[BTS Fan Fiction] Youth of Lily - Fourth Run

10:17 PM




FOURTH RUN
Just one day, if I can be with you
Just one day, if I can hold your hands
Just one day, if I can be with you
Just one day


Yimo, ibuku bilang kepiting saus kecap yang Yimo bagi kemarin rasanya sangat lezat. Ibu ingin tahu apa dia boleh menanyakan resepnya pada Yimo.”
“Tentu saja, kapan saja dia boleh tanyakan.”
Jin sedang berjalan masuk ke dalam rumahnya ketika dia mendengar suara-suara yang familiar untuknya sedang berbicara. Salah satunya adalah suara ibunya dan suara lainnya adalah Sohee, Jin mengenali para pemilik suara tersebut. Jin tidak terburu-buru untuk masuk ke dalam rumah ketika dia mengetahuinya. Malah dengan tenang dia melepaskan sepatunya. Jin sudah terbiasa dengan Sohee yang keluar masuk di dalam rumahnya sejak mereka kecil. Orang tua Sohee bekerja hingga larut malam. Mereka sering kali menitipkan Sohee kepada ibu Jin hingga mereka pulang ke rumah. Ibu Jin adalah ibu rumah tangga.
“Kunci memasak kepiting saus kecap adalah kau harus membeli kepiting yang masih hidup dua jam sebelumnya. Simpan di kulkas pendingin hingga waktunya memasak. Dengan begitu kau akan mendapatkan daging kepiting yang segar. Rasanya akan lebih lezat daripada kau memasak dengan kepiting yang sudah kau beli beberapa waktu sebelumnya. Kepiting saus kecap akan sempurna untuk dimakan setelah kau menyimpannya 3-4 hari setelah memasaknya.”
Jin melihat ibunya sedang berbincang dengan Sohee di meja makan. Sepertinya malam itu Sohee lagi-lagi makan malam di rumah Jin.
“Aku sudah pulang.” Jin menyapa ibunya.
“Oh, Jin! Kau pulang terlambat malam ini. Sudah makan?” Ibu Jin berdiri dari kursi.
“Aku sudah makan dengan Yoongi sebelum pulang.” Jin meletakkan tas punggung di salah satu kursi sebelum berjalan ke kulkas untuk meraih minuman.
“Ya sudah. Tapi kalau kau masih ingin makan, ada makanan sisa di dalam kulkas. Ayahmu mungkin tidak akan makan juga. Dia kerja hingga larut juga hari ini.”
Jin mengangguk setelah menyesap minuman dinginnya. Setelah meletakkan kembali botol air ke dalam kulkas, Jin bergerak menuju kamar tidurnya. Ketika itu terjadi, Jin menyadari Sohee mengekorinya.
“Apa yang kau butuhkan dariku?” Jin bertanya setelah menaruh tas punggung di atas meja belajar.
Sohee menutup pintu di belakangnya.
“Aku lihat kau dan Yoongi bersama dua murid kelas satu setelah sekolah hari ini. Apa yang kalian lakukan dengan mereka?”
“Ini mengenai aku atau Yoongi kah yang ingin kau ketahui?” Jin melipat lengannya.
“Tentu saja mengenai Yoongi. Ngapain aku mau tahu urusanmu.” Gadis itu menepis rambut panjangnya ke belakang.
Sesaat Jin terlihat terluka oleh komentar tersebut namun dia segera menyimpan ekspresi wajahnya.
“Yoongi ingin membentuk kru dengan mereka.” Jin memutar tubuhnya untuk mengeluarkan beberapa buku dari dalam tas. “Bisa keluar dari kamarku? Aku mau ganti baju.”
“Kenapa Yoongi membuat kru lain? Bukannya dia sudah bergabung dengan satu kru?” Sohee tidak mengindahkan permintaan tersebut.
“Dia berantem dengan mereka dan memutuskan untuk keluar. Bisa nggak kau keluar dari kamarku? Aku sudah lelah hari ini.” Jin memutar tubuh Sohee dan mendorongnya ke arah pintu.
“Kenapa Yoongi memilih dua anak itu? Dia kan sangat pemilih soal bekerja dengan siapa.” Sohee masih berbicara ketika Jin mendorongnya keluar.
Jin tidak menjawab pertanyaan tersebut. Ketika dia baru saja beberapa langkah pergi dari pintu, Sohee kembali membuka pintu dan melongok masuk.
“Tadi kau dan Yoongi makan apa sebelum pulang?”
Jin kehilangan kata-kata ketika mendengar pertanyaan tersebut. “Kenapa kau tidak tanya sendiri ke Yoongi?” Ketika Jin hendak menutup pintu kamarnya lagi, Sohee bertahan dengan keras kepala. “Kau mau menyaksikan aku ganti baju?”
Jin membiarkan pintu terbuka dan mulai melepaskan blazernya.
Kali ini Soheelah yang terpaku untuk sesaat sebelum dia buru-buru menutup pintu kamar.
“Kayak Yoongi akan jawab saja kalau aku yang tanya.”
Jin tidak bereaksi. Ini bukan sehari dua hari Sohee menanyakan mengenai Yoongi padanya. Hal ini sudah berlangsung semenjak awal tahun SMA mereka. Terjadi begitu saja. Suatu hari Sohee tiba-tiba saja menjadi sangat tertarik mengenai Yoongi. Padahal sebelumnya dia selalu mengeluhkan Yoongi yang bersikap kejam padanya setiap kali Jin bermain dengan pemuda itu. Yoongi sering berbicara dengan serampangan kepada Sohee sejak mereka kecil. Yoongi bisa menjadi sangat kejam kepada seseorang yang dia tidak minati. Tapi, kebanyakan memang Yoongi tidak peduli dengan orang-orang. Dia hanya peduli pada dirinya sendiri.
Bahkan Jin tidak dapat memutuskan apakah masuk ke dalam lingkaran pertemanan pemuda itu berarti baik atau buruk. Yang Jin pahami hanyalah dia sering kali terlibat dalam masalah karena sikap Yoongi. Suatu hari beberapa pelajar dari sekolah tetangga mencegatnya di dekat gang buntu untuk sebuah “percakapan”. Di hari yang lain seorang kakak kelas memperingatkan Jin untuk berhati-hati kalau bertemu dengannya lagi. Dan, tahun ini, Jin berhasil masuk ke dalam daftar murid nakal milik Park Sem. Sungguh betapa hebatnya hidup dan teman yang Jin miliki ini.
☆☆☆☆☆☆☆

“Apa yang akan kita lakukan dengan Suga Hyung dan Jin Hyung hari ini?” Taehyung  memulai percakapan dengan Namjoon setelah bel pelajaran berakhir berbunyi.
Namjoon tidak menjawab dan Taehyung masih saja berbicara.
“Apa kau tidak bersemangat mengenai ide kru ini?”
“Tidak terlalu.”
Namjoon telah menyelesaikan mengepak barang-barang miliknya dari atas meja sementara Taehyung telah menyelesaikannya lebih dahulu dari Namjoon. Dia tidak memiliki banyak barang di atas meja. Dia bahkan tidak menyimak pelajaran sejak pagi. Yang Taehyung lakukan hanyalah mencoret-coret di atas buku catatannya dengan pena. Pemuda itu selalu melakukannya hampir setiap saat. Guru-guru tidak pernah memperhatikan Taehyung karena aktivitas itu membuatnya terlihat seperti sedang mencatat pelajaran. Selain itu, dia juga duduk di samping siswa terpandai di antara murid kelas satu.
“Tidakkah kita harus mulai memikirkan nama kru kita? Semalam aku nonton SMTM 5 sebelum tidur. Rapper-rapper itu punya nama panggung yang aneh-aneh. Apa aku harus membuat satu juga untukku?” Taehyung mengikuti Namjoon yang berdiri dari kursi. Dia mengekori ketat pemuda tersebut dan terus saja mengganggunya dengan obrolannya. Taehyung tidak memperhatikan arah jalannya hingga dia menyebabkan masalah. Taehyung menabrak pelajar lain ketika dia sedang hendak keluar dari pintu.
“Ouch!” Pelajar itu mengerang sakit ketika dia terjengkang ke depan dan berakhir di atas lantai. Taehyung segera mengulurkan tangan dan meminta maaf.
“Maaf, aku tida....”
Pelajar itu menampik uluran tangan tersebut dan berdiri dengan usaha sendiri. Dia melarikan diri sebelum Taehyung dapat mengucapkan hal lain.
Taehyung terlihat sangat terkejut untuk sesaat karena sikap aneh pelajar tersebut.
“Kau lihat itu? Kau lihat itu? Dia Park Jimin. Dia itu anak aneh yang kuceritakan padamu. Apak aku terlihat seperti punya penyakit menular? Dia memperlakukanku seperti itu.” Taehyung memulai racauannya lagi.
Namjoon memutar matanya menanggapi hal itu dan kembali berjalan.
“Apa masalahnya sebenarnya? Apa kau rasa dia lebih anti sosial daripada kau?” Namjoon meliriknya tajam atas pertanyaan tersebut, tetapi pemuda tersebut tidak menyadarinya. “Itu sangat buruk. Ini kan SMA, terlebih lagi ini tahun pertama kita. Kita harus menikmatinya selagi bisa.”
Namjoon tidak mengatakan satu hal pun pada Taehyung. Interaksi yang terjadi di antara mereka selalu seperti itu. Selalu saja Taehyung yang melakukan pembicaraan sementara Namjoon hanya mendengarkannya lewat sebelah telinga dan percakapan itu keluar lagi dari telinga yang lain. Tapi, sesekali Namjoon akan mengatakan sesuatu jika dia merasa hal itu diperlukan.
“Namjoon! Kau dengar aku kan?”
“Apa?”
“Haruskah kita ajak Jimin untuk bergabung dengan kru? Kurasa itu akan menyenangkan untuknya. Kita bisa memiliki anggota lebih banyak. Semakin banyak semakin menyenangkan.”
“Tidakkah kau harus bertanya pada Yoongi Hyung terlebih dahulu? Kurasa dia tidak akan setuju kalau kau menambahkan satu lagi anggota yang tidak biasa ke dalam kru.”
“Kau benar. Aku akan bertanya padanya saat bertemu.”
“Bahkan jika dia mengizinkannya, itu tidak berarti si Jimin ini akan setuju untuk bergabung. Seperti yang kau katakan, dia menghindari orang-orang. Itu artinya dia tidak ingin orang-orang memperhatikannya.”
“Kenapa dia tidak menyukai perhatian? Pada satu titik pasti setiap orang menginginkan perhatian. Sejumlah perhatian yang wajar pasti diidamkan, seperti sebuah pengakuan.”
“Dia bukan kau. Tidak semua orang merasakan hal yang sama denganmu.”
“Kenapa?” Sekali lagi Taehyung menanyakan hal yang sama.
Namjoon hanya mendesah. Percakapan ini tidak akan menuju mana pun jika dibicarakan dengan Taehyung. Pemuda itu tidak akan pernah memahami bahwa setiap orang bisa jadi sangat berbeda darinya. Tapi, yah, dia juga tidak pernah menyadari bahwa Namjoon tidak ingin diganggu sejak hari pertama mereka duduk bersebelahan. Taehyung akan menyusup masuk ke dalam zona personal Namjoon setiap kali ia dapat lakukan hal itu. Namjoon pun yakin bahwa Taehyung akan lakukan hal yang sama kepada Park Jimin.
“Suga Hyung! Jin Hyung.” Tiba-tiba saja Taehyung berteriak dan melambaikan tangannya dengan heboh ke arah dua sosok yang berdiri sekitar 200 meter dari mereka. Keduanya baru saja keluar dari ruang kelas, mungkin itu adalah kelas mereka.
Jin melambaikan tangan balik sedangkan Yoongi tidak mengacuhkan lambaian tangan tersebut. Ia malah berjalan ke arah Namjoon.
Hyung! Aku sudah memikirkan beberapa nama untuk kru kita. Kau mau mendengarnya?” Taehyung mengatakannya dengan bersemangat ketika Yoongi telah sampai di hadapan mereka, yang diikuti Jin pula.
“Nanti saja.” Yoongi menjawab singkat kemudian memindahkan perhatian ke arah Namjoon. “Apa aku boleh melihat buku catatanmu lagi? Yang kapan itu isinya lirik-lirik tulisanmu.”
Taehyung tidak terlihat tersinggung dengan sikap tersebut, malahan dia pindah bercakap-cakap dengan Jin yang terlihat kewalahan mengikuti alur percakapannya.
“Tidak.” Namjoon menunjukkan ekspresi wajah yang kaku. Memangnya dia pikir dia siapa? Beraninya menanyakan hal yang penting dari Namjoon. Buku itu lebih penting daripada buku apa pun yang Namjoon miliki, bahkan dari hal apa pun lainnya.
“Baiklah, aku sudah tahu itu. Kau punya waktu? Aku ada beat untuk kau dengarkan. Mungkin kau bisa terinspirasi dengannya. Aku butuh seseorang untuk berdiskusi.”
“Main setelah sekolah? Call, aku ikut! Ke mana kita akan pergi, Hyung? Ke rumahmu?” Taehyung menyela pembicaraan Yoongi dan Namjoon sekali lagi.
Sungguh, sesekali Namjoon berpikir bahwa Taehyung itu seperti seorang murid sekolah dasar daripada murid SMA. Dia tidak tahu dari mana Taehyung mendapatkan sumber energinya untuk selalu hiperaktif setiap saat.
“Permisi, bisakah kalian tidak menghalangi pintu? Aku harus keluar.” Seorang pelajar dari arah belakang Namjoon menyela pembicaraan mereka. Dia terlihat sangat terburu-buru setelah beberapa kali mencoba untuk menyusup keluar. Ini adalah waktunya pulang sekolah. Sebagian besar murid di kelas itu memenuhi pintu kelas dan di pintu lain ada empat pelajar yang menghalangi pintu dengan berdiri terlalu lama di depannya.
Namjoon segera berpindah ke samping, diikuti oleh Yoongi, Taehyung, dan Jin. Mereka membuka jalan seperti yang laut merah lakukan untuk Musa. Pelajar itu segera berjalan keluar dari kelas seperti seseorang baru saja membakar api di bawah kakinya.
“Hoseok selalu tergesa-gesa seusai sekolah. Kalau bukan karena waktu kerja paruh waktunya sudah dekat, itu pasti karena adik-adiknya dalam masalah.” Jin mengatakannya ketika mereka memperhatikan pelajar itu berlari.
Dia menjelaskan hal tersebut tidak kepada siapa pun. Namjoon dan Yoongi tidak terlalu memperhatikan informasi tersebut, hanya Taehyunglah yang terlihat sedikit janggal. Dia menatap ke arah pelajar itu pergi hampir seperti tatapan merindu namun Namjoon cukup yakin bahwa Taehyung tidak mengenal si Hoseok ini. Taehyung pun tidak punya saudara. Dia adalah anak satu-satunya.
☆☆☆☆☆☆☆
“Saya datang. Di mana dia, Sonsaengnim?” Hoseok tersengal-sengal setelah berlari dari gedung SMA ke gedung SMP.
Di ruangan tersebut ada seorang guru wanita berambut pendek bob dengan kacamata berbingkai hitam yang duduk di salah satu kursi sementara ada dua siswa lain yang sedang berlutut di lantai dengan kedua tangan terangkat. Salah satu dari siswa itu adalah Howon, adik laki-lakinya dan Hoseok tidak mengenal siswa yang satunya. Pemuda yang satu itu terlihat sangat tampan meskipun wajahnya penuh dengan luka dan lembap. Hoseok menangkap aura tak acuh darinya ketika mata mereka bertatapan.
“Apa yang dia lakukan kali ini, Sonsaengnim?” Hoseok berjalan ke arah sang guru terlebih dahulu.
“Mereka ketahuan sedang berkelahi.”
“Sungguh? Oh, tidak. Saya minta maaf atas apa yang terjadi, Sonsaengnim.”
“Ini sudah ketiga kalinya untuk Jung Howon Haksaeng terlibat dalam perkelahian. Kau harus melaporkannya pada orang tuamu supaya mereka mendisiplinkannya. Mau jadi apa dia kalau terus-terusan berkelahi? Preman?”
Hoseok mengernyit mendengar omelan dari guru tersebut namun dia tidak mengatakan apa pun untuk menanggapinya. Dia malah melirik ke arah adik laki-lakinya untuk melihat apakah adiknya terluka di suatu tempat. Hoseok sudah terbiasa dengan omelan mengenai kelakuan buruk adik laki-lakinya. Dia tidak terlalu mengambil hati mengenainya. Guru tersebut tidak mengenal adik laki-lakinya. Hoseok mengenalnya. Dia tahu bahwa adik laki-lakinya tidak akan berkelahi untuk hal yang tidak penting menurutnya.
Orang dewasa hanya akan melihat kulit luar dari suatu masalah ketika hal tersebut terjadi pada seorang anak. Mereka hanya akan berpikir bahwa anak tersebut berkelahi atau melakukan hal yang buruk karena mereka memang buruk. Orang dewasa tidak akan membuang waktu untuk mencari tahu alasan sesungguhnya. Mereka menghakimi secepat melihatnya, seperti mereka tidak pernah berada dalam posisi seorang murid tersebut.
“Saya sungguh minta maaf, Sonsaengnim. Saya akan memastikan Howon tidak akan melakukannya lagi. Apa dia mendapat hukuman?”
“Dia harus membersihkan toilet selama seminggu dengan Jeon Jungkook Haksaeng. Kuharap mereka bisa belajar untuk berteman dengan begitu.” Guru tersebut menutup file kerjanya sambil membereskan barang-barangnya. Jam kerja sudah berakhir sejak sejam setengah yang lalu. Dia terlihat sangat ingin segera menyelesaikan masalah dan pulang.
“Saya akan membuat mereka paham dengan hal itu. Terima kasih, Sonsaengnim. Apakah Anda akan pergi sekarang? Orang tua dari anak ini tidak akan datangkah?”
Guru tersebut memandangi pemuda berwajah tampan di sebelah Howon. “Ini adalah pertama kalinya dia berkelahi di sekolah dan dia sudah berjanji tidak akan terlibat dalam masalah lain kalau aku tidak memanggil ibunya.”
“Baiklah kalau begitu. Hati-hati di jalan. Maaf atas masalah yang Howon timbulkan.”
Guru tersebut mengucapkan perpisahan kepada mereka dan meninggalkan ketiganya sendiri. Hoseok menatap ke arah kedua pemuda SMP yang masih berada dalam posisi yang sama.
“Kalian sudah boleh berdiri loh. Gurunya sudah pergi.”
Karena dia telah terbiasa dengan reaksi dari kakak laki-lakinya untuk mengatasi masalahnya, Howon segera berdiri bahkan sebelum Hoseok selesai dengan kalimatnya. Sementara itu, pemuda yang lain berdiri secara perlahan dalam diam seakan menyesali perbuatannya.
“Kalau melihat kalian sepatuh ini bagaimana kalian bisa terlibat dalam perkelahian tadi?” Hoseok terlihat terhibur oleh kedua pemuda itu. Dia duduk di atas salah satu meja terdekat.
“Anak ini yang cari gara-gara duluan, Hyung.” Howon menunjuk pada pemuda di sampingnya.
“Aku tidak melakukan apa pun. Kau yang memukulku lebih dahulu.”
“Itu karena....”
Hoseok segera melerai keduanya sebelum mereka memulai perkelahian lain.
“Aku tidak akan memarahi atau menghakimi kalian. Aku tahu Howon tidak akan berkelahi dengan temannya kalau dia tidak merasa itu hal yang penting.”
“Jadi kau pikir akulah masalahnya di sini?” Pemuda yang lebih muda itu menyalang ke arahnya.
“Aku tidak berkata demikian. Aku percaya kau juga anak yang baik. Jadi, ceritakan untuk alasan apa kalian bertengkar? Tidak usah menunjuk satu sama lain. Ceritakan saja sudut pandang kalian tanpa emosi.”
Kedua pemuda itu terdiam untuk pertama kalinya. Mereka memalingkan wajah terhadap satu sama lain. Hoseok menanti dengan sabar. Dia berusaha untuk tidak melirik ke arah jam dinding. Tidak memikirkan bahwa giliran kerjanya sebentar lagi dimulai.
Baiklah, dia kalah dalam pertarungan ini. Tidak ada yang terlihat ingin berbicara. Hoseok akan benar-benar terlambat dan gajinya yang sudah sangat sedikit itu akan semakin terpotong.
“Ayo pindah ke tempat lain.” Hoseok akhirnya menyarankan hal tersebut.
Kedua pemuda itu segera meraih tas punggung mereka dari atas lantai dan mengikuti Hoseok dengan patuh.
“Di mana Hara?” Hoseok bertanya ketika ia berjalan melewati pintu.
Hoseok mendapati ekspresi meringis di wajah kedua pemuda itu. Dia paham sekarang. Mereka bertengkar karena Hara. Mungkin Hara melakukan sesuatu yang mengganggu Jungkook hingga membuatnya tidak nyaman dan melakukan hal yang kasar padanya. Hal itu menyebabkan Howon berkelahi dengannya. Meskipun Howon sering kali mengeluhkan kembarannya yang menyusahkan, dia sangat peduli mengenai Hara. Dia tidak akan membiarkan siapa pun menyakiti Hara. Tapi di saat yang sama, Howonlah yang paling sering membuat Hara menangis. Di antara mereka terdapat sebuah koneksi yang tidak dapat dimengerti oleh Hoseok. Koneksi anak kembar terkadang adalah hal yang sulit dipahami.
Hoseok tidak ingin menghakimi dengan cepat seperti orang-orang dewasa itu. Dia akan menanti hingga mereka menjelaskan alasan sesungguhnya padanya.
☆☆☆☆☆☆☆
“Oleskan ini di wajah kalian jika kalian tidak ingin besok luka-luka itu memburuk. Bersihkan dulu sebelumnya baru oleskan salep pada luka dan es untuk mengompres lebam.” Hoseok meletakkan semangkuk air es beserta handuk dan salep ke atas meja di pojok mini market. “Kalian saling bantu untuk melakukannya. Aku harus mempersiapkan giliran kerjaku.”
Kedua pemuda itu saling memandang dan meringis. Hal itu akan terasa aneh untuk dilakukan setelah berkelahi. Hoseok memahami hal tersebut, namun dia membiarkan keduanya untuk menyelesaikan hal tersebut sendiri sementara dia menyusun produk-produk ke rak pajangan. Membersihkan tempat tersebut sebelum ada pelanggan masuk. Memastikan tempat itu terlihat rapi.
Howonlah yang pertama kali mengalah. Dia meraih handuk dari atas mangkuk dan menghadap ke arah pemuda lainnya. Namun temannya itu hanya memelototinya ketika Howon mengulurkan handuk itu ke arahnya.
“Aku tahu. Ini juga membuatku merasa aneh. Aku hanya ingin membantumu. Di sini tidak ada cermin. Kau tidak akan tahu di mana saja letak lukamu.”
Jungkook meraih handuk dari Howon kemudian mengeluarkan ponsel dari dalam saku celana. “Aku bisa melakukannya dengan kamera depan ponselku, kau tahu?”
“Kau benar.” Howon menjawabnya dengan sarkastis.
Jungkook memutar matanya. Sementara itu Howon mengambil handuk lain untuk membersihkan dirinya pula. Mereka mulai menangani luka mereka masing-masing.
“Maaf karena sudah memukulmu.” Howon memulai percakapan lagi setelah diam yang panjang terjadi.
“Tidak masalah. Aku juga memukulimu.”
“Tapi kau memang bersalah juga di sini. Kau mendorong Hara terlalu keras sampai dia terjatuh. Dia itu perempuan, yah meskipun terkadang lebih mirip laki-laki.” dia menambahkan di belakang.
“Aku tidak bermaksud membuatnya jatuh hanya saja Hara sudah menggangguku selama berbulan-bulan. Aku tidak paham apa yang dia inginkan dariku.”
“Dia menyukaimu, Bodoh! Bagaimana juara satu sepertimu tidak memahami sikap yang sangat jelas itu?” Howon meletakkan handuknya untuk memandangi Jungkook dengan serius. “Tapi aku peringatkan kau. Jangan pacaran dengan saudaraku. Dia sangat aneh.”
Jungkook terkekeh.
“Apa? Aku serius di sini.”
“Kau sungguh lucu. Kau memukulku karena menolak saudaramu, sekarang kau memperingatkanku untuk tidak menerimanya. Kau yakin tidak memiliki kepribadian ganda?”
“Aku tahu ini tidak masuk akal tapi jangan mendekatinya. Aku tidak ingin Hara terluka.”
“Bagaimana kau bisa yakin kalau aku akan melukai saudaramu?”
“Memangnya kau percaya cinta monyet bisa bertahan selamanya? Kau kan tidak tertarik padanya. Aku bisa lihat itu. Jangan buang waktunya. Selain itu, aku juga tidak mau berada di posisi tidak menyenangkan kalau suatu hari kalian berpacaran dan bertengkar.”
Jungkook menaikkan alis matanya dan menyeringai tidak terlalu yakin dengan maksud Howon.
“Aku tidak ingin memilih antara teman dan saudara. Biarkan aku hidup dengan damai, oke?”
“Apa kita teman?”
Howon terkesima ketika mendengar balasan tersebut. Untuk sesaat terselip rasa malu di wajahnya namun dia segera menutupi hal tersebut. “Baiklah, kita bukan teman sama sekali. Ini hanya membuatku merasa janggal. Melihat saudara perempuanku berkencan dengan seseorang dari kelas yang sama denganku. Bisakah kau berhenti memandangiku dengan pandangan mengejekmu itu?”
Howon melepaskan tinju ke arah lengan Jungkook dengan canda. Dia memukul namun tidak sekeras sebelumnya. Jungkook hanya terkekeh.
“Aku anggap bahwa kalian berdua sudah berbaikan. Ini terlihat lebih baik. Anak laki-laki boleh saja sering berkelahi satu sama lain, tapi jangan buat itu menjadi alasan untuk saling membenci. Hidup terlalu singkat untuk dihabiskan dengan membenci seseorang.” Hoseok menggantungkan kedua lengannya di pundak kedua pemuda itu sesaat sebelum dia meletakkan dua cup ramyeon di atas meja. “Makanlah sebelum kalian pulang ke rumah atau pergi ke les privat.”
Hoseok tersenyum pada Jungkook. Dia tahu untuk anak seperti Jungkook, dia pasti memiliki begitu banyak les privat yang harus dihadiri setelah sekolah, tidak seperti Howon. Keluarga mereka terlalu miskin untuk membiayai hagwon sementara mereka harus memberi makan begitu banyak mulut di rumah.
“Apa aku boleh tinggal lebih lama di sini?” Jungkook bertanya pada Hoseok. Dia terlihat sedikit ragu.
“Tidakkah kau harus mengikuti kelas di hagwon?” Hoseok hanya sekadar bertanya namun hal itu segera membuat Jungkook kehilangan keyakinannya.
“Ngg... nggak jadi. Aku akan segera pergi setelah selesai mengoles salep.”
 Hoseok menyadari sesuatu mengenai Jungkook namun dia tidak mengatakan apa pun selain, “Kau bisa tinggal selama yang kau inginkan tapi aku beri tahu sebelumnya kau akan bosan. Tidak ada hal yang bisa kau lakukan di sini. Dan untukmu, Jung Howon, kau harus segera pulang ke rumah.”
“Aku harus pulang?” Hoseok menangguk menjawab pertanyaan adiknya. “Kau tidak adil, Hyung! Jungkook boleh tinggal tapi kau menyuruhku pulang.”
“Tidak ada berdebat denganku. Ini adalah hukumanmu karena berkelahi dengan teman. Kau tidak boleh keluar rumah setelah jam sekolah selama seminggu. Tidak ada video game untukmu juga.”
“Tapi, kau tadi bilang kau tidak akan menghukumku sebelumnya!”
“Berkelahi ya berkelahi, Jung Howon. Tidak semua hal harus diselesaikan dengan tinju. Kau harus belajar hal itu.”
Howon merasa dikhianati. Dia menghempaskan kakinya sambil meraih tas punggung dari atas meja.
“Sampai jumpa besok di sekolah. Sekarang aku harus menerima penghargaan dari Yang Mulia dengan lapang dada.” Howon tidak lupa mengeluarkan sarkasme ketika ia mengucapkan perpisahaan.
Hoseok tertawa kecil.
☆☆☆☆☆☆☆

Suka dengan cerita ini? Bisa lanjut baca di postingan dengan tag "Youth of Lily". Cerita ini sudah lama kubuat, dalam Bahasa Inggris. Kalau agak janggal, itu karena terjemahanku dari Bahasa Inggris dari ceritaku sendiri selalu terasa aneh. Wkwkwk. Aku belum selesai nerjemahin fan fic ini dan kalau di web ini sebenarnya sudah sampai chapter 12. Lanjutannya pelan-pelan akan kuupdate setelah kelar menerjemahkan Demian.

You Might Also Like

2 comments

  1. kalau bisa cepat lanjut yah ka.. hehe, suka banget sama ceritanya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mudah-mudahan bisa cepat. Tergantung mood nulis #heh

      Delete

2016 Reading Challenge

2016 Reading Challenge
Deasy has read 2 books toward her goal of 30 books.
hide