{BTS Fan Fiction] Youth of Lily - Sixth Run

8:24 AM



SIXTH RUN
You are my only sun, one and only in the world
I bloomed for you, but I’m still getting thirsty
It’s too late too late I can’t live without you
Though my branch runs dry, I reach for you with all my strength.


“Sudah selesai.”
Namjoon menarik keluar pelatuk dari tangki gas sebuah mobil berwarna hitam. Selagi memindahkan permen Loli di dalam mulutnya dia berjalan ke jendela di sisi pengemudi. Si pengemudi menyerahkan sebuah kartu pada Namjoon untuk membayar. Dia mengambilnya dan menggesekkan kartu pada mesin. Setelah dia menyerahkan kembali kepada pemiliknya, orang tersebut tidak mengatakan apa pun untuk berterima kasih pada Namjoon ataupun memberi tips. Sebaliknya dia menaikkan jendela kemudian beranjak pergi dari pom bensin dengan tergesa-gesa. Namjoon tidak terkejut untuk sesaat pun. Dia telah terbiasa dengan pelanggan semacam itu. Kenyataannya yang itu tadi terhitung yang cukup baik. Setidaknya dia tidak melemparkan uang tips seperti pelanggan yang sebelumnya Namjoon dapat.
Ya, Namjoon, si pelajar yang rajin belajar ini sedang bekerja di sebuah pom bensin bukannya menghadiri suatu tempat les privat untuk membuat nilainya lebih baik lagi. Satu, Namjoon tidak membutuhkan hal itu. Dia belajar dengan cukup baik sendiri. Dua, dia adalah seorang yatim piatu. Bagaimana bisa dia mampu membayar uang les? Di sanalah dia berdiri, di sebuah pom bensin di tengah malam sementara para pelajar lainnya sedang belajar di dalam kelas atau makan malam dengan keluarga mereka. Dia tidak menginginkannya tapi dia tidak punya pilihan lain. Dia harus membiayai dirinya sendiri.
Malam itu, pom bensin tidak memiliki banyak pelanggan. Ketika Namjoon melirik pada jam digital di layar ponselnya, waktu telah menunjukkan pukul 23.30. Dua jam lagi, dia sudah bisa pulang. Namjoon memutuskan untuk menghabiskan waktu dengan mendengarkan beat yang diberikan Yoongi sebelumnya. Dia harus menuliskan beberapa lirik untuk beat tersebut, dengan begitu mereka dapat menciptakan sebuah lagu yang utuh untuk dipertunjukkan di Hongdae pada hari Sabtu.
Ini terdengar konyol. Namjoon tahu itu. Bagaimana sebuah kru yang begitu kacau seperti ini mempertontonkan sesuatu? Mereka bahkan tidak punya cukup lagu atau kemampuan untuk ditunjukkan. Rap Taehyung berada pada level di bawah level menyedihkan. Jin melakukan rap seperti orang tua. Sementara Jimin, dia hanya terlihat seperti anak hilang di department store. Ketakutan dan tersesat. Bagaimana seorang anggota seperti itu dapat melakukan pertunjukkan? Mereka akan menjadi bahan lelucon di jalanan dan semua itu adalah kesalahan Taehyung. Itu adalah ide gilanya.
☆☆☆☆☆☆☆

Hyung, tidak kau merasa GRCFGA harus melakukan pertunjukan di suatu tempat? Kita harus melakukan sesuatu bersama. Dengan begitu ini akan lebih menyenangkan.”
Suatu hari, Taehyung tiba-tiba saja mencetuskan idenya dari kebosanan di ruang musik. Tempat tersebut telah resmi menjadi tempat berkumpul mereka di sekolah. Namjoon tidak tahu bagaimana Yoongi melakukannya, tapi pemuda itu mampu untuk mendapatkan kunci ruangan dari guru.
“Apa itu GRCFGA?” Jin bertanya.
Great rappers have come, you fake rappers go away. Itu adalah nama kru kita.” Taehyung berseru.
Jin melongo. Jimin dengan jelas menunjukkan bahwa dia juga merasa jijik dengan nama tersebut meskipun yang dia lakukan hanyalah duduk dengan tenang di sudut ruangan. Sementara Yoongi, dia mengamuk.
“Kau kah ‘rapper hebat’ itu? Sudah kubilang berhenti menamai kru dengan nama-nama konyol seperti itu. Suatu hari dengan pasti kau akan mati di tanganku!” Yoongi meluncurkan beberapa tinju kecil pada Taehyung. Dia terlihat tidak setuju pada nama tersebut namun dia tidak marah. Dia setuju dengan ide Taehyung untuk memberi nama pada kru. Tapi nama tersebut adalah yang terburuk dari seluruh nama yang sebelumnya Taehyung pernah tawarkan.
“Ah... Hyung, sakit! Aku kan hanya mencoba melakukan sesuatu untuk kru, ini yang kudapat?” Taehyung mencoba menghindar dari pukulan Yoongi.
Jimin terlihat gelisah. Dia tidak pernah terbiasa dengan Yoongi yang bersikap kasar pada Taehyung. Dia juga tidak pernah menyukai ketika Yoongi dan Namjoon berdebat mengenai musik yang mereka sedang kerjakan. Semua hal mengenainya sangat canggung. Rasanya seperti dia ingin berada di suatu tempat lainnya tapi dia terlalu takut untuk pergi. Namjoon bertanya-tanya apakah itu memang sifatnya atau sesuatu telah terjadi padanya hingga mengubahnya menjadi seseorang seperti itu? Dia tidak dapat menjawabnya.
“Kau pantas mendapatnya. Nggak heran kalau tes Bahasa Koreamu di bawah sepuluh. Bahkan anak SD pun bisa melakukan lebih baik daripada kau.” Namjoon berkomentar.
“Kau baru saja mengejek nilai ujianku?” Taehyung merasa dikhianati. Namjoon mengendikan bahunya.
“Aku hanya mengatakan kenyataan. Bahkan Jimin yang siswa pindahan saja punya nilai yang lebih bagus daripada kau.”
“Baiklah! Aku memang lebih bodoh daripada anak SD. Aku akan menerima fakta itu. Tapi kalian semua sangat membosankan. Bagaimana kalian bisa betah berada di dalam ruang ini sepanjang hari dan tidak melakukan apa pun?”
“Kita hanya di sini setiap jam istirahat.”
“Aku nggak boleh melebihkan sedikit? Itu bukan poinku.” Taehyung menoleh ke Yoongi. “Suga Hyung, kau bilang kau ingin orang-orang tahu kualitas musikmu. Menyebarkan pemikiranmu untuk dunia yang lebih baik. Inikah yang kau maksud ketika kau memutuskan untuk membentuk krumu sendiri?”
Yoongi menaikkan alis mata.
“Tidakkah kita harus melakukan sesuatu yang lebih menantang daripada berdiam di dalam ruangan dan hanya bisa bicara saja?” Taehyung melanjutkan. “Ayolah. Ini kan SMA. Bukankah kita masih muda dan berdarah panas?”
Namjoon tidak tahu apa yang Taehyung tonton semalam hingga mempengaruhinya berbicara seperti ini. Mungkin saja itu adalah salah satu film lama tentang masa muda dan sesuatu semacam itu. Taehyung sangat mudah terpengaruh oleh hal yang dia lihat. Dia menjadi terlalu bersemangat begitu ide tersebut merasukinya.
“Baiklah, kau benar.” Yoongi terlihat sedang memikirkan mengenai hal tersebut.
Dan itu adalah pertanda buruk yang Namjoon segera tangkap.
☆☆☆☆☆☆☆
“Kau tidak mau kerja yang benar?” Sebuah nada kasar dari seseorang mengganggu lamunan Namjoon.
Dia tidak menyadari sejak kapan dia terlelap dalam pemikirannya, tapi dia yakin itu cukup lama hingga membuat seorang pelanggan kesal. Namjoon segera memasukkan ponsel ke dalam kantong celana dan berlari ke pos kerjanya untuk membantu pelanggan mengisi tangki kendaraannya.
“Kau.” Namjoon segera mengenali pemuda berhelm yang memintanya untuk mengisi bensin untuknya.
Itu adalah Jung Rahoon dengan motor berwarna jetblacknya. Itu adalah motor 250 cc dari salah satu merek terkenal dari Jepang. Namjoon rasa Rahoon pernah membangga-banggakan kendaraan tersebut. Dia berkata bahwa motornya ini merupakan jenis yang sama dengan yang Lorenzo gunakan pada sesi MotoGP tahun lalu, hanya warnanya saja yang berbeda. Namjoon mengingatnya jelas karena pada awal semester ini Rahoon merasa kesal karena pembalap yang dia sukai berpindah ke tim lain. Namjoon membenci keputusan pembalap tersebut. Itu membuat Namjoon harus menderita tanpa mengetahui apa kesalahannya.
“Isi sampai penuh.” Rahoon tidak perlu turun dari motornya karena pembuka tang ada di bagian depan.
“Kau akan bayar  untuk ini, kan?” Namjoon memastikan sebelum dia melakukannya. Dia tidak akan tertipu untuk kedua kalinya setelah sebelumnya Rahoon melakukannya.
Namjoon mendapat masalah dengan manajernya setelah itu. Bayarannya dipotong nyaris separuh untuk mengganti bensin yang diambil Rahoon.
“Yeah... cepatlah! Aku harus pergi.” Rahoon memutar matanya.
Namjoon menghela napas dan berjalan untuk mengambil pelatuknya.
“Bukannya terakhir kali kau dilarang untuk mengendarai motormu?”
Rahoon terlihat kesal. “Itu bukan urusanmu.”
Namjoon mengangkat alis matanya tapi dia tidak mengatakan apa pun selain meletakkan pelatuk ke dalam tangki gas. Diamnya Namjoon malah membuat Rahoon menjadi tidak nyaman.
“Kau akan melaporkannya ke Ibu kan? Kalau kau melihatku dengan motorku.”
“Kenapa aku harus peduli dengan urusanmu?”
Rahoon segera menarik kerah Namjoon selagi mendengus kesal. Tapi dia tidak menghantam Namjoon. Setelah menatapnya sesaat, dia kembali melepaskan Namjoon.
“Kalau begitu jangan katakan apa pun padanya.”
Namjoon tidak mengatakan apa pun untuk menanggapi itu. Proses pengisian tangki berlangsung cukup lama. Mungkin Rahoon habis mengosongkan tangki sebelum dia datang ke pom bensin. Namjoon tidak tahu mengapa anak ini masih berkeliaran di sekitar Seoul di tengah malam seperti ini dengan motornya sementara seharusnya dia sudah berada di rumah. Namjoon tidak mau memikirkan hal itu tapi dia tahu seseorang di rumah akan mengkhawatirkan Rahoon.
“Ibumu mungkin akan sedang menantimu saat ini.”
Rahoon mendecap lidah dan membuat ekspresi mengejek. “Akankah? Dia bahkan tidak peduli mengenaiku. Anak kesayangannya kan kau. Tidak ada yang peduli denganku di dalam rumah itu. Dan kau, sepertinya kau menyadari itu dengan sangat baik hingga kau bisa memainkan kartu-kartumu dengan baik. Aku benci kau yang masuk ke dalam keluargaku.”
Kayak aku mau saja. Namjoon memikirkan spontan tapi tidak mengatakan apa pun.
“Sudah selesai.” Namjoon menarik pelatuk dan meletakannya ke dalam pos. Begitu dia selesai mengkonfirmasi jumlah yang Rahoon harus bayar, pemuda itu telah kabur.
Namjoon tidak dapat mempercayainya. Dia baru saja tertipu untuk ke sekian kalinya. Tapi dia hanya melakukannya pada Rahoon. Namjoon hanya akan menurunkan pertahanan yang selalu dia pasang setiap kali hanya kepada Rahoon karena dia telah mengenai pemuda itu sejak lama.
Namjoon tidak dapat memahami sikap Rahoon. Mereka dulu adalah teman ketika SD. Suatu hari di masa SMP, Rahoon bersikap bertolak belakang padanya. Satu kali dia akan menggelontor buku milik Namjoon ke dalam toilet. Di hari lain dia akan mempermalukan Namjoon di depan kelas. Kemudian begitu SMA dimulai, dia mulai bersikap semakin kasar pada Namjoon. Tapi terkadang di waktu-waktu yang amat jarang, Rahoon akan memuntahkan kebenciannya pada Namjoon dalam sikap yang lebih tenang seperti yang baru saja.
Untuk menebak suasana hati Rahoon itu seperti menaiki permainan roller coster selama setahun penuh. Suatu hari dia terlihat sangat bergelora penuh amarah, di hari lain dia bersikap cukup tenang.
Untuk dapat menarik hubungan dari semua petunjuk mengenai sikap Rahoon, mungkin Namjoon harus menariknya dari hari pertama dia memasuki rumah keluarga Rahoon setelah kecelakaan yang terjadi pada keluarganya. Saat itu terjadi Namjoon berusia sembilan tahun.
☆☆☆☆☆☆☆

“Mulai sekarang Namjoon akan bergabung dengan keluarga kita. Rahoon, dia adalah saudaramu sekarang. Tidakkah kau senang dia bisa bermain denganmu kapan pun? Tapi Ibu peringatkan kalian berdua, jangan bermain terus. Kalian harus belajar juga. Rahoon bisa belajar dari Namjoon.”
Suatu hari, Jung Yiran Yimo, ibu Rahoon membawanya dari panti asuhan untuk memperkenalkannya ke dalam keluarganya, Rahoon dan keluarganya. Dia melakukan itu sebelum Namjoon tercatat di dalam sebuah panti asuhan.
Namjoon dan Rahoon sering bermain bersama ketika keluarga Namjoon masih hidup. Mereka menghadiri sekolah yang sama. Ya, di distrik kecil seperti Ssangmun, pilihan sekolah itu terbatas, terlebih lagi sekolah dasar. Sudah merupakan suratan takdir untuk mereka menjadi teman waktu itu. Namjoon sering berkunjung ke rumah Rahoon untuk bermain. Mungkin saja saat setiap kali mereka bertemu ibu Rahoon menyukainya. Itulah sebabnya ketika dia mendengar keluarga Namjoon mengalami kecelakaan dan meninggalkan anak itu sendiri, dia langsung menawarkan diri untuk membesarkan Namjoon sebagai anak laki-lakinya.
Mungkin itulah awal mulai perpecahan antara Rahoon dan Namjoon. Siapa yang lebih disayang dan perbedaan perlakuan tidak berjalan baik di antara mereka. Saat pertama, Namjoon berpikir mungkin saja ibu Rahoon ingin Namjoon terbiasa dengan keluarga mereka, tapi ternyata perhatian tersebut tidak pernah berkurang.
Sikap Ibu Rahoon mulai menekannya dan Rahoon. Hal menjadi semakin memburuk dan mengakibatkan Namjoon memutuskan kalau dia harus tinggal sendiri ketika dia SMA.
Tentu saja ibu angkatnya tidak membiarkannya melakukan itu tapi Namjoon memaksa. Bukan karena dia tidak bersyukur atas usaha wanita itu untuk membesarkannya ketika dia kehilangan seluruh keluarganya, hanya saja dia berpikir dia tidak akan bisa bernapas jika dia masih berada di dalam rumah tersebut.
Dia melakukannya untuk bertahan hidup.
☆☆☆☆☆☆☆

Jin berjalan ke pintu sembari mengunyah sandwich di mulutnya. Itu adalah hari Sabtu. Dia merencanakan untuk bersama seluruh anggota kru untuk pergi ke Hongdae. Untuk memikirkan soal apa yang akan mereka lakukan di Hongdae saja sudah membuat Jin meringis. Dia berharap hal akan berlangsung dengan baik. Jin membawa serta digital camcodernya. Dia pikir mereka harus menyimpan kenang-kenangan pertunjukkan pertama BTS.
Ya, akhirnya kru tersebut punya nama yang pantas meskipun yang satu ini pun cukup menggelikan. Tapi ini lebih baik daripada GRC... apa? Jin tidak bisa mengingat lagi apa saran Taehyung sebelumnya. Nama tersebut datang dari Park Jimin, tak disangka. Itu adalah singkatan dari Bangtan Seonnyeondan (The Bulletproof Boy Scouts). Jimin menyarankan nama itu untuk memberikan kesan lebih kuat pada kru karena Namjoon dan Yoongi menyukai hardcore rap daripada yang memiliki pace lambat. Lirik-lirik mereka pun cukup keras. Dan mungkin itu adalah sebuah doa bahwa nama tersebut akan melindungi mereka dari komentar-komentar buruk yang akan datang pada mereka setelah pertunjukan pertama. Alasan yang terdengar sangat Jimin.
Membahas soal pertunjukan pertama saja sudah membuat Jin berkeringat dingin. Dia tidak yakin apakah dia dapat bernyanyi di hadapan banyak orang. Ya, kau tidak salah melihatnya. Daripada melakukan rap, Namjoon menyarankan Jin, Taehyung, dan Jimin untuk bernyanyi. Dengan begitu mereka tidak akan lebih mempermalukan diri mereka.
Melakukan rap terdengar mudah pada awalnya. Jika kau tidak bisa bernyanyi maka kau bisa melakukan rap. Itu selalu berfungsi untuk grup idol di televisi tapi tidak di dunia rap yang sesungguhnya. Untuk dapat melakukan rap, kau harus memiliki begitu banyak kemampuan dan latihan. Pertama, kau harus memahami ritme dan ketukan yang tepat untukmu. Kedua, kau harus memiliki ketangkasan untuk melihat hal yang terjadi di sekitarmu untuk dapat menyampaikan lirik yang lebih kuat. Oh ya, jangan lupa pula, kau harus dapat membuat rima dan catchphrase yang menarik. Kemudian, kau juga harus memiliki kepercayaan diri mengenai dirimu. Untuk jujur pada perasaanmu dan tidak takut untuk mengutarakannya dengan lantang.
Itu adalah sesuatu yang Jin tidak miliki, kepercayaan diri. Begitu pula dengan Jimin. Jin mengkhawatirkan pemuda yang lebih muda tersebut. Akankah pertunjukan ini berjalan dengan baik untuk Jimin? Akankah dia menjadi ketakutan di bawah pandangan banyak orang? Bahkan untuk menatap langsung ke dalam mata para anggota kru saja dia tidak dapat melakukannya.
Jin harus berdoa lebih keras untuk Jimin agar dia baik-baik saja nanti. Jika tidak pun, itu tidak masalah. Jimin setuju untuk bergabung dalam pertunjukan tersebut saja sudah merupakan langkah yang sangat besar untuknya. Tidak masalah jika dia tidak dapat melakukannya hingga akhir. Langkah pertama selalu yang tersulit.
“Kau mau ke mana? Mau pergi main dengan Yoongi?” Tepat ketika Jin baru selangkah keluar dari rumahnya, Sohee keluar dari dalam rumahnya.
Dia masih mengenakan pakaian tidurnya dan sedang menggosok gigi. Ya, di siang hari. Sohee adalah salah satu yang suka bangun siang di akhir pekan, dan juga sesungguhnya di hari biasa pun.
“Ya, kami mau ke Hongdae untuk perform.”
“Perform?” Mata Sohee membesar. “Apa Yoongi akan ada di sana?”
Jin mengangguk enggan.
“Tunggu aku! Aku mau ikut.” Sohee mengeluarkan sikat gigi dari mulutnya. Dia baru saja hendak kembali masuk tapi berhenti di tengah melakukannya.
“Kau masuk juga. Jangan ke mana-mana sampai aku selesai bersiap.” Sohee menarik Jin masuk ke dalam rumahnya dan berlari ke kamarnya.
Jin dengan tenang melihat ke sekeliling interior apartemen. Ini bukan pertama kalinya dia berkunjung. Dia pun datang ke sana sebanyak Sohee berkeliaran di dalam rumahnya. Tidak ada orang lain di rumah. Mungkin kedua orang tua Sohee sudah berangkat kerja, di akhir pekan. Itu bukan hal baru untuk Jin.
Jin membuat dirinya nyaman di ruang tamu karena dia tahu Sohee akan mengambil waktu yang sangat lama untuk bersiap-siap, terlebih bersiap untuk melihat performa Yoongi. Dia pasti akan berdandan untuk membuat pemuda tersebut terkesan. Pemikiran tersebut membuat cubitan pelan di hati Jin.
Aku akan terlambat. Kalian pergi duluan saja. Aku akan bertemu dengan kalian di Hongdae.  
Jin memutuskan untuk mengalihkan pikirannya sebelum hal tersebut mempengaruhi suasana hatinya. Setelah mengirim pesan tersebut dia meraih remote control untuk mengubah saluran televisi. Sohee mungkin sedang menonton tayangan ulang drama sebelum dia menangkap Jin keluar dari rumahnya. Jin mencoba mencari tontonan lain karena dia tidak suka menonton drama. Dia mencari film atau tayangan reality show.
☆☆☆☆☆☆☆

“JIN HYUNG! DI SINI! KAMI DI SINI!”
Sebuah suara yang tidak asing dari kejauhan dapat didengar di tengah keramaian tersebut. Jin mengenalinya sebagai suara Taehyung. Tentu saja hanya pemuda itu saja yang akan berteriak keras di dalam tim mereka. Namjoon akan memilih cara yang lebih praktis untuk memberitahu teman se-timnya jika dia cukup peduli pada Jin yang kesulitan mencari mereka. Jimin terlalu pemalu untuk dapat berteriak keras. Dan Yoongi, dia tidak memanggil Jin dengan Hyung, tentu saja.
Setelah melambai balik untuk menandakan dia sudah memahami posisi mereka, Jin menerobos keramaian bersama Sohee. Hongdae di Sabtu sore itu adalah sebuah kegilaan. Jin tidak pernah menyadari bahwa Korea Selatan punya populasi penduduk sebanyak ini hingga dia datang ke tempat ramai seperti Hongdae atau Myeongdong di akhir pekan. Turis dari Tiongkok, Jepang, dan beberapa negara lain pun berkontribusi atas populasi keramaian ini. Jin dapat mendengar beberapa orang berbicara dengan bahasa yang tidak dia mengerti.
“Akhirnya kau datang juga, Hyung. Kami sudah menunggumu lama sekali. Apa yang menahanmu?”
Setelah beberapa menit mencoba, Jin akhirnya berhasil memasuki taman bermain Hongdae, tempat gratis yang disediakan untuk para musisi jalanan melakukan pertunjukan. Jin mencoba mengendalikan napas. Itu sangat melelahkan untuknya menerobos keramaian. Sungguh sebuah kekacauan.
“Kok bisa seseorang bersuara sekeras itu dari kejauhan?” Ada Sohee yang sedang terengah-engah pula di belakang Jin. Dia juga merasa terkejut ketika mendengar suara Taehyung.
Hyung, siapa perempuan ini? Pacarmu? Ini sebabnya kau terlambat? Untuk menjemput dia?” Taehyung terlihat terkejut ketika melihat Sohee muncul dari belakang Jin.
Yoongi mencibir. Dia mengurai lipatan lengannya dan berjalan ke arah Jin.
Ya Jin, aku tidak menyuruhmu membawa si bulat satu ini. Kenapa kau membawanya? Kau hanya membawa satu orang yang merepotkan untuk kita.”
“Aku nggak gemuk! Kau buta ya?” Sohee segera melakukan protes. “Aku sudah menurunkan berat badan beberapa kilo selama liburan musim panas kemarin.”
“Ya kah? Aku kok nggak lihat ada perbedaan.” Yoongi mengejeknya.
“Kau seperti biasa selalu nggak sopan!” Sohee menjerit kesal.
“Kalau begitu kau dipersilakan untuk pulang.” Yoongi tersenyum manis pada Sohee sambil menunjuk ke arah dia baru saja berasal. Sohee terlihat sangat kesal dan nyaris menangis tapi dia mencoba menatap Jin untuk pertolongannya.
“Aku butuh dia untuk pegang digicam-ku.” Jin datang untuk menolong Sohee.
Ekspresi wajah gadis itu menjadi lebih cerah.
“Lihat kan, Jin butuh aku di sini. Kalau kau tidak bersikap baik padaku, aku akan merekammu dengan angle yang paling aneh dan mengunggahnya online.” Sohee menjulurkan lidah ke arah Yoongi.
Kali ini Yoongilah yang terlihat kesal.
“Dia teman masa kecilku dan Yoongi. Dia tinggal di samping rumahku.” Jin akhirnya membeberkan informasi kepada Taehyung untuk menghentikan pemuda tersebut menatap teman perempuannya seakan dia baru saja melihat alien.
Taehyung memindahkan perhatian dari Yoongi dan Sohee ke pada Jin. “Apa kau akan mendokumentasikan pertunjukan kita juga, Hyung?”
“Tentu saja, ini kan pertunjukan bersama pertama kita. Kupikir pasti menyenangkan jika kita bisa menontonnya lagi suatu saat di masa depan ketika kita sudah dewasa.”
“Itu terdengar luar biasa. Apa kita akan tetap berteman setelah kita tumbuh dewasa?”
Jin hanya menaikkan alis matanya. Dia pun tidak yakin mengenai hal tersebut. Tidak ada yang tahu apa yang akan datang di masa depan. Mereka mungkin saja akan berteman hingga mereka masing-masing memiliki keluarga atau berpisah jalan setelah euforia ini berakhir. Siapa yang bisa menebaknya?
“Ayo bersiap.” Yoongi meminta perhatian mereka setelah selesai membuat kesal Sohee. Hari ini dia terlihat memiliki suasana hati yang baik. Itu sebabnya dia merespons Sohee, bahkan sempat membuatnya kesal. Biasanya, Yoongi akan mengabaikan gadis itu pada kesempatan pertama.
Jin segera mengeluarkan digicam dan memberikannya pada Sohee.
“Bantu aku untuk merekamnya. Dan jangan hanya merekam Yoongi. Aku tidak mau melihat Yoongi sepanjang video ketika aku menontonnya ulang.”
“Tapi aku kan mau.”
“Yun Sohee!” Jin memperingatkannya dengan nada keras.
“Baiklah. Aku akan mengambil video masing-masing anggota. Tapi, aku akan merekam Yoongi lebih banyak lagi.” Sohee menambahkan di belakang kemudian melarikan diri sebelum Jin dapat mengambil kamera tersebut kembali.
Jin menghela napas. Dia yakin bahw dia tidak bisa mengharapkan apa pun mengenai rekaman tersebut. Terakhir kali Jin memberikan Sohee digicamnya untuk mereka ulang tahun ketujuh belasnya, video tersebut hanya menunjukkan Yoongi sedang memakan kue ulang tahun Jin, Yoongi mencicipi makanan, atau Yoongi sedang berinteraksi dengan orang-orang di pesta. Ketika menontonnya, Jin bersumpah akan menghanguskan video tersebut dan mengirimnya ke neraka di mana dia tidak dapat melihatnya. Itu adalah sebuah momen mengerikan untuk dialaminya ketika dia memperkirakan sebuah kenang-kenangan yang bagus tentang pestanya tapi yang dia lihat malah Yoongi. Dan hal tercanggung yang terjadi adalah ketika ibunya memasuki ruangannya, video itu sedang menampilkan posisi tidak pantas mengenai Yoongi. Itu membuat ibunya salah paham. Dia nyaris mengira anak laki-lakinya semata wayang ini memiliki hubungan khusus dengan teman masa kecilnya. Dan Jin harus menjelaskannya panjang lebar bahwa itu adalah Sohee yang mengambil gambar dan dia baru saja ingin menghapus semua itu.
Hyung, aku akan menarik orang-orang untuk menonton pertunjukan kita.” Taehyung menyenggol pundak Jin untuk mendapatkan perhatiannya kemudian dia berjalan pergi sendirian dengan placard di tangannya.
Tanpa seseorang pergi bersamanya, Jin yakin Taehyung dapat melakukannya dengan baik. Sebaliknya dia mengkhawatirkan seseorang lainnya. Park Jimin.
Aku baik-baik saja. Aku bisa melakukan ini. Park Jimin, kau bukan orang yang sama seperti sebelumnya. Kau sudah berubah.
Jimin terus mengulanginya di dalam benak. Dia mencoba untuk menghipnotis dirinya agar tidak menciut di bawah tatapan ratusan orang. Tepat ketika dia nyaris kehilangan kepercayaan dirinya lagi, dia merasakan tepukan ringan di bahu kirinya.
Itu adalah Sohee dengan digicam milik Jin. Dan itu terarah pada Jimin.
“Katakan sesuatu pada kamera. Bagaimana perasaanmu?” Sohee menanyakan dengan ramah. Tatapan matanya terlihat tak bermaksud jahat.
“H-hai.” Jimin melambaikan tangan dengan canggung. Sebagian disebabkan karena kamera difokuskan padanya, itu membuatnya gugup. Dia mencoba melawan ingatan-ingatan yang mengancam untuk menyeruak ke atas kesadarannya. Alasan lainnya adalah karena dia tidak pernah mendapati seorang perempuan menatapnya tanpa maksud jahat. Seperti dia tidak punya tujuan lain selain hanya sekadar menatapnya. Terakhir kali mereka menatapnya, itu seperti....
“Katakan hal lain selain ‘hai’. Jin akan marah padaku kalau aku hanya merekam kau mengatakan hai.” Suara Sohee membawa Jimin kembali ke realitas.
“Saat ini aku merasa sedikit gugup. Aku tidak tahu apakah aku bisa melakukan ini dengan baik.” Rasanya pandangan tidak menghakimi yang Sohee berikan membantunya untuk berbicara. Meskipun dia masih sedikit gugup, Jimin mampu menyelesaikan komentarnya tanpa melarikan diri di tengah pembicaraan.
“Jangan khawatir. Kau bisa melakukannya. Jika kau tidak bisa bernyanyi dengan baik Yoongi akan menutupi kekurangan itu untukmu. Dia akan membantumu. Lakukan saja sebisa yang kau mampu lakukan. Kau akan baik-baik saja. Lagi pula, kau cukup manis dan enak dilihat. Akan ada banyak perempuan yang menyukaimu.” Sohee tersenyum pada Jimin.
Komentar tersebut membuat Jimin terpaku untuk sesaat.
“Aku harus pergi ke anggota lain. Sampai jumpa. Semoga beruntung di pertunjukan pertamamu.”
Tanpa menanti jawaban Jimin, Sohee sudah pergi ke Namjoon.
“Apakah semua baik-baik saja? Kau masih bisa tampil hari ini? Tidak apa-apa kalau kau mau berhenti sebelumnya. Bahkan dengan berada di sini sudah membutuhkan keberanian yang besar untukmu.”
Kali ini Jinlah yang mendekati Jimin. Dia menatap Jimin dengan tatapan pedulinya.
“Aku baik-baik saja untuk saat ini. Kupikir aku akan mencobanya.”
“Baiklah. Jangan paksakan dirimu. Kau bisa mengambil langkah lebih kecil untuk keluar dari ketakutanmu.”
“Aku baik-baik saja.” Jimin tidak menyadari bahwa dia dapat mengatakan sesuatu dalam nada tegas seperti ini. Ini adalah pertama kalinya. Mungkin pertemuan singkatnya dengan Sohee baru saja membantunya untuk meringankan perasaannya.
Jin menatapnya sesaat sebelum menjadi yakin untuk meninggalkan Jimin sendiri untuk membantu Yoongi. Jin selalu seperti itu. Dia selalu memperhatikan Jimin dan yang lainnya sehari-hari. Ketika sesuatu menjadi terlalu berat untuk Jimin, Jin akan menjadi yang pertama menyadarinya dan membantunya untuk mengatasinya. Dia tidak melakukan sesuatu secara khusus. Hanya memberi Jimin sepasang telinga dan kehadiran yang selalu siap untuk Jimin jika dia membutuhkan seseorang untuk berbicara dengannya. Tapi, kebanyakan Jimin tidak pernah mengatakan satu hal pun pada Jin. Mereka hanya akan duduk berdampingan dalam diam sebelum Yoongi memanggil mereka kembali dan mengomel karena mereka bermalas-malasan.
Jimin memperhatikan kerumunan sekali lagi. Dia bisa melakukan ini, kan?
☆☆☆☆☆☆☆

 Suka dengan cerita ini? Bisa lanjut baca di postingan dengan tag "Youth of Lily". Kalau nggak sabaran menanti terjemahan bisa langsung mampir ke sini untuk versi Inggrisnya. 



You Might Also Like

0 comments

2016 Reading Challenge

2016 Reading Challenge
Deasy has read 2 books toward her goal of 30 books.
hide