[BTS Fan Fiction] Youth of Lily - Twentieth Run

10:15 AM








TWENTIETH RUN
That light, that light, please illuminate my sins
Where I can’t turn back the red blood is flowing down
Deeper, I feel like dying every day
Please let me be punished
Please forgive me for my sins
Please



“Namjoon a, apa yang harus kulakukan? Aku sungguh muak dengan semua hal ini? Kenapa semuanya berubah menjadi seperti ini?”
“Taehyung, apa yang terjadi? Di mana kau? Taehyung. Kim Taehyung ....” Namjoon bangkit dengan cepat dari tempat tidurnya ketika dia mendengar suara yang datang dari teleponnya. Dia mencoba mencari ke sekeliling ruangan untuk pemuda yang seharusnya ada di sana. Ke mana dia pergi? Apakah dia pulang tanpa memberi tahu kepada Namjoon?
Saat itu sudah larut malam. Semua orang seharusnya sudah tidur, begitu pula Namjoon. Dia sangat memerlukannya. Namun waktu istirahatnya terganggu oleh sebuah panggilan telepon.
Suara Taehyung terdengar sangat serak dan bergetar. Dia menangis dan terus menangis tanpa menjawab pertanyaan Namjoon.
Aku sangat ingin semua hal kembali seperti semula.
☆☆☆☆☆☆☆

Dia berlari tanpa henti. Berlari dan terus berlari. Tidak ada tujuan yang ingin dicapai. Dia hanya terus mengikuti lingkaran yang sama. Terus bertemu dengan jalan buntu yang sama. Dia tidak dapat keluar dari labirin ini. Sekelilingnya begitu gelap. Dia tidak pantas mendapatkan cahaya di dalam kehidupannya. Dia adalah seorang pendosa. Dan tidak peduli seberapa keras dia menangis dan berteriak meminta seseorang untuk mengeluarkannya dari sana, tidak ada seorang pun yang mendengarnya. Satu-satunya hal yang mengawasinya hanyalah sosok kecil yang memegang mainan sambil memperhatikan gerak-gerik Taehyung dari setiap sudut. Sosok itu adalah kesalahannya. Penghakimannya. Dia telah menantinya untuk melakukan kesalahan yang sama untuk kembali menghakiminya sekali lagi. Dan dia telah kalah dalam pertarungan ini. Sekali lagi dia melakukan kesalahan yang sama. Dia membiarkan Jimin mati seperti kakak laki-lakinya mati.
☆☆☆☆☆☆☆

Taehyung a, ikuti aku. Aku akan menunjukkan cara untuk menggambarnya.”
Terdapat Taehyung yang memegang krayon merah di atas kertas putih. Taehyung kecil memperhatikan pemuda yang sedang menggambar garis dan dia mencoba menirukannya dengan krayon lain. Sesekali dia menarik garisnya melewati garis milik kakaknya. Taehyung mencoba mengusik kakaknya namun pemuda tersebut tidak merasa terganggu. Malahan dia membalas dendam kepada lengan Taehyung. Tawa canda terdengar ke seluruh penjuru. Mereka tersenyum pada satu sama lain seakan tidak ada hal lain untuk dikhawatirkan.
☆☆☆☆☆☆☆
Hyung ... Hyung ... aku dapat penghargaan dari sekolah. Lihat lukisanku.”
Taehyung kecil berlari ke arah kakak laki-lakinya yang terlihat sedang berdiri di dalam sebuah gang kecil di dekat rumah mereka bersama salah satu temannya. Mereka sedang berbicara dengan serius sebelumnya namun Taehyung tidak menyadarinya. Dia hanya ingin membanggakan prestasinya pada kakaknya.
Whoa Taehyungie, kau luar biasa.” Bukannya kakaknya malahan pemuda yang satu lagi yang memuji Taehyung. Kakaknya tidak mengatakan apa pun.
 “Siapa orang ini, Hyung?”
Taehyung mendapatkan firasat janggal ketika dia melihat pemuda tersebut. Ada sesuatu yang berbeda dengan pemuda itu. Taehyung menyembunyikan diri di belakang kakaknya. Dia tidak menyukai cara pemuda itu berinteraksi dengan kakaknya atau pun mengenai pandangan matanya.
☆☆☆☆☆☆☆

“Taehyung, di mana kakakmu?” Saat itu sudah larut malah dan Taejun masih belum pulang. Itulah sebabnya ayahnya menanyai Taehyung ketika dia baru saja pulang kerja.
Taehyung kecil berhenti memainkan mainan dan menatap ayahnya dengan tatapan tak bersalah dan sedikit kesal. “Hyung bilang dia mau keluar dengan temannya. Aku tidak boleh ikut dengan mereka.”
Taehyung sudah mengetahui sejak pertama kali melihatnya, dia tidak akan menyukai pemuda yang datang bersama Taejun. Pemuda itu memonopoli seluruh waktu kakaknya.
☆☆☆☆☆☆☆

Taejun sedang bertengkar dengan ayah mereka. Taehyung tidak dapat memasuki rumah. Dia tahu takut bahwa ayahnya akan memarahinya pula. Dia menangis sambil memegangi mainannya. Dia berharap situasi bising ini segera berlalu. Dia ingin memasuki rumah. Dia ingin bermain dengan kakaknya.
Mengapa mereka lagi-lagi bertengkar?
Mengapa ayah mereka marah kepada Taejun?
Apa kesalahan Taejun?
Apa dia makan sambil memainkan mainannya? Atau dia tidak mau makan sayur? Ayah selalu memarahi Taehyung karena itu.
☆☆☆☆☆☆☆

Taehyung menangis sambil berlari. Langkah kaki kecilnya terhenti beberapa kali karena tersandung namun dia tidak berhenti. Dia harus mencari seseorang untuk membangunkan kakaknya.
Seseorang tolong bantu kakaknya.
Ada kolam berwarna merah di dalam kamar mandi. Kakaknya tertidur di dalam sana. Dia akan masuk angin. Taehyung tidak bisa membangunkan kakaknya. Taejun pasti merasa sangat kesakitan karena itu dia berdarah. Taehyung selalu menangis kesakitan setiap kali terjatuh dan lututnya cedera.
☆☆☆☆☆☆☆

Taehyung a, bisakah kamu berjanji satu hal denganku?”
“Apa itu, Hyung?”
“Hiduplah dengan bahagia. Kau harus bahagia apa pun yang terjadi.”
☆☆☆☆☆☆☆

Taehyung berjalan menyusuri lorong sambil mengusap air mata dari pipi. Setelah membetulkan letak tudung jaketnya, dia menderapkan langkahnya ke ujung lorong tersebut. Lubang nerakanya. Namun berada di tempat itu tidak pernah begitu terasa lebih baik sebelum saat ini. Ini adalah tempatnya seharusnya tinggal, bukan tempat lain.
Terdapat suara yang bising di dalam. Ayahnya mungkin lagi-lagi mabuk. Dia selalu mabuk semenjak Taejun meninggal. Inilah yang Taehyung butuhkan.
“Itu adalah kesalahanmu sudah melahirkan monster seperti itu!”
“Berhenti memanggil anakmu sendiri monster.”
“Kau tahu apa yang dia lakukan. Dia hanya membawa aib buat keluarga.”
Ibunya mencoba mengatakan sesuatu untuk membela apa yang ayahnya katakan namun pria itu menamparnya dengan penuh emosi. Taehyung hendak memasuki ruangan untuk menghentikan ayahnya mencelakai ibunya namun langkah kakinya terhenti di tengah jalan karena mendengar apa yang ayahnya katakan selanjutnya.
“Kau tahu? Aku senang dia sudah mati karena kalau tidak akulah yang akan membunuhnya sendiri dengan tanganku. Aku bilang itu padanya. Beraninya dia bilang padaku untuk membiarkan dia seperti itu. Dia itu anak laki-laki.”
Mereka sedang bertengkar mengenai Taejun.
Ayahnyalah yang mendorong Taejun pada kematian. Dialah yang menyuruh Taejun untuk membunuh diri. Bagaimana bisa dia mengatakan hal seperti itu pada darah dagingnya sendiri? Taehyung merasakan darahnya mendidih. Dia tidak dapat melihat apa pun di hadapannya lagi. Telinganya berdenging keras. Napasnya tercekat pendek. Taehyung meraih apa pun yang bisa dia dapatkan dalam perjalanannya memasuki ruangan tersebut.
“TAEHYUNG A!”
Dia mendengar teriakan ibunya namun tidak sekali pun dia berhenti. Wanita itu memeganginya namun Taehyung menyingkirkan ibunya. Taehyung tidak dapat melihat apa pun selain warna merah. Dan sebelum dia menyadarinya, tangannya pun telah dikotori oleh warna merah. Darah.
Ibunya menangis pilu sambil memeluknya. Dengan putus asa dia mencoba menghentikan Taehyung.
Apa yang baru saja terjadi?
Sang iblis terbaring di atas lantai.
☆☆☆☆☆☆☆

You Might Also Like

0 comments

2016 Reading Challenge

2016 Reading Challenge
Deasy has read 2 books toward her goal of 30 books.
hide