[BTS Fan Fiction] Youth of Lily - Nineteenth Run

10:10 AM



NINETEENTH RUN
Memories are crumbling like
Dried flower leaves
On my fingertips and under my feet
And behind my back
Like chasing butterfly or wondering in dreams
I follow your traces
Please guide me please stop me
Please let me breathe



Jadi kau masih hidup toh, DwaeJimin?
Seoul ya? Di sana tempatmu menyembunyikan tubuh besarmu.
Seunghun bilang kau berubah sangat drastis. Aku penasaran seberapa drastis seekor babi bisa berubah. Pasti tidak akan begitu mengejutkan. Babi kan tidak akan pernah berubah menjadi manusia.
Kau pikir kau bisa kabur dari kami?
Itu adalah beberapa pesan singkat yang dikirimkan ke dalam ponsel Jimin. Pesan tersebut datang dari salah satu pemuda dari masa lalu. Pertama-tama itu hanyalah sebuah pesan yang singkat namun cukup sukses membuat Jimin ketakutan. Kemudian perlahan pesan-pesan tersebut berubah menjadi semakin mengancam. Mereka datang bersama dengan beberapa gambar dan rekaman video yang menjadi mimpi buruknya sejak tahun lalu.
Dia seharusnya sudah mengetahui bahwa pertemuannya dengan Seunghun akan menyebabkannya tertangkap. Pemuda itu akan segera memberitahu dia, terlebih lagi Yoongi sudah menghajarnya begitu parah.
Tidak ada cara lain untuk kabur bagi Jimin.
☆☆☆☆☆☆☆

Babi ini harus diberi pelajaran. Beraninya kau melaporkan kami?”
Beberapa pasang tangan menangkapnya paksa. Dia ditarik secara tidak manusiawi. Mereka memperlakukannya seakan menarik seekor binatang menuju rumah jagal. Tidak ada ampun. Jimin tidak dapat melepaskan diri dari tangan-tangan tersebut. Mereka menelanjangi seragamnya. Memotretnya untuk mengancamnya seperti biasa. Mereka tertawa dengan histeris. Itu terdengar seperti tawa setan. Suara tersebut masih saja mengiang-ngiang di telinganya bahkan hingga saat ini, di dalam mimpinya, kehidupan sehari-hari, bahkan ketika orang-orang memandanginya, di mana pun.
Setelah merasa bosan mengambil gambar dan video, ketua geng mulai menginstruksikan salah satu bawahannya untuk membuat Jimin merangkak. Mereka berada di samping kolam renang. Matahari telah mencapai titik puncak di langit. Sinarnya menghantam air. Itu membuat warna kebiruan dari kolam berkilauan seakan tempat itu telah menantinya untuk mencicipi rasa kaporit dari airnya.
Celupan kepala pertama.
 Celupan kepala kedua.
Jimin tidak dapat melepaskan diri. Dia pikir dia akan mati saat itu. Napasnya tertahan oleh air. Telinganya pun mulai dimasuki oleh air.
“Apa kau pikir kau bisa balas dendam pada kami dengan melakukan seperti itu? Babi itu seharusnya tahu tempat dia berada. Kenapa makhluk gagal sepertimu masih saja hidup?”
☆☆☆☆☆☆☆

Jimin tidak tahu bagaimana permulaan dari mimpi buruknya atau mengapa dia terpilih sebagai target. Apakah dia pernah melakukan sesuatu yang buruk terhadap mereka? Apakah dia melukai mereka hanya karena dia hidup? Mengapa mereka memilihnya? Mengapa mereka begitu membencinya? Mengapa mereka memperlakukannya seperti ini? Yang dia inginkan hanyalah hidup seperti orang-orang lainnya. Dia ingin dapat melakukan hal yang dia sukai.
Jimin merasa teramat lelah dengan kehidupan ini.
Mengapa semua hal tidak pernah berjalan seperti keinginannya?
Apakah dia memang tidak seharusnya ada di dunia ini?
Apakah dia tidak memiliki hak untuk hidup?
☆☆☆☆☆☆☆

Taehyung tersandung dan terjatuh ketika dia melihat pemandangan di dalam kamar mandi. Napasnya tercekat. Rasa mual menghantam dirinya bersamaan dengan kenangan-kenangan masa lalu yang mulai merasuki pikiran.
Merah. Adegan tersebut silih berganti dengan gambaran akan darah yang mengalir dari pembuluh arteri kakak laki-lakinya.
Merah. Kemeja putih yang pada hari itu dikenakan kakaknya ternoda oleh warna merah darah.
Merah. Bercak-bercak darah kecil dan besar berserakan di atas lantai. Mereka ada di mana-mana.
Di sana, di dalam kamar mandi, Taejun, kakak laki-lakinya terbaring tak bernyawa. Satu tangannya yang mengalirkan darah mencuat keluar dari bathtub. Darah menetes-netes dari tangan sementara di dalam bak genangan berwarna merah pekat telah terbentuk bercampur dengan air. Mata kakak laki-lakinya tertutup. Bibirnya memucat.
Taehyung menjerit keras. Air mata mengalir turun.
Hyung ... Hyung ....” Meskipun tubuhnya terasa lemas, Taehyung merangkak memasuki kamar mandiri, ke arah bathtub. Dia terus-terusan memanggil Taejun. Taehyung menangis pilu selagi dia memeluk tubuh nyaris tak bernyawa tersebut. Tubuhnya bergetar hebat oleh karena ketakutan akan kehilangan orang tersebut.
“Ambulans ... tidak ... Ajumma tidak bisakah ....” Namjoon melihat ke arah wanita paruh baya yang terlihat sangat terkejut. Dia tahu wanita tersebut tidak dapat membantunya. Namjoon memutuskan untuk membuat panggilan kepada pusat mobil ambulans sebelum mencoba melakukan pertolongan pertama.
Hyung ... bangun. Jangan tidur di sana. Kau akan masuk angin.” Mata Taehyung terlihat kosong. Dia terus menggumamkan kata-kata yang sama sambil terisak.
“Minggir, Kim Taehyung!”
Namjoon muncul dengan perlengkapan untuk pertolongan pertama. Dia membawa beberapa kain untuk menghentikan pendarahan. Setelah mengikat lengan Jimin yang telah disayat dengan parah, dia mengetes suhu kolam merah di dalam bathtub. Masih terasa hangat, namun Namjoon memutuskan untuk mengosongkan air dari dalam bak agar pemuda tersebut tidak terkena hipotermia. Dia mencoba segala usaha untuk menyelamatkan Jimin sebelum tim medis datang.
“BERHENTI MENANGIS! Dia bukan almarhum kakakmu, Kim Taehyung! Dia Jimin. Kendalikan dirimu dan tolong aku!”
Namjoon merasa putus asa. Taehyung tidak memberinya respons. Pemuda itu telah terjatuh ke dalam kenangannya, kenangan akan kematian kakak laki-lakinya.
☆☆☆☆☆☆☆

“Dia akan mati, kan? Dia sudah mati.”
Taehyung terus-terus mengucapkan kata-kata yang sama sambil duduk di depan unit gawat darurat. Air mata telah mengering dan meninggalkan jejak di pipi. Pemuda tersebut terlihat telah kehilangan rohnya sejak insiden tersebut.
“Dia akan selamat. Dia tidak akan mati.”
Namjoon nyaris kehilangan kesabarannya. Dia telah mencoba untuk membuat pemuda tersebut memahami perkataannya agar berhenti bersikap merana. Namjoon lelah. Sangat lelah. Dia terlihat baru saja melakukan melakukan pembunuhan dengan seluruh darah yang menempel di seragamnya. Aroma anyir darah menguar darinya. Itu membuatnya merasa mual, dan menjadi lebih mual lagi dengan gambaran apa yang dia lihat berulang kali terputar di dalam benaknya.
“Di mana Jimin?” Terdapat dua orang pemuda yang berlari ke arah mereka, Yoongi dan Jin. Mereka adalah yang pertama kali sampai setelah Namjoon mengabari orang tua Jimin dan mereka.
“Dokter masih berusaha menyelamatkannya di dalam.”
Namjoon memanggil Yoongi untuk membawakannya baju ganti namun ketika dia melihat Jin datang bersamanya, itu membuatnya merasa lega. Setidaknya dia tahu dia tidaklah sendiri dalam mengatasi situasi ini.
“Apa yang terjadi pada Taehyung?” Jin adalah yang pertama kali menyadari sikap janggal Taehyung.
“Biarkan saja dia begitu. Dia masih belum pulih dari shock.”
Dan kenapa dia menangis seperti itu?”
Namjoon menarik rambut dengan frustrasi dan menghela napas.
“Ternyata kakak laki-lakinya mati dengan cara yang sama dengan usaha Jimin. Jin Hyung, apa kau bisa menemani Taehyung sebentar? Aku ingin membersihkan diri.”
“Baiklah. Kau memang terlihat harus segera melakukannya.”
Yoongi menyodorkan sebuah tas kertas kepada Namjoon. Setelah mengucapkan terima kasih, Namjoon segera pergi ke kamar mandi rumah sakit untuk membersihkan diri.
☆☆☆☆☆☆☆

“Jungkook!”
Siswa SMP itu memalingkan kepala ketika dia mendengar namanya dipanggil. Dia sedang berdiri di depan mesin penjual minuman otomatis hendak membeli minuman untuk Hara dan Howon.
“Oh! Namjoon Hyung, Yoongi Hyung!”
Terdapat dua orang pemuda mendekatinya. Mereka terlihat sangat kusut, terlebih lagi Namjoon. Sepertinya mereka baru saja mengalami sebuah pengalaman yang mengerikan.
“Apa kalian datang ke sini karena berita itu, Hyung?” Jungkook bingung mengenai kemunculan dua pemuda tersebut di rumah sakit. Dia belum menghubungi siapa pun dari kru karena bahkan dia pun belum memahami situasi tersebut sepenuhnya. Dia baru saja sampai di rumah sakit beberapa menit lalu.
“Berita apa? Kau mengunjungi siapa di rumah sakit ini?” Yoongi bertanya.
“Kalian tidak mendengar berita apa pun? Hoseok Hyung overdosis. Aku di sini bersama adik-adiknya.”
Mata Namjoon dan Yoongi segera membelalak lebar karena berita tersebut.
“Apa? Oh tidak, Hoseok Hyung juga.”
“Apa yang kau maksud dengan ‘Hoseok Hyung’ juga?”
“Jimin ada di sini karena percobaan bunuh diri.”
“Ji-Jimin Hyung?”
Jungkook merasakan bulu kuduknya meremang karena mendengar berita tersebut. Dia kehilangan pijakan kaki dan tubuhnya menjadi goyah.
“Situasi macam apa ini.” Yoongi mengerang.
Yoongi merasakan kepalanya berdenyut sakit. Seluruh pengalaman hari itu membuat mereka tidak tahu harus melakukan apa. Rasanya seperti angin topan baru saja menghantam mereka. Menjebak mereka di dalam titik pusatnya dan mengguncang mereka secara liar hingga mereka tidak tahu lagi apa yang terjadi. Mereka tidak dapat keluar dari kekacauan tersebut.
Mengapa semua orang satu persatu mulai terjatuh? Mengapa ini mulanya terjadi?
☆☆☆☆☆☆☆

You Might Also Like

1 comments

  1. ceritanya bagus banget..
    tapi amit amit kalau cerita ini ke members BTS jauhkan...

    ReplyDelete

2016 Reading Challenge

2016 Reading Challenge
Deasy has read 2 books toward her goal of 30 books.
hide