[BTS Fan Fiction] Youth of Lily - Last Run

10:23 AM



LAST RUN
Everybody say it is over but I can’t stop this
I can’t tell whether it is sweat or tears
My bare-love and tough typhoon and wind
Can only make me run more with my heart


“Oke, kita sudah selesai. Terima kasih atas kerja samanya.”
Sang PD mengakhiri sesi tanya jawab untuk ketiga anggota BTS. Satu persatu dari mereka mulai meninggalkan set namun para kru BTS tetap tinggal di tempat mereka. Mereka saling melempar pandang seakan sedang berbicara lewat telepati. Yoongi dan Jungkook mencoba memberikan keberanian untuk Namjoon berbicara.
“Apa saya boleh menambahkan satu hal lagi?” Akhirnya Namjoon pun memberanikan diri.
Semua orang menatap ke arahnya. PD memberikan kode bahwa mereka tidak punya waktu lagi untuk berbicara namun para kru memaksa. Akhirnya PD pun menyerah.
“Selagi kita masih di topik ini, ini bukan untuk kompetisi tapi saya harus mengatakannya. Kami akan sangat berterima kasih jika Anda menayangkan bagian ini pula. Ini ditujukan kepada teman-teman kami yang saat ini sedang berada pada waktu terburuk dalam kehidupan mereka dan untuk semua orang yang saat ini merasa terluka.”
Namjoon menatap ke arah kamera untuk waktu yang lama. Mencoba merangkai kata-kata yang yang tepat untuk diucapkan. Selagi dia memikirkan mengenai hal tersebut, pemikiran singkat mengenai hal yang akhir-akhir ini terjadi memasuki benaknya. Mulai dari Hoseok, Jimin, kemudian Taehyung. Rasanya semua telah runtuh. Masing-masing orang mendapatkan luka yang besar dari pengalaman tersebut.
☆☆☆☆☆☆☆

Di mana aku saat ini?
“Baik, Omunim. Tidak usah khawatir. Kami akan menjaganya selagi Anda berbicara dengan dokter. Tidak masalah. Apa dia sudah sadar?”
Jimin dapat mendengar seseorang sedang berbicara di luar. Sebelum dia bisa memahami situasi yang berlangsung, dia mendengar pintu dibuka.
“Kau sudah sadar.”
Itu adalah suara Jin. Para anggota kru memasuki ruangan tepat beberapa saat setelah Jimin membuka mata. Ada Namjoon, Yoongi, dan Jin di sana. Jimin mengedarkan pandangan mata ke sekelilingnya. Ini bukan kamarnya. Hal terakhir yang dia ingat hanyalah dia hendak mandi untuk mendinginkan kepala. Dia ingat kalau dia mendapatkan sebuah pesan sebelum pergi ke kamar mandi. Apa yang terjadi?
“Min Yoongi! Jin! Bisa-bisanya kalian meninggalkanku?” Seorang lagi memasuki ruangan. Itu adalah Sohee dengan sebuah pot bunga di dalam tangannya.
“Itu karena kamu selambat siput.” Yoongi mengejek gadis tersebut.
“Aku lambat? Siapa yang kau bicarakan, Min Dalpaengi (Siput Min)! Aku kan sedang memperhatikan bunga untuk Jimin.”
“Tidak ada yang menyuruhmu bawa bunga.”
Pasangan teman masa kecil itu sepertinya telah kembali berbaikan seakan mereka tidak pernah berkelahi sebelumnya. Sekarang setelah menyadarinya Jin dapat melihat betapa Yoongi menikmati saat-saat menggoda Sohee meskipun dia sering kali terlihat tidak acuh pada gadis tersebut. Yoongi pun peduli pada Sohee. Jin mengetahui hal tersebut kemarin ketika dia melihat Yoongi di jalan sebelum sebuah panggilan dari Namjoon datang. Namun, jika dia pikirkan lagi, tidak ada sesuatu yang patut diributkan sejak awal. Dia bahkan tidak ingat mengapa dia merasa kesal sebelumnya. Apa dia merasa kesal karena melihat cara Yoongi memperlakukan Sohee? Atau karena tatapan Yoongi pada Sohee hari itu terlihat beda dari apa yang biasa Jin lihat darinya? Tidak seharusnya satu pun dari hal ini mengusiknya sesungguhnya, terlebih lagi setelah dia mengetahui apa yang terjadi ketika dia tidak ada di sana.
“Apa kau tidak tahu kalau membawa sesuatu ketika mengunjungi seseorang di rumah sakit itu sopan santun dasar?
“Jimin kan laki-laki. Aku yakin dia tidak akan menyukai bunga itu.”
Dia ada di rumah sakit. Jimin menerima informasi itu sesegera dia mencoba mengangkat tubuhnya untuk duduk. Jimin merasakan rasa nyeri yang teramat sangat ketika dia hendak menggerakkan tangan kirinya. Ketika dia mengangkatnya, terlihat perban di kedua lengannya. Dia melakukannya lagi, kan? Dia melakukannya lagi. Sekali lagi Jimin telah kalah atas dirinya. Dia mengerang dalam diam sambil menutup wajah. Dia benci dirinya. Dia benci kelemahannya.
“Teman-teman, jangan berkelahi di depan pasien. Kalian membuat Jimin sakit kepala.” Jin mencoba menghentikan argumentasi tanpa akhir Yoongi dan Sohee.
Sohee segera mengabaikan Yoongi ketika dia melihat Jimin.
“Jimin, akhirnya kau sadar. Kami sangat mengkhawatirkanmu. Taehyung kira kau tidak akan bertahan. Kau sudah membuatnya ketakutan, tahu?”
Jimin segera mencari sosok pemuda yang disebutkan namun dia tidak ada di sana. Para anggota kru menunjukkan ekspresi penuh rasa sakit ketika nama itu diungkit oleh perempuan satu-satunya di dalam ruangan itu. Sesuatu telah terjadi. Mengapa Taehyung tidak ada di sana?
“Ah! Aku lupa. Ini untukmu, Jimin.” Sohee memberikan tanaman yang sudah dia pegang sejak memasuki kamar kepada pemuda itu.
“U-untuk apa ini?”
“Lihat kan, dia tidak menyukainya.”
“Tutup mulutmu!” Sohee memberi Yoongi tatapan tajam atas komentarnya sebelum dia kembali menghadapi Jimin. “Itu adalah tanaman peace lily.”
Kedua alis Jimin bertautan dengan perasaan campur aduk. Dia tidak pernah mendapatkan sesuatu dari seorang gadis, terlebih lagi sebuah tanaman bunga. Dia tidak paham untuk apa itu, namun sebelum dia dapat bertanya, gadis yang lebih tua itu telah menjelaskan makna dari tanaman itu.
“Itu adalah harapan untukmu mendapatkan kehidupan yang lebih baik.” Sohee tersenyum manis padanya.
Jimin masih tidak memahaminya namun dia tidak lanjut bertanya. Dia malah memandangi para anggota kru yang berdiri di sekeliling tempat tidurnya. Setiap dari mereka memandanginya penuh kekhawatiran. Itu membuat Jimin sangat membenci dirinya. Dia benci dirinya yang terus mengusik semua orang.
Yoongi menarik kursi untuk duduk di samping Jimin. Semua orang terlihat mendapatkan tanda yang sama darinya. Mereka menginginkan sesuatu dari Jimin. Pemuda itu mendapatkan firasat tersebut. Yoongi belum berbicara sepatah kata pun pada Jimin.
“Biarkan aku meletakkan itu di atas meja.” Sekali lagi Sohee mengambil alih tanaman pot itu dari Jimin. Ketika dia melakukannya tangannya menyenggol lengan Jimin yang terluka. Itu membuat Jimin meringis.
“Sakit, kan? Rasakan. Tentu saja itu akan terasa sangat sakit. Kenapa kau sangat suka menyayat pergelangan tanganmu?” Yoongi berkomentar ketika melihat ekspresi kesakitan Jimin.
Jin menahan Yoongi mengatakan hal yang kasar dengan menyentuh pundaknya namun pemuda itu menepis tangan tersebut.
“Apa yang kau pikirkan ketika kau melakukan hal seperti itu?”
“Yoongi, jangan terlalu kasar.” Jin memperingatkan dengan nada tegas. Dia bisa melihat betapa Jimin mengerut ke dalam dirinya selagi Yoongi mengomelinya. Jimin yang mengasingkan diri adalah hal yang tidak mereka perlukan. Mereka tidak akan dapat mengetahui pemikirannya jika dia menarik diri. Mereka harus mencari tahu mengapa Jimin mencoba membunuh diri. Apa yang menyebabkan hal tersebut?
“Ma-maaf.”
“Jangan katakan maaf pada kami. Apa kamu tidak tahu betapa orang tuamu khawatir?”
“Itu bukan pengalaman yang menyenangkan menyaksikan kau meregang nyawa di kamar mandi. Terlebih lagi ini bukan kali pertama.” Namjoon bergabung dengan Yoongi. Namun dia melakukannya dengan sikap yang lebih tenang. “Sungguh, Jimin. Kau harus membiarkan kami tahu apa yang terjadi padamu. Dengan begitu kami bisa melakukan sesuatu untukmu.”
Jimin memalingkan pandangannya, namun tidak ada tempat untuk bersembunyi. Setiap pasang mata sedang memandanginya.
Apa kau pikir kau bisa kabur dari kami?
Isi pesan yang dia pernah dapatkan sekali lagi terlintas dalam benak Jimin.
“A-aku tidak tahu.” Jimin pikir dia tidak boleh mengatakan apa pun pada siapa pun atau dia akan mendapatkan pengalaman mengerikan lebih banyak. Dia tidak dapat mengatakan apa pun. Dia dilarang untuk bercerita. Dia telah melakukannya sekali dan konsekuensinya adalah sesuatu yang tidak ingin dia alami lagi.
“Kami tahu sesuatu terjadi padamu di sekolah menengah pertama. Jadi kali ini apa yang membuatmu ingin membunuh diri?” Yoongi tidak seperti Namjoon yang memiliki kesabaran untuk membuat Jimin paham, dia lebih kepada sosok yang berterus terang.
Perkataan Yoongi membuat Jimin semakin ketakutan. Matanya mulai berkeliaran panik seakan dia sedang mencari sesuatu, atau seseorang. Jimin terlihat sangat ketakutan.
“Jimin a ....” Jin berbicara dengan nada lembut.
“Aku tidak tahu. Aku tidak tahu apa pun. Jangan tanya aku. Kumohon.”
“Park Jimin!” Yoongi menaikkan nada suaranya.
Bukannya berbicara Jimin malah menggeleng kepalanya lebih keras. Dia menutupi kepala dan telinganya dengan lengannya yang terluka. Mengerut hingga menyerupai bola. Dia mencoba untuk tidak terlihat sebisa mungkin.
“Teman-teman, jangan paksa dia. Dia baru saja sadar. Berikan dia waktu.”
Sohee mencoba melerai situasi menegangkan tersebut namun Yoongi tidak melepaskan pandangan tajamnya. Hal itu membuat Sohee menghela napas dengan kesal. Dia melirik ke arah Jin dan memberinya tanda untuk membawa pergi Yoongi dari ruangan. Jin melakukan yang diminta. Yoongi melawan awalnya namun Jin berhasil membawanya keluar untuk mendinginkan kepala. Tinggallah Sohee dan Namjoon di dalam ruangan bersama Jimin. Sohee memandangi Jimin dengan tenang. Pemuda itu masih saja mengurung dirinya di dalam dekapan lengan. Sohee duduk di kursi Yoongi tadi.
“Apa kau tahu makna dari bunga yang kubawa untukmu?”
Sohee menyeret pandangan matanya ke arah pot tanaman bunga di samping tempat tidur.
“Aku tahu tanaman ini biasanya dikirimkan kepada keluarga yang mengalami kehilangan tapi ada makna lain mengapa aku memberimu peace lily ini. Itu adalah kelahiran kembali. Untuk mengekspresikan harapan dan ketenangan, itu adalah yang biasanya orang katakan mengenai makna tanaman ini. Kuharap dengan kembali hidup kau akan mendapatkan kehidupan yang lebih baik. Kau tahu, kau tidak seharusnya membiarkan seseorang memiliki pengaruh atas dirimu seperti ini. Ini adalah kehidupanmu.”
“Kau tidak tahu apa pun mengenai ini.” Jimin bergumam.
“Ya, aku memang tidak tahu. Aku tidak tahu apa yang sudah kau alami hingga membuatmu melakukan hal seperti ini tapi aku senang kau dapat bertahan hidup. Kau sudah dilahirkan kembali dari kematian, karena itu kau seharusnya hidup dengan lebih baik.”
Jimin tidak mengatakan apa pun.
“Kau bisa menceritakan apa pun pada kami. Bukankah kami temanmu?” Namjoon melanjutkan perkataan Sohee. Dia kemudian menambahkan hal lain di belakang untuk meringankan percakapan. “Aku tidak percaya kalau aku sungguh bisa menggunakan kata itu.”
Jimin masih menutup mulutnya.
“Apa kau ingin diselamatkan? Atau kau lebih ingin mengabaikanmu?”
Jimin mengangkat kepalanya namun masih tidak mengatakan apa pun. Namjoon memahami bahwa akan sulit untuk Jimin membicarakan hal yang membuatnya takut, terlebih lagi jika hal itu membuatnya memutuskan untuk membunuh dirinya. Namjoon mencoba cara lain.
“Taehyung bersamaku ketika kami menemukanmu di dalam kamar mandi.”
“Apa yang kalian berdua lakukan di rumahku?”
“Kami mencoba untuk berbicara denganmu. Kau kan sudah absen tiga hari. Itu membuat Taehyung cemas sebenarnya. Tapi kami tidak pernah mengira akan menyaksikan usaha bunuh dirimu.”
Jimin memandang ke arah Namjoon lama sebelum dia membuka bibirnya untuk berbicara. “Aku tidak mencoba untuk bunuh diri.”
Namjoon mendapatkan Jimin masuk ke dalam percakapan sekarang.
“Sungguh? Kalau begitu apa yang kau lakukan dengan lenganmu?”
Jimin terlihat ragu. Dia menatap ke arah lengannya yang diperban. Dia teringat saat pertama kali dia merasakan hal seperti ini. Di sekolah menengah pertama, saat itu pun juga merupakan sebuah kecelakaan. Namun semua orang mengira itu seperti itu. Mereka bilang dia ingin membunuh diri sementara yang dia inginkan hanyalah untuk bertahan hidup. Namun apa gunanya mengoreksi hal tersebut? Orang-orang hanya ingin mendengar dan melihat yang mereka inginkan saja. Tidak ada yang mendengarkannya. Tidak ada satu pun.
“Baiklah, kau benar. Aku hanya merasa sangat lelah dengan dunia. Tidak ada yang memihakku. Kupikir apa gunanya lagi melanjutkan hidup.”
“Apa yang terjadi? Apa yang membuatmu berpikir seperti itu? Pasti ada penyebabnya kan? Apa itu karena pemuda yang di pantai saat itu? Apa dia melakukan sesuatu padamu?”
Mata Jimin bergerak panik.
“Aku tidak tahu. Jangan tanya aku.”
Namjoon melirik pada Sohee yang sepertinya memiliki pemikiran yang sama dengannya. Mereka menyadari bahwa mereka kembali ke kotak pertama lagi.
“Tidak apa-apa.”
Namjoon menepuk tangan Jimin untuk meyakinkannya.
☆☆☆☆☆☆☆

Yoongi dan Jin segera berdiri ketika mereka melihat Namjoon dan Sohee keluar dari ruangan Jimin setelah perawat masuk.
“Bagaimana?” Jin adalah yang pertama kali bertanya.
Namjoon dan Sohee kompak menggeleng.
“Itu pasti karena anak itu! Seharusnya aku memberinya pelajaran lebih.” Yoongi menendang dinding.
“Aku tahu kau peduli dengan semua orang di sini tapi memukul seseorang tidak akan membantu, kau tahu itu?” kata Jin.
“Kalau begitu apa yang harus kita lakukan sekarang?” Sohee terlihat bingung karena dia tidak mengetahui apa yang terjadi pada malam di pantai namun dia tahu ada sesuatu yang salah yang terjadi sejak hari pertunjukkan pertama BTS.
“Beri dia waktu. Aku tahu ini akan memakan waktu tapi dia akan menceritakan itu pada kita perlahan.” Namjoon sekali lagi menghela napas. Dia merasa lelah dengan semua sikap penuh perhatian ini sesungguhnya. Rasanya lebih mudah ketika dia bersikap tidak acuh pada segala hal. Namun dia telah terlanjur terlibat dalam kekacauan ini hingga tidak lagi dapat kabur darinya.
“Baiklah, ayo pergi untuk saat ini. Kita bisa kembali besok. Sekarang, bagaimana kalau kita mengunjungi Hoseok? Jungkook dan adik-adik Hoseok pasti sudah mengganggu anak itu sejak dia bangun. Mereka sangat mengkhawatirkannya.” Jin menyarankan.
“Kenapa kita punya begitu banyak orang untuk dikunjungi di sini?” Yoongi mengerang.
Para anggota kru mulai berjalan pergi dari depan pintu kamar Jimin. Mereka membicarakan mengenai rencana mereka. Selagi mereka berjalan, mendadak Sohee bersikap aneh dengan bersembunyi di balik punggung Yoongi. Sepertinya dia baru saja melihat sesuatu yang membuatnya ketakutan. Hanya Yoongilah yang menyadari hal tersebut. Dia menoleh ke arah pandangan Sohee. Awalnya dia pikir itu karena keributan yang sedang terjadi tak jauh dari tempat mereka berdiri, namun ternyata laki-laki yang membuat keributan itu adalah seseorang yang Yoongi dan Sohee ingat dengan jelas. Itu adalah laki-laki yang memberikan mimpi buruk pada Sohee. Tapi ada sesuatu yang berbeda terlihat dari orang tersebut. Dia terlihat seperti pesakitan dan tidak dalam pikiran sehatnya. Beberapa orang menuntun jalannya, atau lebih tepatnya memaksanya berjalan, orang-orang dengan seragam putih yang tidak berasal dari rumah sakit ini. Apa yang terjadi pada laki-laki itu?
Yoongi menyentuh tangan Sohee untuk mendapatkan perhatiannya kembali. “Jangan lihat ke arah sana.”
Sohee mendongak ke arah Yoongi. Pemuda itu bertukar posisi dengan Sohee untuk menutupinya. Tindakan kecil itu membuat gadis itu tersenyum kecil.
“Apa yang kalian berdua sedang lihat?” Jin menangkap situasi yang tidak menyenangkan di belakangnya. Dia dan Namjoon telah berhenti berjalan karena menyadari kedua orang lainnya tertinggal.
Sohee mencoba mengabaikan perasaan buruknya.
“Tidak ada apa-apa. Oh ya, mumpung kita masih di sini, apa kita sebaiknya mengunjungi kamar orang tua Taehyung juga? Kita bisa mengunjungi Taehyung di pusat detensi untuk memberitahu kabar terbaru soal kondisi ayahnya.”
Dia mencoba mengalihkan perhatian para anggota kru. Komentarnya sesungguhnya membuat semua orang teringat pada nasib tak pasti dari pemuda tersebut.
“Apa yang akan terjadi pada Taehyung? Apa dia akan baik-baik saja?” Jin bertanya dengan nada khawatir.
Bagaimana menjadi muda adalah momen terindah dalam kehidupan kita? Di mana letak keindahan dari hal ini?
Namjoon teringat pada apa yang Taehyung katakan ketika dia mengunjungi pemuda tersebut di sel penjara sementara. Pemandangan dari ekspresi penuh rasa sakit Taehyung meninggalkan rasa pahit untuk Namjoon. Di mana sisi keindahan dari semua kekacauan ini?
“Dia akan baik-baik saja, kurasa.” Namjoon memutuskan untuk bertahan pada kepercayaannya dan mengalihkan pemikiran buruk. Dia belum ingin menyerah. Semua akan baik-baik saja. Baik-baik saja.
Yoongi menghela napas sambil mengacak rambut hitamnya dengan frustrasi. “Tidakkah kau merasa hal ini sungguh penuh kegilaan? Kurasa aku akan menjadi gila karena semua kejadian gila ini.”
Namjoon terkekeh penuh ironi ketika mendengar Yoongi mengeluhkan rasa frustrasinya. Dia memahami bagaimana rasanya ketika kau memperhatikan semua orang yang kau pedulikan jatuh satu persatu ke dalam keputusasaan dan kau tidak dapat melakukan apa pun untuk mencegahnya. Dia sangat tahu hal itu. Namun begitulah bagaimana kehidupan bekerja. Kau tidak dapat menyelamatkan semua orang. Kau tidak bisa menjalankan kehidupan untuk mereka.
“Baiklah, kita sungguh harus menjemput Jungkook dari kamar Hoseok supaya bisa berlatih keras untuk siaran langsung.”
☆☆☆☆☆☆☆
PD yang bertugas menatap cemas Namjoon yang terdiam untuk beberapa detik. Itu juga terjadi pada seluruh orang di dalam ruang interview dan semua orang yang sedang menonton video tersebut ketika itu diputar. Mereka semua menanti dalam diam untuk hal yang Namjoon ingin sampaikan.
“Aku tahu kalau aku tidak bisa mengatakan ‘ayo hanya melihat dan memikirkan hal-hal yang baik saja’ atau ‘mari kita hanya menjalani kehidupan yang penuh kebahagiaan saja’. Itu adalah kebohongan besar. Hidup selalu penuh dengan kontradiksi. Mereka memang bisa membawamu kepada kebahagiaan level tertinggi; mereka juga bisa menarikmu turun hingga titik keputusasaan terdalam.
Aku juga tidak bisa mengatakan setelah ini masa depan hanya akan dipenuhi dengan hal-hal baik saja dan kau tidak akan terluka lagi. Itu mustahil. Setelah ini bahkan kau mungkin akan menghadapi hal yang lebih sulit daripada hari ini. Kau mungkin akan merasa bahwa terang tidak akan pernah menyinari kehidupanmu lagi. Tapi aku sangat ingin mengatakan hal ini padamu. Hari-hari penuh kebaikan akan datang. Jangan menyerah. Kau tidaklah sendiri. Pasti ada seseorang yang peduli mengenaimu.
Dan untuk Jimin, Taehyung, dan Hoseok Hyung, kalian punya kami.”
Meskipun kau tahu dengan cukup pasti bahwa kau tidak dapat melakukan banyak mengenai situasi tersebut, kau masih saja ingin mencoba melakukan sesuatu. Setidaknya untuk berada di samping mereka. Hanya itu saja.
☆☆☆☆☆☆☆

Let’s run, run, run again!
It’s ok to fall down
Let’s run, run, run again!
It’s ok to be injured
I am happy enough even though I can’t get you
Curse me, this foolish destiny!

Kerumunan penonton sudah mulai ikut menyanyikan bagian chorus bersama Jungkook. Panggung masih terasa sangat panas bahkan begitu pula dengan keramaian di bawahnya. Para anggota kru mengedarkan pandangan ke arah penonton. Semua orang terlihat menikmati lagu tersebut. Sepertinya lagu mereka sudah cukup sukses meraih hati para pendengarnya. Hati semua orang, dan semoga saja itu termasuk hati teman-teman mereka yang mungkin sedang menyaksikan siaran langsung ini dari tempat mereka berada. Jika itu dapat terjadi, maka ini rasanya cukup untuk saat ini.
(Run) Don’t tell me bye, bye
(Run) You make me cry, cry
(Run) Love is a lie, lie
Don’t tell me, don’t tell me
Don’t tell me bye, bye.

THE END

Author’s Note:
Akhirnya tamat juga. Sebenarnya aku selalu merasa khawatir dengan akhir dari cerita ini. Aku khawatir jika kalian tidak akan menyukainya. Itu sebabnya saat cerita ini ditulis dua chapter terakhir adalah chapter-chapter yang paling sulit. Tapi, karena sekarang aku sudah mengunggah cerita ini, tidak ada lagi yang bisa kulakukan. Penilaian tinggal tergantung pada kalian. Aku sudah menyelesaikan cerita ini, sekarang giliran kalian. Jika kalian menyukainya, boleh loh tinggalin komentar dan vote. :)
Dan untuk kata-kata terakhir, aku ingin memberi kalian sebuah kutipan yang kurasa cocok untuk cerita ini meskipun bukan ide utama dari cerita ini.

“Sosok muda itu bahagia karena ia memiliki kemampuan untuk melihat keindahan. Siapa pun yang mempertahankan kemampuan untuk melihat keindahan tidak pernah menjadi tua.” – Frans Kafka.

Kuharap kalian semua tidak pernah menjadi tua dan semoga kalian semua selalu berbahagia.
See you next time or somewhere else. :)
 

You Might Also Like

17 comments

  1. Plis deh kak, fanfic-mu keren sekali. Maaf baru komen sekarang, barusan nemu fanfic ini trus ngebut baca. Aku seneng cerita buatanmu, buat fanfic tentang pertemanan lagi dong.. Semangat terus kak....

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih sudah baca. *nggak tahu namamu. XD*

      Lain kali ya. Semoga ada inspirasi buat nulis tema ini lagi.

      Delete
  2. Kyaaa akhirnya selesai, aku baru baca sampai chapter 7, soalnya baru ngeprint sampai chapter itu. AKu baru ngeh ada beberapa kata yang agak asing atau kaku, terus aku inget kalau ini awalnya dari bahasa Inggris, hehe.
    Tapi aku suka banget ceritanya :") setipe sama drama Dream High sama God of Study. Soalnya aku juga suka tipe-tipe cerita kayak gitu, persahabatan, mimpi, sekolah, belajar, cinta-cinta remaja, hihi.
    Semoga kakak bisa buat cerita yang menginspirasi kayak gini lagi ya. Walau aku belum baca semua, tapi aku yakin bakal seru :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya. FF ini dari awal ditulis dalam Bahasa Inggris makanya beberapa terasa agak janggal. Haha. Bingung nyari padanan katanya.

      Amin... semoga tetap suka cerita ini sampai tamat.

      Delete
    2. Kakaakkk aku udah selesai baca dan langsung gak bisa tidur! 😂
      aku baca sebelum tidur ternyata malah bablas(?) gak tidur karena kebayang terus.

      Suka banget! aku malah gak berharap itu bakal ending disitu, kayak masih ada yang perlu diselesein. Tapi gak bisa diaebut gantung juga(?), karena enaknya emang berhenti disitu. Soalnya aku juga masih gak ngerti kenapa Jin malah gak ikut manggung, padahal dia gak ada masalah.

      Btw, aku gemes sama sikap Yoongi kd Sohee kak, heheh. Bikin senyum-senyum sendiri. Apa Suga kalau suka sama perempuan apa segitu banget ya 😅

      Delete
    3. Hehehe... Akhirnya kelar juga bacanya. Hayo kebayang apa... wkwkwk

      Jin nggak ikut manggung soalnya dia kan sejak awal kompetisi nggak ikutan. Sedangkan kemarin sudah h-beberapa hari sebelum live performance. Dia nggak ada latihan sama sekali, jadi nggak mungkin bisa donk. :)

      Jadi dia nonton aja sama Sohee di bawah panggung. LOL

      Keknya sih bakalan gitu. Wkwkwkwk. Dulu kan dia pernah bilang kalau waktu SMP dia pernah menyesal karena nggak bisa bersikap lebih baik ke cewek yang dia suka. XD

      Btw... makasih sudah membaca dan meninggalkan komen.

      Delete
    4. Hai Kak I'm back! Wkwkwk. Gak tahu kenapa masih penasaran pengen mampir kesini.
      Sebenernya aku juga bukan tipe orang yang suka ninggalin komen, seringnya jadi silent reader. Jadi kalau aku tiba-tiba berkicau di komentar, berarti tulisan atau hal yang di posting itu istimewa. Yeaaa... #tebarconfeti

      Aku sebenernya gak bisa disebut fans BTS juga, tapi memang dari dari dulu suka donlod lagu mereka. Member yang aku hapal cuma Jungkook sama Rapmon, wkwk. Tapi gara-gara ngambil konsep comebacknya Demian, tanpa sadar aku jadi hafal segala macam tentang mereka. XD

      Fansnya BTS banyakan ABG kan ya Kak, jadi seneng aja nemu(?) orang yang dewasa sikap dan pemikirannya kayak Kakak, hehe.

      Delete
    5. Hahaha...

      Jadi tersandung eh tersanjung. :')

      Aku juga sih, sampai sebelum MV BST keluar, aku masih nggak mau disebut fans BTS bahkan meskipun aku udah nerjemahin Demian. Baru-baru ini saja memutuskan untuk bergabung.

      Di Amino app ada komunitas Army Indonesia, yah lumayan lah ada beberapa orang yang cukup dewasa dalam hal sikap dan pemikiran meskipun abgnya masih tetap jauh lebih banyak.

      Delete
    6. Wah, aku gak punya app-nya kak, hapenya lagi rusak juga T______T
      Eh, kakak punya sosmed? kalau boleh mungkin aku bisa maen ke salah satunya, hehe.

      Delete
    7. punya tapi... aku nggak aktif di sosmed. Hahaha

      Delete
  3. Cuma bingung sama nasibnya si V atau Taehyung aja.. soalnya dia kan dipenjara.. Gemesin liat Jimin kayak gitu..:3
    Btw ff nya bener bener bagus banget apalagi disangkutpautin sama MV nya
    Makasih Kak udah buat ff sebagus ini...:)

    ReplyDelete
  4. Bagus bgt kak ceritanya daebak!

    ReplyDelete
  5. Mbak deas... Maafken aku yang baru mengunjungi lapakmu yang keren ini...
    Hiks jimin-ie, aku suka ff nya ��

    ReplyDelete
  6. Aaaaa suka bgt ceritanya😭ngebut bgt ini bacanya semalem jadi:( rasanya emg nyata dan bener kejadian, apalagi karakter2nya cocok bgt sama mereka haha, selagi baca selalu kepikiran "ya, mereka bakal ngomong kaya gini kalo di dunia nyata". Kayanya ini bakal kebayang trs sampe berapa minggu deh😂 kalo dijadiin buku aku bakal beli loh ka haha.

    ReplyDelete
  7. Ka daisy udah liat teori2 bts buat next comeback belum ka?aku jungshook ka. Storyline nya bisa dikatakan mirip sm cerita kaka. Di teaser nya ada bacaan "after coming back from the sea, all of us are alone" dan di cerita kaka sesudah rm cees balik dr pantai itu mrk mulai berpisah satu persatu. Idk but it kinda reminds me of youth of lily..

    ReplyDelete

2016 Reading Challenge

2016 Reading Challenge
Deasy has read 2 books toward her goal of 30 books.
hide