[BTS Fan Fiction] Youth of Lily - Sixteenth Run

10:11 PM


SIXTEENTH RUN
I’m still standing here with my eyes closed
Lost between the deserts and oceans
I’m still wandering
Where should I go



“Hoseok Hyung!”
Jungkook melangkah keluar dari tempat persembunyiannya di belakang dinding di gang sebelah gedung. Dia telah berdiri di sana selama satu jam hanya untuk melihat sepintas pemuda yang lebih tua yang telah dia nantikan. Rasanya akhir-akhirnya begitu sulit untuk dapat melihatnya. Itulah sebabnya Jungkook harus menantinya. Dia tidak ingin mengganggu pekerjaan pemuda yang terlihat begitu sibuk di belakang meja kasir.
“Oh, Jungkook. Kenapa kau ke sini?” Hoseok terhenti dalam perjalanan keluar dari kafe tempat dia melakukan kerja sambilan. Dia mencoba tidak menunjukkan bahwa dia tidak merasa senang dengan gangguan kecil ini. Dia berusaha bersikap santai.
“Aku ke sini untuk menemuimu, Hyung. Kau tidak lagi kerja di mini market.” Jungkook memergokinya melirik ke arah jam tangannya. Ekspresi wajah Jungkook segera berubah ketika melihatnya. Kedatangannya tidak diinginkan. “Kau bahkan tidak lagi mampir ke tempat Namjoon Hyung. Aku hanya penasaran apa kau baik-baik saja.”
Jungkook mulai kehilangan kepercayaan diri. Dia berbicara dengan sangat pelan hingga jika kau tidak akan mendengarnya, kau akan melewatkannya. Dan Hoseok tidak mendengar hal itu. Dia terusik oleh sebuah panggilan.
“Maaf, aku harus pergi.” Hoseok mencoba untuk mengabaikan panggilan tersebut untuk pamit kepada Jungkook terlebih dahulu sebelum dia pergi.
“Tapi Hyung ....”
Dua minggu lagi adalah pertunjukan langsung kami di stasiun televisi. Itu adalah apa yang Jungkook ingin katakan pada Hoseok. Dia ingin mengabarkan hal itu agar Hoseok dapat kembali bergabung dalam latihan. Dengan begitu seluruh anggota kru akan dapat kembali bersama. Dia pikir itu adalah ide bagus untuk mengumpulkan mereka kembali di pertunjukan langsung tersebut. Tapi sebelum Jungkook dapat mengatakan sesuatu, Hoseok telah pergi dari tempat itu sambil menerima panggilan teleponnya. Dia terlihat sangat sibuk berbicara dengan seseorang di telepon.
Sesuatu telah terjadi. Jungkook tahu itu. Tapi itu tidak mengubah fakta bahwa dia merasa sebal karena sekali lagi dia gagal untuk berbicara pada Hoseok. Jungkook telah berkali-kali mencoba menghubungi pemuda tersebut sejak acara jalan-jalan singkat itu, namun setiap kali itu pula dia gagal. Sekali Hoseok pergi sebelum Jungkook dapat memanggilnya. Di lain waktu, seseorang menginterupsi mereka. Dan pada kebanyakan waktu Hoseok pamit terlebih dahulu dengan mengatakan dia sangat sibuk akhir-akhir ini. Dia berjanji akan mencoba untuk mampir ke tempat Namjoon jika ada waktu luang. Tapi, dia tidak pernah memenuhi janji tersebut.
Jungkook merasa bahwa dia telah kehilangan seorang kakak laki-laki yang dia selalu dapat andalkan atau ajak bicara. Seorang teman yang mengenalnya begitu baik bahkan sebelum Jungkook mengatakan apa pun. Namun jika dipikirkan ulang, Jungkook menyadari bahwa itu hanya dari satu sisi saja. Pada kenyataannya, selalu hanya Hoseok sajalah yang mengerti dirinya sementara Jungkook tidak mengetahui satu hal pun mengenainya, selain bahwa pemuda tersebut bergantung pada anxiety pills untuk bertahan hidup.
Kenangan mengenai malam pengakuan itu sekali lagi membuat nyeri di hati Jungkook.
Tidak bisakah seseorang melakukan sesuatu? Siapa pun. Apakah ini sudah waktunya bagi mereka untuk kembali ke rumah masing-masing?
☆☆☆☆☆☆☆

“Tae Hyung, apa kau benar-benar tidak bisa melakukan sesuatu mengenai ini?”
Malam itu, setelah latihan tari yang Jungkook dan Taehyung lakukan dengan cukup baik tanpa bantuan Hoseok –mereka mencoba untuk berlatih lebih banyak sehingga ketika Hoseok kembali, dia akan merasa bangga pada mereka—mereka berbaring di atas dipan kayu. Menatap bintang di langit malam, meskipun tidak ada satu bintang pun yang dapat dilihat pada kota besar seperti Seoul. Untuk memusatkan perhatian pada pemandangan gelap di depan mereka, entah mengapa membuat mereka merasa sedikit melankolis dan kesepian di waktu yang bersamaan. Langit malam tanpa bintang, itu seperti kondisi kru tersebut saat ini.
Tujuh orang sebelumnya sangat bising, namun kini ketika tiga orang tidak hadir, mereka merasa seperti sesuatu yang berharga baru saja hilang hingga pada satu titik mereka tidak akan bisa mendapatkannya kembali.
Taehyung menutup matanya dalam kepasrahan.
“Aku tidak tahu.”
“Kau bisa melakukan sesuatu, kan, Hyung?” Jungkook sekali lagi bertanya dengan penekanan lebih namun Taehyung tidak bereaksi terhadap hal tersebut. Jungkook mencoba untuk mengatakan lebih banyak hal. “Kau selalu punya ide untuk menyatukan semua orang kembali. Tidak mungkin kau tidak tahu.”
“Aku sungguh tidak tahu, Jeon Jungkook.” Tanpa dia menyadarinya, Taehyung telah menaikkan nada suaranya pada Jungkook. Itu membuat pemuda yang lebih muda tersebut bangkit duduk mengikutinya.
“Kenapa kau marah padaku, Hyung?”
“Itu karena kau terus-terusan memaksaku melakukan sesuatu ketika aku bahkan persetan tidak tahu cara melakukannya lebih baik tanpa melukai siapa pun lagi. Aku ... argh!” Taehyung bangkit dari dipan untuk berjalan ke sisi lain dari ruang terbuka tersebut.
Dia melampiaskan rasa frustrasinya pada dinding yang memagari ruang terbuka di atap tersebut. Dia tidak dapat menghentikan dirinya untuk tidak memikirkan malam ketika kisah masa lalu Jimin terungkap. Cerita itu masih menghantuinya sejak saat itu.
☆☆☆☆☆☆☆

“Kau lebih baik mengatakan pada kami, apa yang sesungguhnya terjadi antara kau dan Jimin sebelum aku menghajarmu hingga mati.”
Setelah beberapa tinju dan tendangan, akhirnya Namjoon dan Jin dapat menenangkan Yoongi. Namun itu tidak menghentikan pemuda tersebut untuk menuntut kebenaran.
“Kenapa aku harus menceritakan sesuatu padamu? Kau sudah menghajarku.”
“Jadi kau ingin lagi? Aku bisa dengan mudah menghancurkan tulang-tulangmu hingga kau harus dirawat berbulan-bulan.”
“Yoongi, jangan lakukan itu lagi. Hentikan mengirim seseorang ke rumah sakit.” Jin tidak bermaksud untuk menolong Yoongi menakuti pemuda tersebut, dia hanya ingin menghentikannya berkelahi. Namun, sepertinya perkataan Jin menakuti pemuda itu.
“Baiklah, aku akan cerita. Bukan aku yang membuat nama panggilan itu. Itu adalah tindakan seseorang dari SMP kami. Aku tidak tahu siapa yang mulai memanggilnya seperti itu. Sebelum kami menyadarinya, semua sudah memanggilnya seperti itu. Kau tahu, Jimin tidak seperti sekarang di masa SMP. Dia sedikit lebih buruk rupa ....”
Yoongi bergerak sedikit dan itu segera membuat pemuda itu terlonjak. Sesungguhnya, pemuda itu sudah terlihat takut pada Yoongi sejak awal, namun dia tidak ingin menunjukkan hal tersebut.
“Apa yang terjadi padanya di SMP? Kenapa kau bilang semua orang mengira dia sudah mati dan kenapa Jimin tidak kembali ke sekolah?”
“Aku tidak tahu. Aku tidak melihat langsung kejadian itu. Aku hanya mendengar rumor-rumor saja.”
Yoongi memelototi pemuda tersebut untuk membuatnya berbicara lebih banyak.
“Saat itu, semua orang bersikap sulit pada Jimin. Beberapa kelompok bahkan membuatnya melakukan pekerjaan untuk mereka. Sering kali mereka membuatnya menjadi lelucon. Sebelum kau memukulku lagi, aku tidak pernah melakukan hal yang sama.” Mata pemuda tersebut bergerak liar ketika dia mengucapkan kalimat terakhir. Seperti Yoongi membuatnya takut hingga dia harus terus mengawasi reaksi Yoongi.
“Tapi kau menontonnya disiksa seperti itu dari samping. Sungguh, kau begitu mulia.” Yoongi membuat komentar sarkastis mengenai pernyataan tersebut.
Pemuda itu mencoba mengabaikan komentar tersebut meskipun kakinya yang gemetar sudah mengkhianatinya.
“Kudengar seseorang dari kelompok itu membuat lelucon yang kelewatan. Setelah kejadian itu Jimin tidak pernah kembali ke sekolah. Pertama-tama dia dirawat inap di rumah sakit, namun setelah beberapa hari dia kembali dipulangkan. Kemudian, suatu hari, sebuah rumor beredar di sekitar lingkungan rumahnya. Beberapa orang bilang kalau mereka melihat Jimin diangkut dengan ambulans dengan tubuh dipenuhi darah. Mereka bilang Jimin mencoba bunuh diri. Tidak ada yang pernah melihatnya setelah dia dikirim ke rumah sakit. Itu sebabnya semua orang mengira dia sudah mati. Keluarganya pindah tak lama setelah itu.”
Taehyung menarik napas cepat ketika dia mendengar itu. Tangannya mulai bergetar karena kenangan dari masa lalu mulai menghampirinya.
Jimin mencoba untuk membunuh dirinya.
☆☆☆☆☆☆☆

“Kau selalu melakukan dengan sangat baik sebelumnya, Hyung. Ini bukan kesalahanmu kalau Jimin Hyung punya masa lalu seperti itu. Itu juga bukan kesalahanmu kalau Hoseok Hyung harus bergantung pada obat-obatan untuk bertahan hidup.”
“Kau tidak tahu apa pun, Jungkook. Itu adalah ideku untuk pergi ke pantai. Aku bahkan tidak tahu Jimin takut pada air karena kejadian di SMP dan aku ....”
“Begitu pula denganku. Kita merencanakannya bersama. Kita hanya mencoba untuk menunjukkan perhatian pada Jimin Hyung.”
“Kau tidak tahu seberapa besar aku mampu melukai orang-orang yang kusayangi.”
“Kenapa kau berpikir seperti itu? Apa kau dengan sengaja mencoba melukai seseorang?”
Bayangan mengenai kakak laki-lakinya melintas cepat ke dalam benaknya. Caranya membiarkan kakak laki-lakinya mati di depannya tanpa melakukan apa pun. Rasa bersalah kembali melandanya. Sebuah sosok kecil di dalam benaknya sedang menatapnya dari posisinya biasa sekali lagi.
“Kau tidak tahu.”
“Tentu saja aku tidak tahu. Kalian tidak pernah mengatakannya padaku. Bagaimana aku bisa tahu? Kau tahu? Aku sangat membenci saat ketika kalian semua memperlakukanku seperti seorang anak kecil dan menyembunyikan semua dariku.”
Taehyung mengumpalkan kepalan, mencoba menahan perasaannya.
“Hyung ....
Jungkook segera menyesali hal yang baru dia ucapkan. Dia mendekati Taehyung untuk memperbaiki apa yang telah dia katakan. Taehyung tidak membuatnya menjadi mudah untuk meminta maaf. Taehyung yang diam dan penuh masalah adalah saat ketika dia sangat sulit untuk didekati. Dia menyimpan erat semua pemikirannya sendiri. Tidak ada yang tahu apa yang dia pikirkan, dan pada saat kau tidak siap dengannya, dia akan menjatuhkan sebuah bom padamu, seperti pada malam dari acara jalan-jalan singkat itu. Jungkook tidak tahu apa yang harus dilakukan dengan pemuda yang lebih tua tersebut. Dia merasa kebingungan namun dia tahu dia harus melakukan sesuatu.
“Kenapa di luar begitu berisik?” Yoongi melangkah keluar dari ruangan diikuti Namjoon.
“Apa lagi yang kalian debatkan kali ....” Sebelum Namjoon bisa menyelesaikan kalimatnya, Taehyung menyeruak pergi dari tempat tersebut.
Itu membuat tiga orang lainnya kehilangan kata-kata sebelum Jungkook mengambil inisiatif untuk mengejar pemuda tersebut sambil meminta maaf. Tapi Taehyung tidak berhenti. Dia berlari lebih kencang sebelum Jungkook dapat mencegatnya.
“Aku melakukan kesalahan mengenai Tae Hyung, kan? Sekarang dia pun akan keluar dari kru ini. Aku tidak ingin ada lagi yang meninggalkan grup ini. Hyung, apa aku harus mengejar Tae Hyung? Aku harus melakukan sesuatu. Aku harus ....”
Jungkook menatap pada Namjoon dan Yoongi dengan panik. Matanya mulai dipenuhi air mata. Pemikiran mengenai seorang lagi akan meninggalkannya membuatnya sangat menyesal. Dia tidak ingin hal yang terjadi di sekitar mereka berakhir seperti ini. Tidak ketika dia baru saja menyukai perasaan memiliki teman seperti ini.
“Tenang, Jungkook! Taehyung tidak akan meninggalkan grup ini.” Yoongi mencengkeram pundak Jungkook.
“Taehyung bukan seseorang yang akan meninggalkan seseorang ketika dia merasa kesal.” Namjoon pun mencoba untuk menenangkan Jungkook. Dia tahu apa yang dia katakan benar. Taehyung begitu menyukai kru ini. Dia paling peduli pada setiap orang di dalam grup ini. Tidak mungkin dia pergi begitu saja.
“Tapi ... dia ...”
“Aku akan berbicara padanya besok.” Namjoon meyakinkan Jungkook dengan menepuk pundak Jungkook.
Diam-diam Namjoon menghela napas. Apa yang sesungguhnya sedang dia lakukan? Mendadak dia merindukan Jin yang lebih baik dalam hal memperhatikan orang lain. Pemikiran itu pun mengejutkan Namjoon. Dia tidak pernah terbiasa pada perubahan baru ini. Dia terlalu banyak peduli akhir-akhir ini.

☆☆☆☆☆☆☆

You Might Also Like

0 comments

2016 Reading Challenge

2016 Reading Challenge
Deasy has read 2 books toward her goal of 30 books.
hide