[BTS Fan Fiction] Youth of Lily - Second Run

6:20 PM



SECOND RUN
No matter how much I run, like a running machine,
the scenery of this city won't change
No matter how serious I become, as I become serious,
 The gear rewinds and rushes.


“Hoseok a, kenapa kamu berangkat sekolah sekarang? Sarapan dahulu.” Seorang wanita paruh baya muncul dari dalam rumah. Ia memegang semangkuk nasi yang harus dia suapkan kepada seorang gadis kecil yang mengekorinya.
Seorang pemuda berambut cepak dan mengenakan blazer hitam yang sedikit lusuh duduk di atas lantai untuk mengenakan sneakernya sesegera mungkin. Dia terlihat tergesa-gesa. Sambil mengetukkan ujung sepatu ke lantai, dia mengecek apakah dia telah membawa seluruh perlengkapan yang dia perlukan.
“Aku tidak bisa, Halmoni. Sudah terlambat. Aku akan beli sesuatu di kantin sekolah untuk sarapan.” dia mendekat untuk mengecup pipi neneknya. “Aku berangkat sekarang.”
“Kau punya uang untuk membeli sesuatu?” Halmoni berseru kepadanya ketika pemuda tersebut telah berlari keluar dari rumah. Tidak ada yang menjawab wanita tua itu.
Wanita paruh baya itu hanya mendesah dan menatap gadis kecil yang berdiri di sampingnya sambil mengunyah nasi yang ia suapkan kepadanya. “Anak itu harus mengurangi kerja paruh waktunya. Oppa-mu terlalu bekerja keras. Dia seharusnya menikmati masa SMA-nya, ya kan Hani?”
Gadis kecil itu hanya menatap sang nenek dan membuka mulutnya untuk disuapi lagi. “Halmoni, aaa ...”
Sekali lagi wanita tua itu mendesah dan menyendok sesuap nasi ke dalam mulut gadis kecil tersebut. “Ya, kau hanya peduli pada sarapan pagimu. Sangat bagus.”
Wanita itu tahu ia tidak mungkin dapat menyalahkan gadis kecil yang baru berusia dua tahun ini untuk suatu hal. Dunia gadis ini masih terlalu mungil untuk dapat mengerti apa yang sedang terjadi dalam rumah tangga ini. Dia hanya memahami bahwa ketika dia merasa lapar dia harus makan dan ketika dia kenyang dia akan pergi bermain bersama teman-temannya di luar. Sesimpel itu saja.
“Hara, Howon, kalian berdua masih saja di rumah? Kakak kalian bilang dia sudah hampir terlambat dan kalian tidak segera berangkat juga?!”
Ketika dia kembali ke ruang makan, dia melihat dua siswa berseragam SMP masih duduk di dalam sana menikmati sarapan mereka dengan tenang. Keduanya seumuran. Mereka adalah kembar fraternal, laki-laki dan perempuan.
“Kami tahu, Halmoni. Sekolah hanya sepuluh menit dari sini. Apa gunanya terburu-buru. Halmoni baru saja mengatakan Hyung harus menikmati hidupnya dan sekarang Halmoni menyuruh kami memburu-buru hidup kami.” Anak laki-laki itu mewakili dirinya dan kembarannya yang sedang terburu-buru menyelesaikan sarapannya sebelum berlari ke dalam kamar untuk mengambil tas miliknya.
Sang nenek sekali lagi mendesah khawatir. Hoseok dan kedua saudaranya merupakan pribadi yang sangat bertolak belakang. Yang satu terlalu memedulikan banyak hal yang tidak seharusnya anak seusianya pikirkan. Sedangkan dua yang lainnya terlalu tidak peduli terhadap sekeliling mereka, bahkan mengenai hal yang seharusnya mereka khawatirkan. Sesekali hal tersebut membuat sang nenek mengkhawatirkan nilai pelajaran Hoseok. Pemuda tersebut melakukan terlalu banyak kerja paruh waktu untuk membantu finansial keluarga ini.
“Segeralah berangkat kalau tidak mau terlambat.”
“Ya, Halmoni.” Anak laki-laki itu segera menelan makanannya dan memanggil saudara perempuannya. “Hara, sudah selesai belum? Ayo berangkat! Cepatan kalau tidak kutinggal kau!”

☆☆☆☆☆☆☆

Aku baik-baik saja. Aku terlihat normal.
Seorang pemuda berdiri di depan sebuah cermin berukuran setengah badan manusia di dalam toilet. Dia menatap ke arah benda tersebut sambil terus menyerukan dua kalimat tersebut di dalam benaknya.
Kedua matanya mungkin sedikit sipit namun mereka membentuk serupa bulan sabit yang cantik ketika dia tertawa. Pipinya sedikit tembam tapi dia memiliki lesung pipit mungil yang manis di pipi kirinya. Tubuhnya sedikit lebih pendek daripada pemuda seusianya, namun kedua kakinya bekerja dengan baik. Dia tidak kekurangan satu hal pun. Dan pada kenyataannya, pemuda itu terlihat cukup sedap dipandang. Akan tetapi, ketakutan yang menjalar di dalamnya masih saja menelannya bulat-bulat bahkan ketika dia berusaha untuk membuang jauh-jauh pemikiran tersebut.
Saat ini sudah beberapa bulan berlalu semenjak periode itu. Penampilan fisiknya telah banyak berubah namun dia masih merasa di dalam dirinya masihlah sosok pemuda yang sama dengan setahun yang lalu. Seseorang yang selalu ketakutan di bawah pandangan orang lain. Bahkan dia harus terus menggemakan dua kalimat tadi di dalam benaknya untuk bertahan setiap kali dia ingin bersembunyi dari orang-orang.
Yah! Park Jimin, singkirkan tubuh besarmu dari wastafel. Aku perlu mencuci tanganku.” Seseorang dari kelas yang sama dengan pemuda itu mengacaukan konsentrasinya dengan mendorong tubuhnya dari depan cermin.
Jimin mendengarnya. Kalimat  yang diucapkan pemuda itu kepadanya.
Besar.
Tubuhnya gemuk.
Sekali lagi, dia akan menjadi korban penyiksaan.
Mendadak saluran pernapasan Jimin tercekat. Dia merasa kesulitan untuk menarik napas.
“Kau baik-baik saja?” Pemuda yang mendorongnya itu menatap bingung. Dia ingin mendekat namun Jimin tidak membiarkannya.
Jimin berlari masuk ke dalam salah satu bilik toilet dan mengunci diri di dalamnya.
“Ada apa dengan anak itu? Aneh sekali.”
Jimin berusaha menangkis semua suara untuk masuk ke dalam indra pendengarannya. Dia tidak ingin mendengar komentar apa pun dari siapa pun. Dia bahkan tidak mengacuhkan pintu toilet yang dibanting tertutup tak lama kemudian. Dia adalah sosok yang aneh. Dia sudah tahu hal tersebut. Dia tidak cocok untuk bergaul dalam kehidupan sosial mana pun. Tidak peduli seberapa keras usaha Jimin untuk mengubah diri, dia masihlah akan menjadi sosok yang terasing.
☆☆☆☆☆☆☆

“Hei, Namjoon, kau tahu Park Jimin? Dia anak yang sangat aneh.” Taehyung berjalan masuk ke dalam ruang kelas dengan ekspresi yang linglung. Beberapa kali dia menengok ke belakang kemudian kembali ke depan dengan ekspresi wajah yang lebih bingung.
Namjoon sedang duduk di kursinya. Membaca buku cetak, milik Taehyung. Dia baru menolehkan kepala ketika Taehyung mendudukkan diri sambil mengoceh tentang anak aneh yang dia temukan di toilet pria.
“Apa?” Namjoon berseru pendek setelah Taehyung menyenggol lengannya tiga kali.
“Aku sedang berbicara denganmu.” Taehyung menarik keluar buku komik dari dalam tas punggungnya.
“Aku tidak mengenal Park Jimin dan aku tidak peduli padanya.” Namjoon kembali memusatkan perhatian pada buku.
“Ini sudah delapan bulan sejak kita memulai SMA, bagaimana bisa kau masih tidak mengenal teman sekolahmu? Bahkan meskipun dia adalah siswa pindahan.” Taehyung mendengus.
“Baiklah, aku tahu itu sekarang, lalu apa?”
Taehyung meletakkan buku komiknya dan merebut buku Namjoon. “Aku bertemu dengannya ketika pergi ke toilet. Dia terus-terusan menatap cermin tanpa melakukan apa pun. Karena aku butuh pakai wastafel lalu kudorong saja dia ke samping dan dia tiba-tiba saja menjadi panik. Setelah itu dia bersembunyi di dalam bilik toilet. Apa aku sakit menular? Apa masalahnya denganku?”
“Mungkin dia memang sedang memiliki masalah dalam kepalanya. Biarkan dia sendiri.”
“Tapi ini sudah sebulan sejak dia pindah ke sini. Aku tidak melihatnya berinteraksi dengan siapa pun. Apakah dia punya masalah di sini? Apa dia diasingkan?”
“Semua orang memiliki masalah masing-masing. Itu bukan urusanmu untuk ikut campur kalau dia tidak meminta bantuan. Sekarang biarkan aku sendiri. Kembalikan buku itu. Aku harus menyelesaikannya sebelum esok.” Namjoon merebut kembali buku tersebut dari tangan Taehyung dan pemuda itu tidak mencegahnya.
Baru saja Namjoon hendak kembali berkonsentrasi dengan bukunya, seseorang berambut merah muncul ke dalam jangkauan jarak pandangnya. Pemuda tersebut melongok ke dalam ruangan melalui jendela kaca. Namjoon segera mengalihkan pandangannya. Dia tidak ingin terlibat dengan orang ini. Tidak setelah apa yang dia saksikan kemarin setelah sekolah.
Namjoon berusaha untuk menjadi tak terlihat di sekolah. Jika hal tersebut bukanlah mengenai pelajaran ataupun hal yang dia sukai, Namjoon tidak ingin peduli. Dia juga tidak bersosialisasi. Satu-satunya orang yang berbicara dengannya hanyalah Taehyung yang kebetulan teman sebangkunya. Anak laki-laki itu hampir seperti alien yang hiperaktif. Dia terlihat seperti hidup di dunia yang berbeda dari Namjoon. Hanya dialah yang berani terlihat berkeliaran di sekitar Namjoon ketika semua orang di kelas mengabaikan Namjoon karena dia adalah target penindasan Rahoon.
Tidak ada yang ingin menjadi korban selanjutnya. Yang mereka lakukan hanya menyaksikan setiap kali Rahoon memperbudaknya untuk melakukan hal yang pemuda tersebut tidak ingin lakukan sendiri. Mereka menjadi pengamat sekaligus penyemarak ketika Rahoon mempermainkan Namjoon dengan kata-kata dan aksinya.
Namjoon membenci tempat yang disebut sekolah ini. Tempat ini lebih terlihat seperti arena pertarungan, hanya saja tidak ada wasit di dalam sini.
“Ketemu juga.” Sepasang tangan yang berwarna putih pucat menghantamkan diri ke atas meja Namjoon. Pemuda itu segera mengenali warna kulit yang tidak asing tersebut. Tidak mungkin kan ....
Ketika Namjoon hendak mendongak dia melihat Taehyung terlihat sangat terpesona oleh seseorang yang berdiri di hadapan mereka. Kemudian, Namjoon pun melihat pemuda berambut merah yang berdiri di hadapannya persis.
“Aku mencarimu sejak pagi ini.”
Kalimat dari pemuda itu membuat Namjoon menerka-nerka apa yang dia inginkan darinya.
“Apa dia, orang gila berambut merah yang kau ceritakan kemarin?” Dan Taehyung memilih waktu yang tepat itu untuk menambah kerumitan masalah dalam situasi tersebut. Bagaimana dia bisa sebegitu tidak sensitifnya mengenai hal yang terjadi di sekitarnya?
Namjoon berjengit di dalam benak. Dia dalam masalah.
Pemuda berambut merah itu mengerutkan kedua alis matanya sesaat. “Apakah kalian memanggilku si Rambut Merah yang gila?”
“Maaf, bukan itu maksudku. Tidak ada maksud buruk di sana.” Namjoon segera mengakui hal tersebut dan mengubah topik pembicaraan. “Ada masalah apa yang membawamu ke sini?”
“Masalah? Tidak .... aku hanya ingin berbicara denganmu.” Yoongi terlihat tidak mempermasalahkan panggilan tersebut. Dia setuju untuk berpindah topik, alasan kunjungannya.
“Kalau begitu apa yang ingin kaubicarakan?”
“Mengenai hal kemarin.” Yoongi hendak mengucapkan sesuatu namun sesaat dia berubah pikiran. “Ayo pindah ke tempat lain untuk bicara. Ikuti aku.”
Namjoon mengetahuinya. Kejadian yang kemarin dia saksikan akan menyeretnya ke dalam masalah. Mengapa dia harus memilih waktu yang setepat itu untuk masuk ke dalam klub?
“Aku tidak bisa ikut. Waktu istirahat sudah hampir berakhir dan aku masih harus menyelesaikan bacaanku.” Namjoon berusaha menunjukkan ekspresi datarnya meskipun di dalam hatinya sudah berdebar kencang ketika dia mengutarakan alasannya. Bagaimana bisa dia menolak otoritas seorang kakak kelas? Namjoon sudah pasti dalam masalah besar.
“Baiklah, bagaimana setelah sekolah?”
Namjoon memutar otaknya untuk mencari alasan lain namun pemuda yang lebih tua itu menyadari keraguannya.
“Begini, aku tidak akan menindasmu. Aku hanya ingin membicarakan hal yang kau tulis di buku tulismu. Aku hanya ingin ...,” Yoongi terlihat berusaha untuk mencari kata-kata yang tepat. “Aku hanya ingin menawarkan sesuatu padamu.”
“Tawaran apa yang ingin kau bicarakan dengan teman sebangkuku?” Taehyung menyela masuk ke dalam percakapan hanya karena Namjoon tidak segera menjawab.
“Sesuatu yang cukup penting. Aku tidak tahu apa ia memberitahumu, tapi dia tahu apa yang sedang kubicarakan.”
“Apa yang sedang dia bicarakan?” Taehyung menoleh ke arah Namjoon.
“Tidak ada yang penting.”
“Ini penting untukku dan mungkin kesempatan yang baik untukmu juga.”
Namjoon ingin menolak tawaran tersebut namun Taehyung mendahuluinya.
“Dia akan datang. Tapi satu hal, apa kau benar-benar bukan penindas?” Ia menyuarakan rasa penasarannya.
Yoongi mengerang. “Mengapa rambut merah selalu diasosiasikan dengan pembuat masalah? Apa aku terlihat menyeramkan untukmu? Seorang penindas?”
Taehyung mengangguk perlahan dan kembali menambahkan sebelum Yoongi mampu bereaksi terhadapnya. “Tapi kau terlihat keren, Hyung! Apa kau tidak kena masalah dengan Park Sem? Aku juga ingin mengecat rambutku.”
Taehyung terlihat antusias setelah keraguan sesaat. Dia melihat papan nama yang terlihat berbeda dari milik murid baru dan membuatnya menyadari bahwa pemuda di hadapannya adalah seorang kakak kelas. Itulah sebabnya dia segera mengubah caranya memanggil pemuda tersebut.
“Sesekali tapi Park Sem sudah bosan denganku.” Yoongi menyapu tangannya ke atas rambutnya. Sebelum dia bisa mengatakan hal lain, bel pertanda istirahat berakhir berbunyi.
“Baiklah, aku harus segera kembali ke kelasku. Sampai jumpa setelah sekolah.”
Yoongi meninggalkan kelas dengan langkah kaki yang menyeret malas. Dia terlihat terlalu bosan bahkan untuk berjalan.
Hyung itu terlihat sedikit menakutkan, tapi dia keren sekali.” Taehyung berkata pada Namjoon.
“Kenapa tadi kau menyetujui tanpa izinku? Aku tidak pernah mengatakan ingin menemuinya.”
“Tadi dia bilang itu penting untuknya dan bagus untukmu. Lagi pula dia bukan penindas, jadi tidak ada masalah untuk menemuinya. Ayolah, jangan jadi anti sosial. Kau harus banyak berteman selagi masih SMA. Dengan begitu hidupmu yang membosankan akan terlihat lebih cerah. Ini tahun SMA, kau sadar itu?”
“Yeah, aku sadar sekali. Tahun SMA, tahun tersulit dari semuanya.” Namjoon memilih untuk tidak mendebat pemuda di sampingnya yang selalu menunjukkan sebentuk persegi setiap  kali tertawa.
Bagaimana dia bisa terlibat dalam situasi seperti ini?
☆☆☆☆☆☆☆

Enjoy the story? Search the other chapter under youth of lily tag

You Might Also Like

0 comments

2016 Reading Challenge

2016 Reading Challenge
Deasy has read 2 books toward her goal of 30 books.
hide