[BTS Fan Fiction] Youth of Lily - Seventeenth Run

10:14 PM


SEVENTEENTH RUN
A house made of cards, and us inside
Even if you say you see the end,
Even if you say it’ll collapse soon
a house made of cards, and stupidly, us
Even if you say it’s a useless dream,
Just stay a little more like this

“Apa yang sesungguhnya kau inginkan dariku, Yun Sohee? Berhenti menggangguku!”
Jin berseru pada gadis tersebut setelah dia terus-terus mengusiknya. Itu bukan pertama kalinya. Sohee sudah mengikutinya selama berhari-hari.
“Aku ingin kau berbicara pada Yoongi!”
Lagi-lagi itu. Sohee sudah mengatakan hal yang sama sejak pertama kali. Itu adalah untuk kembali berbaikan dengan teman masa kecil mereka, Yoongi. Jin tidak ingin melakukannya. Harga dirinya tidak membiarkannya untuk menyerah. Kenapa dia harus meminta maaf pada Yoongi terlebih dahulu ketika Yoongilah yang bersalah di sini?
Jin mendengus sambil berjalan pergi sekali lagi. Sohee  sekali lagi mencengkeram lengannya.
“Jin ... Kim Seokjin! Bisakah kalian berdua berhenti bersikap seperti anak kecil? Kau sejak awal sudah tahu kalau Yoongi itu memang seperti itu. Kita sama-sama tahu. Kenapa kau harus kesal hanya karena masalah sepele seperti itu?”
“Hentikan! Aku sudah cukup dengan kau terus-terusan berbicara mengenai Yoongi ini dan itu. Biarkan aku sendiri.”
“Aku tidak bisa! Ini pertama kalinya kau berhenti berbicara dengan Yoongi dalam waktu yang lama. Aku tidak ingin siapa pun dari kalian menyesali hal ini. Kalian hanya tidak tahu bagaimana untuk meminta maaf bahkan ketika kalian ingin melakukannya.”
“Kenapa aku harus menjadi yang meminta maaf? Apa aku melakukan sesuatu yang salah? Apa aku yang berkata kasar padamu saat itu? Apa aku yang memperlakukanmu seperti bukan manusia?” Jin sekali lagi kehilangan kesabarannya.
“Itu ....” Sohee terlihat terkejut.
“Bukannya ini harapanmu kalau aku tidak lagi berhubungan dengannya? Kau selalu tidak menyukai saat aku bermain dengannya sejak kita kecil, ya kan?”
“Aku tidak seperti itu.”
“Huh, benar. Aku lupa. Sekarang kau kan sangat naksir padanya.”
“Itu tidak ada hubungannya satu sama lain! Berhenti menjadikanku alasan untuk membenarkan tindakanmu!”
“Kau memang alasanku!”
Suara mereka beradu satu sama lain. Tidak ada yang benar-benar mendengarkan yang lain. Mereka mencoba menyampaikan pemikiran dan perasaan mereka. Pada akhirnya, Sohee menutupnya mulutnya dan memandang Jin dengan terluka.
“Dan aku bahkan tidak tahu untuk alasan apa kau menjadi seperti ini. Dia selalu memperlakukanmu dengan buruk dan kau masih saja menyukainya. Kenapa?”
Kenapa kau tidak bisa menyukaiku saja? Itu adalah pertanyaan yang Jin tidak dapat tanyakan pada Sohee. Dia pun tidak dapat membalas tatapan Sohee. Jin takut jika dia menatap ke arah mata gadis tersebut, matanya akan mengkhianatinya. Mereka akan menunjukkan betapa putus asanya Jin.
“Yoongi bukan orang yang benar-benar buruk.”
“Kau pikir aku tidak tahu mengenai itu?”
“Itulah! Kau mengenal Yoongi lebih baik daripada siapa pun tapi kenapa kau masih saja kesal mengenai hal seperti ini?”
“Tidakkah kau sudah mengetahui alasannya?” Jin menghentikan ucapannya. Dia tahu bahwa dia telah membocorkan sesuatu. Jin mengalihkan wajahnya. “Aku hanya ingin tahu untuk alasan macam apa kau mulai tertarik padanya.”
“Kau sungguh-sungguh ingin tahu?”
“Ya, aku ingin tahu. Kenapa kau membuang dirimu untuk seseorang yang tidak pernah menghargaimu? Kenapa? Kenapa?” suara Jin sudah semakin tinggi.
“Itu karena Yoongi telah menyelamatkanku sebelumnya.”
☆☆☆☆☆☆☆
 “Kau terlihat lebih baik dengan rambut hitammu.”
Yoongi sedang berdiri di dekat jendela kaca di dalam ruang kelas yang kosong untuk memandangi aktivitas yang sedang berlangsung di bawah sana, di lapangan atau di suatu di bawah gedung. Itu bukan suatu hari yang spesial. Hanya dia sendiri—karena tidak ada Jin yang menemaninya— dan pemikirannya sebelum seseorang memutuskan untuk mengusik lamunan Yoongi. Ketika Yoongi berbalik badan, dia melihat Park Sem sedang berdiri di belakangnya.
“Lihat apa yang kubilang padamu jauh sebelumnya. Apa susahnya mengecatnya kembali? Apa kau melakukan itu hanya untuk membuatku kesal saja, huh?”
Pemuda itu membungkukkan tubuh untuk memberi salam kepada sang guru sambil membantah tuduhan tersebut.
“Jadi kau melakukan itu karena kau ingin melawan peraturan sekolah? Itu bisa membuat situasi menjadi lebih buruk, kau tahu?”
Yoongi terdiam. Park Sem menepuk pundak Yoongi selagi dia tersenyum seakan mengetahui apa yang Yoongi rasakan. Sepertinya dia hanya ingin menggoda pemuda itu saja.
Yoongi mengira bahwa pria tersebut hanya mampir untuk mengatakan itu saja padanya, namun ternyata Park Sem tetap tinggal di sampingnya dan mencoba membuka sebuah percakapan dengannya, percakapan yang normal. Tidak ada hal yang menyinggung peraturan atau pun hal sekolah lainnya.
“Aku melihatmu di televisi dengan beberapa temanmu. Kau mengikuti sebuah kompetisi, kan?”
Yoongi mengangguk canggung. Dia tidak memahami alasan guru tersebut mengungkit topik tersebut. Itu hanyalah sebuah episode yang ditayangkan beberapa hari yang lalu, salah satu ronde penyisihan sebelum panggung ofisial. Para kru televisi telah merekam beberapa adegan untuk acara tersebut, membuat lagu, berlatih, perencanaan panggung ofisial, pengambilan vokal, dan beberapa ronde eliminasi sebelum siaran langsung final. Orang-orang di sekolah telah membicarakan mengenai hal tersebut sejak pengumuman peserta kompetisi.
“Aku tidak pernah menyangka kau memiliki kemampuan membuat musik yang cukup baik.”
“Terima kasih.”
“Aku mengenal salah satu anggota timmu. Dia adalah Kim Namjoon Haksaeng, siswa kelas satu, kan? Dia siswa yang pandai. Kalian akan melalukan dengan sangat baik di acara itu. Ah, kau dan timmu akan memenangkan acara itu. Aku akan mendukung tim kalian.”
Yoongi merasa tersesat dalam pembicaraan ini. Dia tidak tahu bagaimana untuk menjawabnya. Mereka tidak pernah berada dalam hubungan yang melibatkan percakapan dari hati-ke-hati. Malahan, sesungguhnya, ini adalah kali pertama mereka bersikap ramah terhadap satu sama lain tanpa mencoba untuk mencekik leher yang lainnya.
“Jadi, bagaimana kabarmu akhir-akhir ini?”
“Saya rasa baik.” Yoongi menggaruk lehernya.
“Temanmu, Seokjin Haksaeng. Aku tidak melihatnya di sekitarmu akhir-akhir ini. Kalian berdua kan selalu ke mana pun bersama.”
Kim Seokjin!”
Tepat ketika guru tersebut membahas mengenai Jin, Yoongi mendengar suara Sohee dari bawah sana. Ketika dia melirik ke arah sana, dia melihat Jin dengan langkah berderap berjalan keluar dari gedung sekolah diikuti oleh Sohee yang terlihat sangat putus asa ingin menghentikan pemuda tersebut. Mereka terlihat memiliki perdebatan. Yoongi tidak pernah melihat Jin sekesal itu. Dia bertanya-tanya apa yang sedang mereka bicarakan. Dia tidak dapat mendengar percakapan itu tapi dia dapat mendengar dengan samar mereka menyebutkan namanya.
“Apa kalian berdua berkelahi karena seorang perempuan?” Guru tersebut sepertinya mendengar kedua orang tersebut juga.
“Apa? Tidak mungkin. Kenapa kami harus berkelahi karena seorang perempuan?”
“Kau kan pernah melakukannya sebelumnya, ya kan? Bukannya itu adalah siswi yang waktu itu? Yun Sohee, kan? Alasanmu berkelahi dengan seorang guru di tahun pertama.”
Mata Yoongi berkilat karena pertanyaan tersebut.
☆☆☆☆☆☆☆

Tolong jangan bersikap seperti ini, Sonsaengnim. Jangan.
Sohee menggeliat keluar dari cengkeraman laki-laki tersebut. Dia telah berusaha kabur dari ruangan tersebut sejak tadi namun dia tidak bisa meloloskan diri. Laki-laki yang jauh lebih tua itu mengancam akan menjatuhkan nilai Sohee di mata pelajarannya. Dan itu jelas merupakan kerugian untuk Sohee. Ini bukanlah pertama kalinya laki-laki itu mencoba melakukan hal tersebut. Pertama kali, itu hanyalah sebuah percakapan yang sedikit terlalu ramah; perlahan tindakan itu berubah menjadi selipan-selipan tangan nakal ketika guru tersebut mencoba menjelaskan pelajaran kepada Sohee. Gadis itu telah merasakan tindakan yang tidak seharusnya dari guru tersebut. Sohee selalu berhasil kabur sebelumnya namun kali ini sepertinya bukan hari keberuntungannya.
“Tolong!”
“Diamlah atau aku akan membunuhmu.” Guru tersebut membungkam mulut Sohee dengan tangannya.
Sonsaengnim, jangan lakukan hal seperti ini.”
“Bukannya kau yang menginginkannya? Itu sebabnya kau selalu menggodaku.”
“Apa yang Anda bicarakan, Sonsaengnim. Saya tidak pernah melakukan hal seperti itu.”
“Kau si Rubah Kecil, aku menyukainya ketika kau melakukan trik seperti ini. Sekarang, biarkan aku ... Ouch!”
Sohee menggigit tangan guru tersebut dan berlari menuju pintu.
“Apa ada orang di luar sana? Tolong ... Argh ....” Sebelum dia dapat membebaskan diri, guru tersebut telah menjambak rambutnya. Dia mendapat tamparan sekali lagi.
“Beraninya kau menggigitku? Jadi kau ingin bermain seperti ini?”
Mata pria itu memerah karena berahi.
Sonsaengnim, tolong. Jangan lakukan itu. Biarkan saya pergi.”
Sohee mulai menangis dan menggumamkan agar pria itu membiarkannya pergi. Dia tidak mendengarkan permintaan tersebut. Sohee terperangkap di sudut, terduduk di lantai. Seragamnya berantakan, begitu pula dengan rambut dan riasannya. Sohee berpikir ini akan menjadi akhir hidupnya. Mengapa tidak ada seorang pun datang ke arah tempat ini? Seseorang seharusnya datang dan menolongnya keluar dari neraka ini.
Tepat sebelum Sohee kehilangan harapan terakhir akan kedatangan seseorang untuk menyelamatkannya, sebuah suara yang kencang terdengar. Pintu ruangan itu dibuka paksa. Penyelamatnya telah datang. Itu adalah Yoongi yang terlihat sangat terkejut oleh pemandangan di hadapannya.
Sohee menatap pemuda tersebut, menangis dengan putus asa. Suaranya serak akibat menangis dan berteriak meminta pertolongan.
“Kau, Bajingan sial!”
Itu adalah ketika mata Yoongi berkilat penuh kemarahan. Dia melemparkan diri di tengah-tengah laki-laki tersebut dan Sohee dengan segera dan mulai menghajarnya tanpa ampun. Dia tidak berhenti bahkan ketika guru tersebut telah berdarah begitu banyak, bahkan ketika guru lain masuk untuk menghentikan keributan tersebut.
Hari itu begitu kacau. Tidak ada yang benar-benar mengingat dengan tepat apa yang terjadi. Satu hal yang cukup pasti adalah kondisi guru tersebut ketika dia diangkut oleh ambulans begitu mengerikan. Hidungnya berdarah karena patah dan tim medis harus menopang beberapa bagian tubuhnya karena tulang-tulangnya parah.
☆☆☆☆☆☆☆

Pandangan terkejut Jin membuat kenangan mengenai hari itu kembali merasuki benak Sohee. Dia mencoba mengendalikan ketakutannya dengan terus menggumamkan, “tidak apa-apa. Yoongi telah menyelamatkanku hari itu.”
Dia tahu bahwa jika Yoongi tidak datang untuk mencari tempat tenang untuk tidur, tidak akan pernah ada yang datang menolongnya. Sohee bahkan tidak mengingat bagaimana dia berakhir di ruangan tersebut dengan guru itu. Mungkin sesuatu menariknya ke tempat itu atau seseorang mengirimnya untuk datang ke sana. Dia tidak mengingatnya dengan jelas dan tidak ingin mengingatnya. Pada akhir kesimpulannya, Yoongi telah menyelamatkannya. Itu adalah hal yang terpenting.
Dia terselamatkan ketika Yoongi menariknya masuk ke dalam pelukan yang melindungi setelah pengalaman mengerikan yang baru saja terjadi.
☆☆☆☆☆☆☆

“Saat itu, kenapa Anda melakukan seperti, Sem?” Yoongi bertanya pada Park Sem selagi menatap tajam ke dalam mata pria tersebut.
☆☆☆☆☆☆☆

Yoongi menyebabkan kekacauan lain di dalam ruang guru tak lama setelah kejadian itu. Itu adalah saat ketika Kepala Sekolah memberitahu bahwa mereka akan menutup kasus tersebut tanpa mengirimkan orang yang bersalah itu ke penjara, tempat dia seharusnya berada. Yoongi tidak dapat menerima bahwa dia dihukum selama seminggu sementara guru tersebut tidak mendapatkan apa pun yang mengharuskannya membayar perlakuan buruk yang dia lakukan pada Sohee.
“Kita tidak bisa membuat hal menjadi lebih besar dari ini, Min Yoongi Haksaeng. Kau berkelahi dengan guru tersebut hingga dia harus dirawat di rumah sakit saja sudah membuat kekacauan besar untuk sekolah. Kau tidak tahu seberapa banyak masalah yang sekolah dapatkan dari forum orang tua. Mereka ingin kau dikeluarkan dari sekolah.” Sang Kepala Sekolah mencoba menjelaskan.
“Kalau begitu Anda seharusnya katakan saja pada mereka apa yang Bajingan itu telah lakukan!”
“Jaga bahasamu, Min Yoongi Haksaeng!” Ada Park Sem yang berdiri di samping Kepala Sekolah untuk mendukungnya.
Yoongi melemparkan tatapan marah pada guru tersebut. Dia mencurigai keterlibatan guru tersebut dalam keputusan ini. Guru tersebut pasti merupakan orang yang menghasut Kepala Sekolah untuk menutup kasus tersebut dengan tenang. Yoongi sempat melihatnya memasuki ruang rawat laki-laki itu di rumah sakit. Itu sangat mencurigakan. Park Sem juga merupakan orang yang memisahkan Yoongi dari laki-laki itu. Dialah yang menelepon dan mengirimkan guru tersebut dengan ambulans. Seharusnya dia biarkan saja laki-laki sialan itu mati untuk mempertanggungjawabkan tindakannya. Dia seharusnya mengirimkan laki-laki itu ke neraka.
Tapi, Yoongi pikir Park Sem tidak ada bedanya dengan laki-laki itu. Yoongi pernah memergokinya berbicara begitu “manis” kepada pelajar perempuan. Dia tidak berbeda dari laki-laki itu.
“Itu bukan hal yang mudah untuk dikatakan. Kau harusnya paham kalau kita berada di dalam situasi yang sulit. Kau tidak bisa melakukan hal-hal dengan ceroboh.”
“Orang tuamu menuntut sekolah untuk melepaskanmu tanpa mendapatkan hukuman sulit yang akan mencelakai masa depanmu.” Sementara Kepala Sekolah mencoba berkata manis pada Yoongi, Park Sem memotong dan mengatakan kebenarannya dengan blak-blakan. Itu memberi Yoongi informasi sebanyak yang dia butuhkan.
Lagi-lagi itu adalah kekuasaan orang tuanya. Tidak ada yang perlu dibahas dari hal itu. Yoongi muak dengan semua ini. Dia muak akan dunia peraturan dan regulasi sekolah yang keropos. Orang tuanya selalu melakukan hal seperti ini sejak dia masih kecil.
☆☆☆☆☆☆☆

“Saat itu, apa kau akan merasa senang jika sekolah membongkar apa yang terjadi dan melukai masa depan gadis itu?” Park Sem balas memandang dengan kekuatan yang sama. Dia menghela napas tak lama kemudian. “Rumor itu adalah hal yang menakutkan, Yoongi. Orang-orang tidak perlu kebenaran sepenuhnya untuk mulai membicarakannya. Mereka hanya memerlukan secuil saja dan mengisi bagian-bagian yang kosong dengan versi mereka masing-masing. Gadis itu akan mendapatkan kerugian yang terparah.”
“Itu tidak berarti Anda harus melepaskan penjahat itu pergi semudah itu. Anda seharusnya mengirimnya untuk membusuk di penjara.” Yoongi mendengus kesal setelah mengucapkannya. “Ah, Anda tidak mungkin melakukannya karena Anda kan jenis yang sama dengan binatang itu. Anda mencoba menutupi rekan Anda. Itu dilakukan dengan sangat mulus. Jadi, sudah berapa banyak perempuan yang Anda manfaatkan? Jika Anda menyentuh Sohee, Anda tahu saya tidak akan ragu untuk membunuh Anda.”
“Jaga bicaramu, Haksaeng. Jangan samakan aku dengan orang itu.”
“Kenapa? Apa karena Anda lebih ahli hingga tidak pernah tertangkap basah sedikit pun hingga hari ini?”
Guru tersebut menampar pipi Yoongi keras. Tangannya terlihat bergetar setelah dia melakukannya namun itu berhasil membungkam Yoongi. Pemuda itu terlalu terkejut untuk bereaksi selama beberapa detik.
“Aku tidak tahu dari mana kau mendapat ide yang begitu mengerikan mengenai aku memanfaatkan murid-muridku yang berharga.”
Yoongi menatap guru tersebut dengan bertanya-tanya. Dia tidak dapat memahami sorot mata guru tersebut yang menampilkan perasaan terluka yang dalam. Entah menampar Yoongi telah menyebabkan harga dirinya hancur ataukah tuduhan tersebut tidak sedikit pun mendekati kebenaranlah yang menyebabkan hal tersebut. Mendadak Yoongi menyadari bahwa dia telah bertindak melewati batas dengan tuduhan-tuduhannya. Namun di saat yang sama dia merasa bingung. Jika guru tersebut tidak sedang mencoba melindungi penjahat tersebut, lalu apa yang dia lakukan di dalam ruang rawat laki-laki itu?
“Aku harus pergi.” Sebelum Yoongi dapat bertanya lebih, guru tersebut memutuskan untuk beranjak keluar dari suasana panas tersebut.
☆☆☆☆☆☆☆

Jin berjalan menyusuri jalanan tanpa tujuan. Pikirannya tidak sedang bersama tubuhnya. Dia sedang memikirkan mengenai hal yang Sohee baru saja ceritakan padanya. Dia tidak pernah tahu bahwa Sohee pernah mengalami sesuatu yang mengerikan semacam itu. Kapan itu sesungguhnya terjadi? Bagaimana mungkin dia melewatkan hal tersebut? Ini kan melibatkan teman-teman masa kecilnya.
Ah, mungkin itu adalah saat ketika Jin tergeletak karena flu babi hingga dia harus absen dari sekolah selama beberapa minggu. Tidak heran, Jin merasakan keanehan setelah dia kembali ke sekolah. Ada banyak rumor beredar dan Yoongi muncul dengan warna rambutnya yang mencolok. Setiap orang yang dia tanyai mengenai apa yang terjadi hanya berkata untuk bertanya pada pemuda itu sendiri. Seseorang telah menutupi kebenarannya. Apa yang mereka ketahui hanyalah mereka melihat Yoongi berjalan di lingkungan sekolah dengan seragam berlumuran darah. Mereka menganggap bahwa Yoongilah yang berkelahi dengan guru yang terluka itu.
Jin telah gagal sebagai seorang teman. Dia telah gagal melindungi Sohee. Di dalam benaknya saat ini begitu kacau. Kekacauan besar dan dia bahkan tidak tahu apa yang sedang dia pikirkan saat itu.
Bahkan meskipun Yoongi tidak pernah menyelamatkanku, aku tidak akan pernah menyukaimu, Jin.
Pikirannya secara acak mengingat perkataan Sohee sebelumnya ketika dia berjalan pergi dari Jin setelah selesai bercerita. Sohee menyadari perasaan Jin sejak awal. Dan sekarang dia pun telah gagal menyembunyikan perasaannya.
Dia selalu gagal melakukan apa pun. Tidak ada satu hal pun yang dapat dia lakukan dengan baik. Dia selalu saja memiliki kekurangan dalam satu hal jika dibandingkan dengan Yoongi. Dia tidak pernah bersikap mencolok. Dia adalah wallflower yang orang-orang tidak akan pernah sadari keberadaannya jika tidak karena Yoongi. Dia bukanlah seseorang yang sangat pandai berbicara atau pun pemberani. Itu adalah suatu hal yang selalu Jin irikan dari Yoongi.
Jin bertanya-tanya bagaimana jika saat itu, adalah dirinya yang menangkap basah guru tersebut. Apakah dia akan mampu melakukan hal yang sama dengan Yoongi ataukah dia akan melarikan diri?
Sementara pikirannya berkelana, mendadak Jin mendengar suara klakson keras. Sebelum dia mampu memproses apa yang terjadi, seseorang menariknya mundur.
“Apa kau ingin mati?!”
Itu adalah Yoongi yang menyelamatkannya dari kecelakaan mobil. Sebuah mobil melintasi mereka dengan pengemudi yang mengeluarkan sumpah serapah pada Jin dan Yoongi karena kecerobohan mereka.
“Kenapa kau berkeliaran dengan tatapan kosong seperti itu!”
Yoongi terlihat sangat kesal, namun Jin tahu itu adalah caranya untuk menunjukkan perhatian. Dia selalu saja seperti itu. Dia terlihat kasar dari luar, namun sesungguhnya dia memperhatikan orang-orang yang dia sukai dengan baik. Bahkan sering kali terlewat baik. Tak jarang pula dia akan mencekikmu dengan perhatiannya. Namun itulah Yoongi.
Sekarang selagi memandangi Yoongi, Jin memikirkan mengenai hal lain. Dia tahu itu adalah hal dasar untuk menolong seorang gadis tak berdaya yang sedang dimanfaatkan, tapi ... kenapa saat itu Yoongi begitu emosi ketika melindungi Sohee? Untuk alasan apa Yoongi melindungi Sohee sesungguhnya? Dia memberontak karena hal tersebut. Dia bahkan menyembunyikan kebenaran itu dari Jin. Itu adalah kali pertama Yoongi menyembunyikan suatu hal darinya.
“Yoongi, kau suka Sohee, kan?”
Mata Yoongi bergerak panik ketika dia mendengar pertanyaan tersebut.

☆☆☆☆☆☆☆

You Might Also Like

1 comments

2016 Reading Challenge

2016 Reading Challenge
Deasy has read 2 books toward her goal of 30 books.
hide