[Terjemahan] Demian - Chapter Satu: Dua Dunia (Part 1)

6:21 PM



Catatan: karena Bab 1 cukup panjang, aku akan membaginya menjadi dua post. Bagian selanjutnya masih dalam proses penerjemahan. Sabar ya. :)  Untuk PDF versionnya akan kuperbaharui setelah semua lengkap. Bentuk paragraf dan kalimatnya memang panjang-panjang seperti ini. Aku nerjemahin sesuai dengan Bahasa Inggrisnya. Semoga tidak ada yang tersesat selama membaca ini. :) 

Yang belum pernah baca novel klasik mungkin akan pusing. Lol. Novel ini cukup berat karena konten filosofis dan referensi-referensi ke buku-buku klasik lainnya. Yang bingung, pegangan! Atau cobalah gugling. Lumayan menambah pengetahuan. Ingat trivia facts yang sudah kukasih sebelumnya.  Selamat membaca dan semoga sukses untuk memecahkan misteri #BTSWINGS. Hehe. Yang ingin tahu bedah #BTSWings Lie versiku, bisa mampir ke sini.


Catatan tambahan: 

Karena banyak yang tidak membaca catatan postinganku di Chapter 2 part 1, aku akan ulangi di setiap post. Untuk siapa pun, tolong jangan di REPOST di mana pun, wattpad/blog/Livejournal/wordpress/dsb. Kalau mau print boleh, tapi tidak boleh diperjualbelikan. Mau share boleh tapi hanya share link blog post saja. Tidak boleh mengcopy sebagian atau seluruh bagian dari postinganku. Baik link PDF atau postingan.

Kalau aku googling dan kutemukan ada yang melakukan itu, link PDF akan kutiadakan dan postingan akan kukunci supaya tidak bisa dicopy sama sekali.

Jadi tolong, teman-teman yang baik, jangan lakukan itu ya. Berbagi itu boleh, tapi nggak gitu caranya. :) 




CHAPTER SATU
Dua Dunia


            Aku memulai kisahku dengan sebuah pengalaman dari rentang waktu ketika aku berusia sepuluh tahun dan menjalani sekolah dasar swasta[1] di kota kecil kami.

Banyak kenangan yang berembus kepadaku, menyentuh masuk ke dalamku dengan melankolis dan sensasi yang menyenangkan; jalanan sempit dan gelap, rumah bercat terang dan menara-menara gereja, denting jam dan wajah orang-orang, ruangan-ruangan dipenuhi kehangatan rumah yang nyaman, ruangan-ruangan dipenuhi oleh misteri dan ketakutan besar akan hantu. Ada aroma kurungan yang nyaman, kelinci dan pelayan perempuan, pengobatan rumah dan buah-buah kering. Dua dunia bersisian di sini. Pagi dan malam berasal dari dua kutub.

Dunia yang satu adalah rumah ayahku, tapi ini bahkan lebih sempit daripada itu; sesungguhnya itu hanya berisi kedua orang tuaku. Hampir setiap saat dunia ini sangat familier untukku; maksudnya ayah dan ibu, cinta dan kesederhanaan, sikap penuh teladan dan sekolah. Ini adalah dunia yang dipenuhi sinar hangat, kejelasan, dan kebersihan; ucapan yang lemah lembut dan ramah, tangan-tangan yang tercuci, pakaian bersih, dan sikap yang pantas ada di sini. Di sini paduan suara kidung pujian pagi hari dinyanyikan. Di sini Natal dirayakan. Dalam dunia ini ada sebuah garis lurus dan jalan yang menuju masa depan. Ada kewajiban dan perasaan bersalah, nurani yang bermasalah dan pengakuan, pengampunan dan resolusi yang baik, cinta dan rasa hormat, Injil Alkitab dan kebijaksanaan. Ini adalah dunia yang jika diikuti akan membawa kehidupan seseorang menjadi terang dan suci, penuh cinta dan teratur.

Di sisi berlawanan, dunia yang lain dimulai tepat di dalam rumah kami. Dia sama sekali berbeda, aromanya tidak sama, caranya berbicara pun berbeda, menjanjikan janji-janji dan tuntutan yang berbeda. Dalam dunia yang kedua ini ada para pelayan perempuan dan pekerja harian, cerita-cerita hantu dan rumor-rumor penuh skandal. Ada beraneka ragam aliran dari hal-hal yang gaib, menggoda, menakutkan, membingungkan. Hal-hal seperti rumah jagal dan penjara, para pemabuk dan wanita-wanita yang bertengkar, sapi-sapi yang melahirkan, kuda-kuda yang tumbang, cerita-cerita penjarahan, pembunuhan, bunuh diri. Semua hal yang indah sekaligus mengerikan, liar dan kejam hadir di setiap sudut, di jalan seberang, di rumah sebelah; para polisi dan gelandangan berlarian, para pemabuk memukul istri-istri mereka, sekelompok perempuan muda berhamburan keluar dari pabrik di sore hari, perempuan-perempuan tua akan memantraimu hingga kau jatuh sakit, para penyamun hidup di antara pepohonan, para pembakar ditangkap oleh pihak kepolisian–dunia penuh kekerasan kedua ini mengalir dengan mencolok ke seluruh penjuru, kecuali dalam ruangan kami, tempat di mana Ibu dan Ayah berada. Dan hal tersebut sangat baik. Itu terasa luar biasa di sini. Di antara kami terdapat kedamaian, keteraturan, dan ketenangan, kewajiban dan nurani yang jernih, pengampunan dan cinta–dan luar biasa bahwa hal itu masih ada, semua hal berisik, melotot, muram, dan keji itu masih bisa lolos dari genggaman seorang ibu.

Dan hal yang paling ganjil dari semua hal tersebut adalah bagaimana kedua dunia itu berbatasan satu sama lain, mereka sangat dekat pada satu sama lain! Contohnya saja, ketika pelayan perempuan kami, Lina, duduk di pintu ruang tamu saat doa sore hari dan bergabung dalam nyanyian pujian dengan suaranya yang jernih, tangannya yang kasar menempel pada celemeknya yang licin, dia merupakan bagian dari Ayah dan Ibu, dengan kami, dengan terang dan kebenaran. Segera setelahnya, di dapur atau ruang penyimpanan kayu, ketika dia menceritakan padaku kisah tentang jembalang tak berkepala atau pertengkaran dengan tetangga perempuan di toko daging, dia menjadi seseorang yang berbeda. Dia milik dunia yang lain. Dia diselubungi oleh misteri. Dan begitu pula dengan segala hal, terutama dengan diriku. 

Secara alami aku merupakan milik dunia terang dan kebenaran. Aku adalah anak dari kedua orang tuaku; tapi setiap kali aku membalikkan kedua mata dan telingaku, dunia yang lain ada di sana dan aku hidup di dalamnya, pula, meskipun itu sering terasa asing dan aneh untukku, meskipun aku sering kali merasakan ketidaktentraman dan kecemasan darinya. Kenyataannya, sewaktu-waktu ketika aku lebih memilih untuk hidup dalam dunia terlarang, dan sesekali kembali pada dunia terang, tidak peduli bagaimanapun penting dan baiknya hal tersebut, rasanya seperti kembali ke suatu tempat yang kurang indah, lebih membosankan dan suram. 

Pada saat inilah aku mengetahui tujuan dalam hidupku adalah untuk menjadi seperti ayah dan ibuku, terang dan suci, superior dan teratur seperti mereka. Tapi itu adalah jalan yang panjang untuk dilalui; sebelum kau sampai di sana kau harus menghadiri sekolah dan belajar dan mengikuti tes-tes dan ujian-ujian, dan jalanan itu terus-terusan mengiringimu dengan dunia lain yang lebih gelap, dan dalam melaluinya sangat mungkin untuk terjebak dan tenggelam di dalamnya. Ada beberapa kisah mengenai anak yang hilang[2] yang pernah terjadi; aku pernah membaca kisah-kisah tersebut dengan antusias. Kembalinya mereka ke rumah kepada ayah mereka dan kehidupan yang baik selalu memuaskan dan megah; aku menyadarinya bahwa itulah satu-satunya hasil yang tepat, baik, dan diinginkan, namun pada bagian dari cerita tersebut yang mengambil tempat dari sudut pandang para orang yang jahat dan yang tersesat jauh lebih menarik. Dan jika dia bebas untuk berpendapat dan mengakuinya, sering kali sesungguhnya hal itu terasa sangat memalukan bahwa si anak yang hilang bertobat dan ditemukan kembali. Tapi dia tidak  pernah mengatakannya dan bahkan tidak pernah memikirkannya. 

Ide tersebut hanyalah muncul sebagai sebuah firasat atau kemungkinan jauh di dalam benakmu. Ketika membayangkan sang Iblis, aku dapat dengan cukup mudah membayangkannya di tengah jalan, menyamar atau dengan mudah teridentifikasi, atau mungkin di pekan raya atau dalam sebuah kedai minuman, tapi tidak pernah sekalipun terbayang dia ada di dalam rumah kami.

Saudara-saudara perempuanku juga merupakan bagian dari dunia terang. Sering kali kusadari bahwa pembawaan mereka mendekati pembawaan ayah dan ibu; mereka lebih baik, lebih berkelakuan baik, lebih sempurna dibanding diriku. Mereka memiliki kelemahan. Mereka dapat menjadi nakal, tapi, sepenglihatanku, itu tidaklah serius, tidak seserius yang kulakukan. Dalam kasusku, berhubungan dengan kejahatan sering kali membebani dan menyiksa, dunia kelam lebih dekat di tangan. 

Seperti kedua orang tuaku, saudara-saudara perempuanku adalah orang-orang yang harus dilindungi dan dihargai. Setelah berkelahi dengan mereka, naluri menyatakan bahwa akulah yang bersalah di sini, penghasutnya, seseorang yang seharusnya meminta pengampunan. Dengan menghina saudara-saudara perempuanku, aku menghina kedua orang tuaku, golongan yang baik dan terhormat. 

Ada rahasia-rahasia yang lebih cepat dapat kubagi kepada anak-anak jalanan yang kurang ajar daripada kepada saudari-saudariku. Pada hari-hari yang baik, hari-hari terang dan naluri yang tidak bermasalah, rasanya menyenangkan untuk bermain dengan saudariku, untuk bersikap baik pada mereka dan berkelakuan baik, dan untuk melihat diriku dalam sinar yang baik dan luhur. Itu mungkin rasanya menjadi seorang malaikat! Itu adalah tujuan tertinggi di antara pengetahuan kita, dan kita membayangkannya manis dan luar biasa untuk menjadi seorang malaikat. Diselubungi oleh musik yang jernih dan aroma yang harum, seperti Natal dan kebahagiaan. Oh, betapa sangat jarang terjadi kemungkinan untuk hidup seperti itu berjam-jam, berhari-hari. Sering kali selagi bermain, bermain baik, tidak mengganggu, permainan-permainan yang diizinkan, aku menjadi terlalu bersemangat dan kasar kepada saudariku. Ini mengakibatkan argumentasi dan ketidakbahagiaan. 

Dan ketika amarah menguasaiku pada waktu seperti ini aku adalah mimpi buruk, melakukan dan mengatakan hal-hal yang jahat yang kurasakan secara mendalam  dan menyakitkan pada saat itu kepada mereka. Kemudian datanglah waktu penyesalan yang gelap dan menyebalkan. Dan saat yang mengerikan adalah ketika aku minta untuk dimaafkan, kemudian sekali lagi terdapat sebuah sinar terang, perasaan bersyukur yang tenang dari kebahagiaan yang tak terbagikan yang dapat bertahan beberapa jam atau sesaat saja.

Aku menghadiri sekolah dasar swasta. Anak Walikota dan anak kepala polisi kehutanan berada di kelas yang sama denganku. Mereka sesekali mengunjungiku. Meskipun merupakan anak-anak liar namun mereka adalah bagian dari dunia yang baik dan yang diizinkan. Dan juga aku dekat dengan anak-anak lelaki tetangga yang bersekolah di sekolah dasar negeri, anak-anak yang sering kali kami pandang rendah. Dengan salah satu dari merekalah aku harus memulai ceritaku.

Suatu sore hari ketika tidak ada kelas –aku tidaklah lebih tua dari sepuluh tahun– aku sedang bermain dengan dua anak laki-laki dari sekitar rumah. Kemudian datanglah anak laki-laki yang lebih besar daripada kami. Tegap dan perkasa, seorang anak berusia tiga belas tahun yang kasar dari sekolah dasar negeri, anak dari seorang penjahit. Ayahnya suka minum-minum dan seluruh anggota keluarganya memiliki reputasi yang buruk. Aku mengenal Franz Kromer dengan baik dan aku takut padanya, itulah sebabnya aku tidak menyukainya bergabung dengan kami. 

Dia bersikap seperti pria dewasa, menirukan cara jalan dan kebiasaan berbicara para buruh pabrik muda. Dengannya sebagai ketua, kami menyisir tepi sungai dekat jembatan dan bersembunyi di bawah lengkungan pertama jembatan. Tepian yang sempit di antara dinding jembatan berkubah dan air yang mengalir lamban menyimpan benda-benda tak terpakai, benda pecah belah yang pecah, sekumpulan kawat yang kusut dan sampah-sampah lainnya. Sesekali benda yang masih dapat dipakai bisa ditemukan di sini. 

Di bawah arahan Franz Kromer kami harus memeriksa bentangan tanah dan menunjukkan padanya apa yang kami temukan. Kemudian dia akan menyimpannya di kantong atau melemparkannya ke dalam air. Dia memerintahkan kami untuk menaruh perhatian khusus pada benda-benda timah dan kuningan yang mungkin ada di sana. Dia menyimpan mereka semua, begitu pula sisir tanduk tua. Aku merasa tegang dengan keberadaannya, tidak hanya karena aku tahu ayahku akan melarangku berhubungan dengannya jika dia tahu tapi karena ketakutan kepada Franz sendiri. Aku merasa senang dia mengikutsertakanku dan memperlakukanku seperti yang lain. Dia memberi perintah dan kami mematuhinya seakan itu adalah kebiasaan yang sudah sejak lama padahal ini adalah pertama kalinya aku bergaul dengannya.

Akhirnya kami duduk di tanah. Franz meludah ke air dan terlihat seperti pria dewasa. Dia meludah melalui celah di antara giginya dan mampu menghantam arah yang dia tuju. Sebuah percakapan dimulai dan anak-anak itu mulai membual dan menyombongkan diri mengenai kisah heroik dan kenakalan yang mereka lakukan. Aku tetap terdiam namun takut bahwa diam ini akan membawa perhatian ke arahku dan membuat Kromer marah padaku. Dari awal kedua temanku telah direbut dariku dan berpihak padanya. Aku adalah orang asing di antara mereka dan aku merasa pakaian dan sikapku mengusik mereka. Sebagai siswa sekolah dasar swasta dan seorang “anak kaya”, aku tidak mungkin disukai Franz, dan aku sangat menyadari hal itu. Dan ketika saat itu terjadi, dua temanku itu akan angkat tangan dan meninggalkanku dalam kesukaran.

Akhirnya, murni karena ketakutan, aku mulai menceritakan sebuah kisah pula. Aku mengarang sebuah kisah pencurian yang luar biasa dan membuat diriku sebagai sosok pahlawan Ceritaku adalah di sebuah kebun buah-buahan dekat Pabrik Penggilingan Corner, bersama dengan seorang teman, aku mencuri sekarung penuh apel pada malam hari. Bukan sebuah apel yang biasa namun khususnya Reinettes dan Golden Pearmain dari varietas terbaik. Dalam kisah ini, aku meloloskan diri dari saat penuh bahaya. Aku adalah pencipta yang fasih dan pencerita yang ulung. Agar tidak segera berakhir dan mungkin berkembang menjadi sesuatu yang lebih buruk, aku menunjukkan keahlian khususku. Salah satu dari kami, kuceritakan seperti itu, harus mengalihkan perhatian penjaga setiap saat ketika yang lain menjatuhkan apel-apel. Karung tersebut sangat berat sehingga kami harus membukanya lagi dan meninggalkan sebagian apel. Tapi kami kembali setengah jam kemudian untuk mengambil sisanya.

Ketika selesai bercerita, aku sedikit mengharapkan tepuk tangan ringan. Perlahan aku menjadi terlalu bersemangat dan di bawah pengaruh puntalan benang ceritaku sendiri. Dua anak laki-laki yang lebih muda terdiam penuh pengharapan namun Franz Kromer menatapku dengan tajam lewat matanya yang tertutup separuh dan bertanya padaku dengan suara yang mengancam: “Apa itu benar?”
“Ya,” aku menjawab.
“Jadi itu sungguh dan benar terjadi?”
“Ya, sungguh dan benar terjadi,” aku memastikan selagi kecemasan mulai mencekikku.
“Apa kau bisa bersumpah atasnya?”
Aku menjadi ketakutan, namun aku segera menjawab ya.
“Kalau begitu katakan: ‘Demi Tuhan dan Penyelamatku!”
Aku mengatakannya: “Demi Tuhan dan Penyelamatku.”
“Baiklah kalau begitu,” dia mengatakan dan kemudian berbalik.”
Kupikir itu adalah sebuah akhir dan sesaat aku merasa senang ketika dia berdiri dan mulai berjalan pulang. Ketika kami berada di jembatan, dengan canggung kukatakan bahwa aku harus pulang.
“Jangan buru-buru.” Franz tertawa, “lagi pula kita kan menuju arah yang sama.”

Dia melenggang di depan dengan pelan dan aku tidak berani mendahuluinya tapi dia sungguh berjalan ke arah rumah kami. Ketika aku melihat pintu rumah kami dengan kenop kuningannya, sinar matahari pada jendela dan gorden pada ruangan ibuku, aku menarik napas lega yang dalam. Oh, aku pulang! Oh, aku berhasil kembali pada rumah yang penuh berkat kebaikan, kembali pada terang dan kedamaian!

Ketika aku membuka pintu dengan cepat dan menyusup masuk, bersiap untuk menutupnya, Franz Kromer mendobrak masuk. Dia berdiri di sampingku di koridor yang dingin dan gelap dengan lantai keramik di mana cahaya hanya berasal dari halaman. Dia memegang lenganku dan berbisik: “Hei, kau, jangan terburu-buru seperti itu!”

Aku menatapnya dalam ketakutan. Genggamannya pada lenganku terasa sekeras besi. Aku memikirkan tentang kemungkinan niatannya dan apakah dia ingin menghajarku. Jika aku berteriak mencari pertolongan sekarang, kupikir, berteriak keras, seseorang dari atas tangga akan muncul cukup cepat untuk menolongku? Tapi aku memutuskan untuk tidak melakukannya.

“Ada apa?” aku bertanya. “Apa yang kau inginkan?”
“Tidak banyak. Aku hanya harus menanyakan suatu hal lain padamu. Yang lain tidak perlu mendengarnya.”
“Benarkan? Baiklah, apa lagi yang harus kuceritakan padamu? Aku harus naik, kau tahu.”
Franz berbisik, “Aku yakin kau tahu siapa yang memiliki kebun buah-buahan di Pabrik Penggilingan Corner.”
“Tidak, aku tidak tahu. Kurasa, para penggiling.”
Franz menyampirkan lengannya di sekitarku dan sekarang menarikku dekat ke arahnya sehingga aku terpaksa untuk menatap langsung ke wajahnya. Matanya terlihat jahat, ia memiliki senyuman yang menjijikkan, dan wajah dipenuhi kekejaman dan kekuatan.
“Ya, Nak, aku adalah orang yang dapat memberitahumu siapa yang memiliki kebun tersebut. Aku sudah mengetahui selama beberapa waktu bahwa apel-apel itu dicuri, dan aku juga tahu bahwa sang pemilik mengatakan dia akan memberi dua mark[3] kepada siapa pun yang dapat memberitahunya pencuri buah-buah tersebut.”
“Ya Tuhan!” seruku. “Tapi kau tidak akan memberitahunya apa pun, kan?”

Aku tahu tidak akan ada gunanya mencoba membujuk lewat rasa kehormatannya. Dia berasal dari dunia lain, untuknya menusuk dari belakang bukanlah kejahatan. Aku nyaris mempercayai hal tersebut sepenuhnya. Dalam hal seperti ini orang-orang dari dunia “lain” itu berbeda dari kami.

“Tidak memberitahunya apa pun?” Kromer tertawa. “Temanku tersayang, apa kau pikir aku pemalsu uang dan dapat membuat dua keping markku sendiri? Aku ini miskin, aku tidak punya ayah yang kaya raya sepertimu. Dan setiap kali aku dapat menghasilkan dua Mark, aku harus mendapatkannya. Mungkin dia bahkan akan memberiku lebih.”

Mendadak dia melepaskanku lagi. Ruang tamu kami tidak lagi beraroma ketenangan dan kenyamanan, dunia serasa terjungkir balik di sekitarku. Dia akan melaporkanku, aku adalah seorang penjahat, ayahku akan diberitahu, mungkin polisi bahkan akan datang ke sini. Semua teror kekacauan mengancamku, semua yang buruk rupa dan berbahaya berkumpul melawanku. Kenyataan bahwa aku tidak sungguh-sungguh mencuri apa pun tidak akan diperhitungkan. Tak hanya itu, aku bahkan telah bersumpah. Ya Tuhan, ya Tuhanku!

Air mata mulai menggenang di mataku. Aku merasa aku harus menyelamatkan diriku, dan aku menggasak ke dalam kantong bajuku mati-matian. Tidak ada apa pun di sana, tidak ada apel, tidak pula pisau saku. Kemudian aku teringat pada arlojiku. Itu adalah sebuah arloji tua berbahan silver, dan itu tidak berfungsi. Aku hanya sekedar membawanya saja. Itu berasal dari nenekku. Aku segera menariknya keluar. 

“Kromer,” kataku, “dengar, kau tidak boleh melaporkanku, itu tidak akan baik untukmu. Aku akan memberimu arlojiku, lihat. Sayangnya aku tidak punya benda lainnya. Kau dapat memilikinya, ini silver, dan berfungsi dengan baik. Hanya sedikit kerusakan, perlu perbaikan.”
Dia tersenyum dan meraup arloji tersebut ke dalam tangannya. Aku menatap tangan tersebut dan merasakan betapa kasar dan tidak bersahabatnya mereka denganku, bagaimana itu merengut hidup dan ketenangan pikiranku.
“Itu silver–“ sahutku pelan.
“Aku tidak peduli pada silver atau arloji tua milikmu!” katanya dengan menghina. “Perbaiki saja sendiri.”
“Tapi, Franz,” seruku, gemetar oleh ketakutan bahwa dia akan kabur. “Tunggu sebentar! Ambillah arloji itu! Itu silver asli, sungguh. Aku tidak punya apa pun lagi.”
Dia menatapku dingin.
“Kalau saja kau tahu siapa yang akan kutemui. Atau aku juga dapat memberitahu polisi tentang hal itu. Aku cukup mengenal sersan.”
Dia berbalik untuk pergi. Aku menahan lengan bajunya. Itu tidak boleh terjadi! Aku lebih baik mati daripada harus menghadapi semua hal yang akan terjadi jika dia pergi seperti itu.
“Franz,” aku memohon, serak dengan kecemasan, “jangan lakukan hal konyol! Ini hanya candaan saja, kan?”
“Ya, sebuah candaan, tapi candaan yang dapat merugikanmu.”
“Kalau begitu, Franz, katakan padaku apa yang harus kulakukan! Kau tahu aku akan melakukan apa pun!”
Dia mengamatiku dengan matanya yang setengah tertutup dan tertawa sekali lagi.
“Jangan bodoh!” katanya dengan keceriaan palsu. “Kau tahu hal yang sama apa yang akan kulakukan. Aku dapat menghasilkan dua mark dan aku tidak sekaya itu untuk melepaskan kesempatan tersebut, kau tahu itu. Tapi kau kaya, kau bahkan punya arloji. Yang perlu kau lakukan hanyalah memberiku dua mark, begitu saja.”

Aku paham dengan logikanya. Tapi dua mark! Untukku itu juga jumlah yang sangat banyak dan sama mustahilnya seperti untuk mendapatkan, baik sepuluh, seratus, bahkan seribu mark. Aku tidak punya uang. Ada kotak penyimpanan uang kecil di kamar ibuku untuk menyimpan beberapa keping koin sepuluh dan lima sen dari kunjungan paman dan acara yang serupa. Selain itu aku tidak punya apa-apa lagi. Di kala itu aku masih belum menerima uang saku sepeser pun.
“Aku tidak punya apa pun,” kataku sedih. “Aku tidak punya uang sepeser pun. Tapi selain dari itu, aku akan memberimu apa pun. Aku punya sebuah buku tentang suku Indian, dan tentara, dan kompas. Aku akan mengambilnya untukmu.”
Kromer hanya menarik sudut bibir kurang ajar dan jahatnya dan meludah ke lantai.
            “Jangan mengoceh!” katanya angkuh. “Kau bisa menyimpan sampahmu. Sebuah kompas! Jangan buat aku marah sekarang, oke? Berikan uang itu!”
“Tapi aku tidak punya sepeser pun, aku tidak pernah mendapat uang. Aku tidak bisa melakukan apa pun mengenai itu!”
“Baiklah kalau begitu, besok kau harus membawakanku dua mark. Setelah sekolah aku akan menantimu di pasar. Kau paham. Jika kau tidak membawa uang kau akan tahu akibatnya!”
“Ya, tapi dari mana aku bisa mendapatkannya? Ya tuhan, jika aku tidak punya apa pun –“
“Kau punya cukup banyak uang di rumah. Itu urusanmu. Jadi, sampai jumpa besok setelah sekolah. Dan kuberitahu kau: jika kau tidak membawanya–“ Dia merajamkan tatapan mengerikan ke dalam mataku, meludah lagi, dan menghilang bagai hantu.



[1] Lateinschule, adalah sekolah di mana bahasa Latin diajarkan, sering kali disamakan dengan Gymnasium, sekolah di Jerman, negara-negara Scandinavia, atau Eropa tengah yang mempersiapkan siswa-siswanya untuk memasuki universitas). Sering kali juga di sini disamakan dengan sekolah dasar yang mempersiapkan anak-anak bertalenta dan/atau kaya untuk Gymnasium. Kebalikan dari Volksschule, sekolah dasar negeri.
[2] Salah satu kisah yang ada dalam Alkitab.
[3] Satuan mata uang pada Abad Pertengahan. Satuan ini merupakan pengukur massa untuk emas dan perak yang banyak digunakan di Eropa Barat. 1 mark bernilai sekitar 250 g.

Untuk bagian yang lain di bawah label "Demian"

UPDATE 6 FEBRUARI 2017 

Hallo semua, sudah tidak sabaran kan menanti Demian terjemahanku? Sekarang sudah open pre-order loh. 
Di mana?
Di OA Line ini @fsk5729i (Purple Land Shop), yuk yang ingin pesan bisa langsung add OA ini dan isi form pemesanannya. 
Oh ya, untuk yang bertanya apakah akan dijual di gramedia? Yup, pasti! 
Dari penerbit akan mendistribusikan ke seluruh gramedia di Indonesia. Tapi, supaya distribusi ke gramedia bisa menjangkau ke kota-kota kalian, aku mau minta tolong kalian untuk mengisi form ini
Sekalian aku juga mau minta pendapat kalian soal novel OWL SERVICE yang katanya dipakai untuk concept You Never Walk Alone. Kalau aku nerjemahin novel ini, apakah kalian berminat? Silakan isi jawaban kalian di form ya. :) 

You Might Also Like

37 comments

  1. wuah!!! aku kira belum di post ternyata udah, aku bakal selalu nunggu dan jadi pembaca setia disini. sungguh aku sedikit bingung waktu baca yg versi bahasa inggris karena inggris klasik tapi karena terjemahan kakak aku jadi paham... makasih kak makasih udah mau menerjemahkan novel ini. aku nunggu untuk part part selanjutnya kak ^^

    ReplyDelete
  2. wahh... untungnya ada yg nerjemahin,,, makasih banget loh min,, membantu banget bagi saya yg gagap english.. thanks min,,,di tunggu update an selanjutnya... :D

    ReplyDelete
  3. Makasih. Makasih banget udah diterjemahin ke bahasa indonesia. Ditunggu kelanjutannya ya. Semangat ^^9

    ReplyDelete
  4. aigoo, part IInya amat sangat dinanti~ :)

    ReplyDelete
  5. Kak semangat. Aku menunggu versi pdf nyaaaa. Aku padamu kakkk

    ReplyDelete
  6. Hua... thanks banget udah bikin dan posting ini 😊 aku udah baca eng ver nya cuman galham sama alurnya wkwk dan akhirnya aku menemukan terjemahan indonya..

    Semangat buat next chapter πŸ˜‰πŸ˜€

    ReplyDelete
  7. Makasih buat terjemahannya.. kaMu yang terbaikk..
    Aku ijin kopas ya. Biar gampang bacanya. Makasiii
    πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜…πŸ˜˜

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ya. Silahkan. Asal jangan diperjualbelikan saja. Hehehe.

      Versi pdf menyusul.

      Delete
  8. huaaaa. makasih bgt buat terjemahin.aaaa lovelove bgt. ttp semangat!!!. ku kan menunggu. fightingg!!!!

    ReplyDelete
  9. Kelanjutannya ditunggu ya chingu.. btw thanks buat terjemahannya, thanks udah mau rela ngeluangin waktu, energy dan lainnya demi penasaran ini kamsaπŸ˜ŠπŸ˜†

    ReplyDelete
  10. Terimakasih udah mau nerjemahin ini :D Udah penasaran dari kapan ada yang ngasih tau kalo Wings ada hubungan sama Novel ini. Big Thanks!
    Kalo aku print out boleh gak, kak? Dibaca untuk sendiri aja kok. Gak di copy-paste untuk orang lain apalagi aku kasih ke orang lain. I promise. Kalo diijinin aku nunggu sampai selesai baru di print out. Boleh gak? Kalo gak boleh juga gapapa kok :D

    ReplyDelete
  11. Huuaaa akhir kluarr aku terhuraa :"D eh terharuu :"D yeay... aaa ga sabar buat bacanya n ga sabar liat chap 2 nya huehuehue :v . Bts aku rekomendasiin blog ini ke temen ku yg lagi kepo ttg demian hehehe , good job lah intinya (y) makasih kak krna dah transletin :")) fighting kak klnjutannya ditunggu. Oya yg pdfnya itu dah lengkap kan kak chap 1 nya ?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih udah bantu rekomendasi. :)

      Iya yang sudah lengkap PDF chhapter 1 dan prolog.

      Delete
  12. Seneng bgt ada yang terjemahin demian.. Kalo baca yang versi bhs inggris rada binggung. Makasih yaaa:) ditunggu part part selanjutnyaπŸ‘ semangatttπŸ™ŒπŸ™†

    ReplyDelete
  13. Replies
    1. Tolong jangan direpost lagi ke tempat lain. Kalau mau share link saja..

      Delete
  14. makasih udah translate novel yang super berat bahasa nya ini :')
    udah hampir nyerah nyari novel ini di toko buku, eh ada yang terjemahin.
    semoga berguna buat yang cari novel Demian karya Hermann Hesse ini.

    ReplyDelete
  15. Chingu,izin di print boleh?
    Untuk konsumsi pribadi kok
    Wah hasil bedahan y menarik.. Makin penasaran sma BTS wings
    Kamsahamnida

    ReplyDelete
  16. Bikin bukunya aja kakak aku sukaaaa

    ReplyDelete
  17. wahh... kakak hobi terjemahin novel ya...kakak keren bisa nerjemahin novel berat kaya gini

    ReplyDelete
  18. Ko part ke 2 nya ga ada? Atau aku yg ga bisa nyari nya? :v

    ReplyDelete
    Replies
    1. Part 2 hingga selanjutnya sudah tidak lagi dipublish karena terjemahan akan segera terbit. :)

      Delete
  19. Kakak jurusan apa ? Hebat bisa nerjemahin novel inggris gini πŸ˜ŠπŸ‘πŸ‘

    ReplyDelete
  20. Kak ini demiannya kuprint boleh? Buat ujian praktek :)) gak kusebarin kok

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ujian praktek apa harus membawa terjemahanDemian? XD

      Delete
  21. kira kira harganya itu berapa ya, chingu?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Harga online di purple land shop 77rb. Offline di toko buku 86.500. Sudah bisa dipesan kok.

      Delete
  22. kak yg bagian TWO REALMS itu udah ada belum???

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sudah tidak tersedia via blog ini. Silakan membacanya di buku terjemahan yang telah terbit.

      Bisa beli di purple land shop via oa @fsk5729i atau IG shoppurpleland atau kalau ongkirnya mahal beli di gramedia langsung saja. Harga online 77k digabung dgn omelas jadi 150k. Kl di gramedia satunya 86.500

      Delete

2016 Reading Challenge

2016 Reading Challenge
Deasy has read 2 books toward her goal of 30 books.
hide