sama lain

    Ditunggu chapt selanjutnya min

    ReplyDelete
  5. Kakaaaakk kok aku jadi nyasar kesini, haha. Tapi aku gak nyesel, aku suka ceritanya! Cerita ini belum tamat ya? Aku lihat di archive, chapternya banyak. Karena aku gak kuat baca di monitor, aku minta ijin buat di print boleh? Bukan buat disebarluaskan kok. :)
    Kayaknya aku bakal mampir kesini terus setelah kemarin "ditarik" sama Demian, hehe.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, ada 22 chapter.

      Bentar lagi juga tamat. Bisa dilihat di wattpad juga.
      http://my.w.tt/UiNb/mwSBsIxXix

      Kalau mau print boleh asal buat sendiri aja. :)

      Hahaha silahkan mampir. Nggak ada makanan dan minuman sih buat disuguhkan. :')

      Delete
    2. Wah iya tinggal dikit lagi, sip kalau gitu. Aku gak mau dibikin penasaran lama-lama soalnya, hehe. Jadi mau lanjutin baca kalau udah agak banyak, kan kerasa kayak baca buku :")

      Siap! Hak cipta terjaga, Kak. Aku dulu suka nulis FF juga sih, sebelum akhirnya hibernasi(?). Jadi excited sendiri pas nemu FF kakak.

      Hahaha tenang kak, aku sering bawa cemilan sendiri kok. #tahubulat XD

      Delete
    3. Hahaha... Lanjutinlah nulis lagi.

      Aku juga jarang-jarang sih nulis FF. Kalau mood aja.

      Tahu bulat... awas batuk kalau kebanyakan.

      Delete

2016 Reading Challenge

2016 Reading Challenge
Deasy has read 2 books toward her goal of 30 books.
hide