[BTS Fan Fiction] Youth of Lily - Third Run

1:00 AM





 
THIRD RUN
Sick of the same day, the repeating days
Grown-ups and my parents
keep installing confined dreams to me
Number one future career is a government worker?

“Akan kupastikan kau menyesali perkataanmu padaku! Ingat itu!” Itu adalah sebuah seruan yang sangat keras terdengar ketika Namjoon baru saja hendak menuruni tangga menuju sebuah klub hip hop bawah tanah. Tempat tersebut dipenuhi oleh coretan grafiti di dinding. Itu tidak membuat tempat tersebut terlihat kumuh atau berantakan melainkan menambah sisi artistik dari interior bangunan tersebut.
“Jangan berlebihan, Suga. Kau pikir yang kau ciptakan itu musik? Itu bukan apa-apa. Musikmu menyedihkan.”
“Musikmu yang menyedihkan. Setidaknya milikku bukan sampah seperti milikmu. Aku tahu apa yang kubicarakan.”
Suara-suara itu masih terdengar. Seseorang tampaknya sedang berdebat dengan seseorang bernama ‘Suga’. Namjoon tidak merasa terganggu oleh hal tersebut. Dia sudah terbiasa menyaksikan situasi ini. Tempat seperti ini memang selalu dipenuhi oleh orang-orang yang sangat blak-blakan. Tidak jarang dia mendengar seseorang berdebat dengan seseorang lainnya mengenai musik dan idealisme mereka. Tidak jarang juga berbagi pendapat itu berujung menjadi konfrontasi dan menyebabkan orang-orang tersebut saling merilis mix tape untuk mencecar yang lain. Bahkan terkadang mereka merilis mix tape tersebut terlebih dahulu barulah berdebat dengan satu sama lain.
“Persetan dengan kau dan semua orang di sini.”
Namjoon baru saja hendak membuka pintu namun pintu tersebut sudah terbuka dengan sendirinya. Tidak, seseorang membukanya terlebih dahulu sebelum dia melakukannya. Sebuah mimpi buruk dalam wujud seseorang berambut merah muncul di hadapannya. Ternyata salah satu dari orang yang sedang berdebat itu adalah Min Yoongi, siswa yang dia lihat di atap sekolah.
“Maaf, aku tidak tahu ada orang berdiri di belakang pintu. Oh, Namjoon.”
Sudah terlambat untuk Namjoon melarikan diri sebelum pemuda itu mengenalinya. Jika saja dia tahu bahwa pertemuan tersebut mampu membawanya ke dalam masalah yang lebih dalam mungkin sejak awal Namjoon akan mengganti jadwal pertemuannya dengan Hyung yang dia kenal.
☆☆☆☆☆☆☆

“Jadi Hyung berambut merah ini dipanggil Suga di klub bawah tanah? Aku tidak tahu kau punya ketertarikan terhadap dunia seperti itu.” Taehyung menyerukan keheranannya setelah mendengar cerita Namjoon –yang dia paksakan ingin ketahui– mengenai pertemuannya dengan Yoongi. “Ngomong-ngomong, tempat seperti apa itu klub bawah tanah?”
Namjoon mengerang dalam benak. “Mengapa kau terus mengikutiku? Aku sudah ceritakan semua.”
“Tidakkah kau akan bertemu dengan Suga Hyung? Aku mau ikut.” Pemuda itu sudah mengubah caranya menyebut siswa berambut merah itu dari Hyung berambut merah menjadi Suga Hyung.
“Kenapa kau harus ikutan? Ini bukan urusanmu dan aku tidak akan pergi ke sana. Aku akan pulang ke rumah.” Namjoon mempercepat langkah kakinya menuruni tangga sesegera mungkin sebelum objek dari topik bahasan mereka muncul.
“Hei!”  Taehyung berlari mengejarnya. “Biarkan aku ikut. Aku tidak punya hal yang harus dilakukan setelah sekolah. Atau izinkan aku main ke rumahmu.”
“Kalau kau tidak punya kerjaan setelah sekolah ya pulang ke rumah! Aku tidak punya waktu bermain denganmu seusai sekolah.”
“Tapi aku tidak ingin pulang ke rumah secepat ini.” Tiba-tiba saja terjadi perubahan dalam suasana hati Taehyung. Rasanya seperti dia sangat membenci rumahnya hingga jika dia bisa lakukan, dia tidak ingin pulang sama sekali.
Namjoon menghentikan langkah kakinya ketika menyadari hal tersebut. Taehyung sering melakukannya, hampir setiap hari sesungguhnya. Dia akan mengganggu Namjoon untuk bermain dengannya sepulang sekolah atau membiarkannya ikut ke tempat Namjoon harus pergi. Namun Namjoon selalu berhasil untuk meloloskan diri dari pemuda itu setiap kali.
“Aku tahu kalau aku harus mencegatmu di gerbang sekolah.” Suara lain terdengar.
Namjoon menolehkan kepalanya hanya untuk melihat Yoongi telah berdiri di dekat gerbang sekolah dengan santai bersama pemuda berwajah manis di sampingnya.
Apa yang sesungguhnya dia telah lakukan di masa lalu hingga menyebabkan dia harus bertemu dengan orang-orang aneh seperti ini? Mereka begitu bersikukuh untuk membuat Namjoon terlibat dengan mereka. Pertama-tama, Rahoon, Taehyung, dan kemudian sekarang Min Yoongi. Apakah dia mudah dikendalikan? Itukah sebabnya orang-orang ini berpikir mereka dapat memaksanya melakukan hal-hal dengan mereka?
☆☆☆☆☆☆☆
“Jadi, kau bertengkar dengan anggota krumu sebelumnya hingga akhirnya kau memutuskan untuk membentuk krumu sendiri. Dan sekarang kau ingin Namjoon untuk bergabung dengan kru tersebut?” Taehyung adalah orang yang pertama yang mengucapkan sesuatu setelah Yoongi menjelaskan hal yang dia inginkan dari Namjoon di dalam kafe sekitar sekolah.
Ada empat orang yang sedang duduk saling berhadapan di sekitar meja. Namjoon duduk bersama Taehyung sedangkan Yoongi bersama dengan temannya di hadapan mereka.
Yoongi mengangguk untuk menjawab pertanyaan Taehyung.
“Kenapa?” Taehyung bertanya lebih lanjut. “Bagaimana kau bisa seyakin itu kalau dia akan cocok dengan idealisme musikmu, terlebih lagi dengan kepribadianmu? Atau mengapa kau tidak menanyakan hal tersebut kepada teman-teman dari klub bawah tanahmu untuk bergabung?”
“Dia adalah serigala penyendiri di dalam sana.” Pemuda yang duduk di samping Yoongi menyela.
“Diam kau!” Yoongi mendorong temannya dan temannya itu hanya terkekeh. Dia tidak terlihat tersinggung dengan sikap tersebut, malahan membalasnya dengan komentar lain.
“Aku adalah teman satu-satunya yang dia miliki. Buruk untukku. Ini terjadi hanya karena kami tumbuh besar bersama.”
Yoongi memutar matanya kesal.
Siapa nama pemuda itu tadi? Seokjin, ya dia lebih ingin dipanggil Jin. Pemuda ini berwajah manis, tipe laki-laki yang akan dikagumi oleh perempuan karena citranya yang lembut. Tapi untuk Namjoon ia terlihat membosankan. Pemuda tersebut terlihat lebih mirip wallflower jika dibandingkan dengan Yoongi yang mencolok dengan kepribadian maupun penampilannya. Kalimat-kalimat itu adalah yang pertama Jin ucapkan setelah dia memperkenalkan namanya.
“Aku tahu kalau Namjoon adalah salah satu orang yang ingin kuajak bergabung ketika aku ingin membuat musik yang sesungguhnya. Aku pernah melihat tulisannya. Aku tahu ketika aku membacanya.” Yoongi tidak lagi memedulikan komentar temannya.
“Musik yang sesungguhnya? Seperti apa yang kau maksud?” Namjoon akhirnya menyuarakan sesuatu setelah bergabung ke dalam percakapan panjang yang Yoongi paksakan.
“Hip hop. Musik yang sesungguhnya yang dapat menyampaikan pemikiran dan pandangan kita. Bukan lirik-lirik menyedihkan yang orang-orang penuh kepalsuan itu muntahkan. Pesan yang kuat yang mampu menyentuh kemudian menggerakkan hati banyak orang.” Yoongi terlihat serius ketika mengutarakan hal tersebut. Dia terlihat sungguh memaksudkan hal tersebut.
Sesungguhnya hal tersebut menyentak Namjoon. Dia belum pernah memutuskan untuk bergabung dengan kru mana pun. Sebelumnya dia hanya bermain sendiri atau terkadang dengan Hyung yang dia kenal sejak kecil. Hyung yang satu itu adalah seorang produser musik. Dialah yang memperkenalkan Namjoon ke dalam dunia semacam ini. Namun dia tidak pernah merasa yakin untuk terlibat lebih jauh. Namjoon tidak pernah menginginkan bergabung dengan sebuah kru. Dia hanya ingin melakukan ingin untuk kesenangan pribadi semata. Dia bahkan belum mengetahui apa yang sesungguhnya dia ingin lakukan dalam hidup.
“Keren!” Taehyung berseru. Matanya bersinar lebih cerah. Dia menepuk tangannya seperti anak-anak yang bersemangat. “Apakah aku boleh bergabung dengan kru juga?”
Yoongi mengerutkan dahi.
“Ayolah, kau kan tidak bisa membentuk kru kalau hanya terdiri dari dua orang. Itu disebut Duo.” Taehyung menggoyang lengan Yoongi.
“Kau bisa melakukan rap?”
Rap?” Taehyung terlihat sedikit bingung.
“Bisa menari hip hop?”
“Aku bahkan tidak bisa menari untuk lagu anak-anak.”
“Kalau begitu, bisa menulis lagu?”
“Uhm ... belum pernah mencobanya, tapi aku bisa mempelajarinya.”
Yoongi mengerang. “Lantas apa yang akan kau lakukan di dalam kru?”
“Belajar?”
“Apakah kau bahkan paham apa itu musik hip hop?” Yoongi nyaris kehilangan kesabaran.
Namjoon menyadari hal ini. Yoongi punya kesabaran yang pendek. Mungkin itulah yang menyebabkan dia tidak dapat bergaul dengan anggota krunya.
“Tentu saja aku tahu musik hip hop. Show me the money! A Yo! Turn up!” Taehyung membuat gerakan tangan seperti yang para rapper di acara televisi yang sedang popular di stasiun TV kabel itu. Tanda Illionaire, dua jari ke atas membentuk huruf L dengan ibu jari ke samping.
“Memangnya kau tahu apa arti ‘turn up’?” Yoongi menantang.
“Pesta dimulai?”
“Apa arti musik hip hop untukmu?”
“Musik hip hop  itu adalah ....” Pertanyaan kali ini terlalu sulit untuk Taehyung jawab. Matanya bergerak condong ke kiri pertanda dia sedang memutar keras otaknya untuk menemukan jawaban. Kemudian dia menatap Namjoon untuk mendapatkan bantuan.
Namjoon menaikkan bahunya tak acuh.
“Kau bahkan tidak paham apa yang akan kau lakukan di sini, bagaimana bisa kau bergabung dengan kru milikku?”
“Aku juga tidak paham mengenai hip hop, jadi aku pun tidak bisa bergabung dengan kru ini.” Ini dia. Ini adalah sebuah kebohongan namun hanya inilah yang merupakan jalannya untuk melarikan diri satu-satunya. Namjoon berdiri dari kursi dan meraih lengan Taehyung. “Ayo pulang.”
Taehyung menolak untuk pergi. Ia menepis tangan Namjoon. “Jika kita tidak tahu kita selalu bisa untuk mempelajarinya bersama. Kita kan masih muda. Masih punya banyak waktu untuk belajar. Ya kan, Hyung?”
Yoongi terlihat tidak puas namun pada akhirnya dia menyerah dengan kekeraskepalaan Taehyung.
“Baiklah, kau boleh bergabung dengan kru. Kau akan harus belajar sangat keras, jauh dari yang bisa kau bayangkan. Aku akan membuatmu sengsara saat belajar.”
“Nggak masalah, aku punya banyak waktu.” Taehyung tidak terlihat terintimidasi oleh ancaman tersebut.  Dia menoleh ke arah Jin yang hanya mengawasi interaksi mereka. “Hyung, apa kau juga anggota dari kru ini? Apa yang kau lakukan di sini? Apa kau melakukan rap?”
“Dia bukan bagian dari kru.” Yoongi menyela Taehyung.
“Aku bukan anggota. Aku tidak bisa melakukan rap sama sekali, terlebih lagi menari.” Jin mengatakannya dengan sedikit malu-malu sambil mengusap belakang lehernya dengan canggung.
“Kalau begitu sama denganku. Ayo bergabung dengan kru. Kita bisa belajar bersama. Lebih banyak orang bergabung akan lebih menyenangkan.” Sekali lagi Taehyung membuat keputusan tanpa bertanya terlebih dahulu. Dia terlalu bersemangat untuk menyadari hal tersebut.
Yoongi hanya dapat mendesah khawatir. Dia tidak menyangka akan mendapatkan anggota kru yang sedikit gila ketika mengatakan ingin membentuk sebuah kru sendiri.
“Apa kita akan mengikuti kompetisi nanti?” Taehyung sudah larut dalam dunia imajinasinya. Dia terus-terusnya mengucapkan hal-hal yang ingin dia lakukan bersama dengan kru tersebut.
☆☆☆☆☆☆☆

“Semuanya 5.600 won.” Kasir tersebut meletakan sebotol susu pisang yang baru saja dia pindai bersama dengan benda-benda lain yang diambil oleh pelanggan tersebut.
Sesosok siswa tingkat menengah pertama yang memiliki sepasang mata bundar besar menarik keluar kartu multi fungsinya untuk membayar belanjaannya. Pemuda SMP itu memiliki tipikal pretty boy. Kulitnya putih bersih, hidungnya mancung, rahangnya membentuk tajam, dan matanya besar, tidak sipit seperti orang Korea kebanyakan. Di lehernya tergantung sebuah headphone merah dengan logo b.
“Terima kasih atas pembeliannya.” Kasir tersebut mendorong seluruh belanjaan yang telah dibayarkan. Pemuda tersebut meraihnya satu persatu, beberapa camilan ringan, ke dalam tas punggungnya. Dia menyisakan susu pisang untuk langsung dia minum selagi berjalan keluar dari mini market tersebut.
“Maaf, aku terlambat sepuluh menit, kan? Guru itu menahanku untuk pembicaraan sepanjang 20 menit. Aku bahkan tidak tahu apa saja yang dia bicarakan.” Hoseok berlari masuk ke dalam toko tersebut. Dia nyaris saja menabrak siswa SMP itu ketika dia berjalan menuju meja kasir untuk berganti shift kerja dengan temannya.
☆☆☆☆☆☆☆

“Apa itu kau, Jungkook?” Sebuah suara terdengar seketika setelah dia berjalan masuk ke dalam rumah. Itu adalah suara ibunya dari dalam dapur. Ibunya sedang mempersiapkan makan malam.
“Ya, Omma.” Jungkook melepaskan sepatu dan meletakkannya dengan rapi di dalam rak sepatu.
“Kau tidak pergi ke hagwon (tempat les privat)?” Ibunya muncul di hadapan Jungkook dengan tangan yang berlumur cairan merah. Sepertinya makan malam keluarga malam ini adalah sesuatu yang dimasak dengan kimchi.
“Mereka membatalkan kelas lagi malam ini.”
“Lagi? Memang ternyata tempat itu tidak bagus. Aku harus mencari hagwon lain untukmu, Jungkook.” Ibunya terlihat kesal. Dia mulai mengeluhkan mahalnya biaya les yang harus dibayarkan dan hasil yang mereka dapatkan.
“Aku mau masuk kamar.” Jungkook membetulkan letak tali tas punggung di atas bahu kirinya.
“Baiklah, masuk ke kamarmu dan belajar untuk besok. Makan malam masih sejam lagi selesai. Kau bisa mandi dulu dan belajar.”
Jungkook tidak menjawab ibunya. Ibunya mengira bahwa dia akan melakukan seperti yang disuruh, namun dia tidak melakukannya. Setelah masuk ke dalam dia malah tidak melakukan apa pun. Setelah melempar tas punggung dan headphone merahnya ke atas meja belajar, Jungkook membaringkan tubuh di atas tempat tidur tanpa mengganti seragam ataupun melepas kaus kakinya.
Jungkook muak dengan belajar sepanjang hari. Jam dinding telah menunjukkan waktu 18.30. Dia sudah belajar hampir sepuluh jam sehari. Dia tidak menginginkannya lagi untuk malam ini. Dia ingin keluar bermain bersama temannya seperti anak-anak seusianya, namun ibunya tidak berpikir bahwa itu adalah ide yang baik.
Ibunya mengira bahwa Jungkook harus mempersiapkan masa depannya sejak awal. Jungkook harus mengambil seluruh pelajaran yang bisa dia ambil bahkan sebelum dia memahami apa yang harus dia lakukan dengan hal tersebut. Dia tidak mengerti mengapa dia harus mempelajari semua hal tersebut.
Tapi, memahami hal tersebut pun tak akan membuat perbedaan. Dia bahkan tidak mengingat apa yang sesungguhnya dia ingin lakukan di masa depan.
☆☆☆☆☆☆☆



Enjoy the story? Search the other chapter under youth of lily tag

You Might Also Like

3 comments

  1. huwaaa, keren!!
    lanjut ya kak :))

    ReplyDelete
  2. Lanjut kak daisy lanjut.... pengen tau gimana mereka be 7 bisa bersatu... udah ada rm,sg,j,v... tinggal hopie,jk ama jm ^^ suka bgt crita nya.. update kapan kak?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ceritanya mah sudah kuupdate sampe ke4 di sini. Updatenya... kalau sempat. Masih sibuk nerjemahin.

      Delete

2016 Reading Challenge

2016 Reading Challenge
Deasy has read 2 books toward her goal of 30 books.
hide