[BTS Fan Fiction] Youth of Lily - Twenty-First Run

10:17 AM



TWENTY-FIRST RUN
Forever we are young
Under the flower petals raining down
I run, so lost in this maze
Forever we are young
Even when I fall and hurt myself
I keep running toward my dream


“Apa artinya menjadi muda?”
Itu adalah pertanyaan yang Taehyung lontarkan selagi mereka melakukan rapat untuk pertunjukan siaran langsung mereka. Di sana terdapat Taehyung, Namjoon, Yoongi, dan Jungkook di dalam ruang latihan. Terdapat pula kru yang melakukan perekaman gambar.
Ketiga orang lainnya memalingkan pandangan ke arah Taehyung yang duduk menyandar dengan tangan menopang tubuhnya atas lantai. Dia memulainya lagi. Taehyung selalu melemparkan komentar acak setiap kali mereka sedang dalam diskusi serius. Kali ini dia muncul dengan pertanyaan tersebut ketika Namjoon sedang menjelaskan mengenai lirik yang baru saja mereka tulis. Itu adalah mengenai menjadi anak muda.
“Itu adalah rasa sakit.” Jungkook selalu menjadi yang pertama menanggapi spontanitas Taehyung. Dia menjawabnya dengan sebuah kutipan terkenal yang sering kali digunakan untuk referensi ketika orang-orang berbicara mengenai masa muda. Itu terasa sakit karena kita masih muda.
“Kenapa hanya karena kita masih muda itu terasa sakit? Apakah orang dewasa tidak merasakan sakit juga?” Taehyung memalingkan kepala ke arah para juru kamera yang mengambil gambar mereka. “Apa kalian tidak merasakan sakit jika sesuatu yang buruk terjadi?”
Pertanyaan Taehyung membuat para pria itu kelimpungan. Dia selalu melakukannya setiap kali mereka merekam gambar. Sebuah pertanyaan yang mendadak tertuju ke arah mereka. Melibatkan mereka ke dalam situasi. Namun mereka selalu menjawabnya setiap kali. Orang-orang menyukai spontanitas Taehyung. Dia adalah salah satu yang paling disukai dari para anggota BTS.
Lihat, orang dewasa juga bisa merasakan sakit ketika mereka terluka. Mengapa orang-orang hanya mengasosiasikan rasa sakit dengan masa muda? Itu terasa sakit karena memang sakit, tidak peduli berapa pun usiamu. Jadi, apa sebenarnya makna dari masa muda?”
Taehyung memandangi teman-temannya. Namjoon menghela napas sambil mencoba memikirkan jawaban untuk disampaikan kepada pemuda tersebut. Dia tahu jika dia tidak mengatakan apa pun pemuda itu tidak akan menghentikan pertanyaannya. Selalu saja seperti itu.
☆☆☆☆☆☆☆

“Sudah dimulaikah?”
Di sana terdapat Namjoon, Yoongi, dan Jungkook yang berjalan memasuki ruangan yang dipenuh latar hitam di sekeliling, sebuah kamera, dan tiga buah kursi untuk mereka duduki. Mereka terlihat canggung ketika menatap kamera.
“Kenapa hanya ada kalian bertiga saja di dalam ruang interview ini? Di mana Taehyung?”
Ketiga pemuda tersebut membeku untuk sesaat sebelum sang PD di belakang kamera mencoba membuat mereka berbicara mengenai sesuatu. Stasiun televisi telah diberitahu mengenai apa yang terjadi sebelum panggung siaran langsung. Mereka telah membuat kesepakatan sebelumnya. Namjoon harus mengatakan sesuatu mengenai Taehyung agar ketidakhadirannya tidak membingungkan para penonton pada siaran langsung.
“Taehyung ....”
☆☆☆☆☆☆☆

“Bukankah dunia sungguh tidak adil?”
Namjoon berdiri di hadapan Taehyung yang sedang duduk di salah satu sudut gelap di bawah lampu jalan. Dia terlihat sangat buruk dengan darah di sekujur pakaian dan tangannya. Namjoon tidak mengira akan mendapati hal semacam ini ketika dia mengatakan akan menjemput pemuda tersebut dari tempatnya berada.
“Jimin disiksa hanya karena dia pernah memiliki ukuran tubuh yang lebih besar daripada yang lain. Hoseok Hyung kelebihan dosis obat karena masalah yang tidak seharusnya menjadi beban seseorang di usianya. Dan Taejun Hyung ... Taejun Hyung .... Dia mati karena dia berbeda. Apa salahnya menjadi berbeda? Mengapa Hyung harus mati seperti itu? Mengapa orang-orang terus merasa mereka memiliki hak untuk menghakimi orang lain? Atas dasar apa mereka pikir mereka lebih tinggi daripada orang lain?”
“Apa yang terjadi, Taehyung? Berhenti menangis. Katakan padaku apa yang terjadi dan kenapa kamu berlumuran darah seperti ini? Apa kau terluka?”
Namjoon menyentuh Taehyung dan memeriksa untuk mengetahui apakah pemuda tersebut terluka.
Aku sudah membunuhnya.”
“Apa?”
“Aku sudah membunuh ayahku. Tidak ada jalan kembali. Aku sudah membunuh seseorang.”
☆☆☆☆☆☆☆

“Apa kalian bisa menceritakan pada kami konsep panggung kali ini?”
Ketiga pemuda itu saling memandangi satu sama lain.
“Itu adalah mengenai masa muda.” Namjoon adalah orang yang bertugas untuk menjelaskan.
“Masa muda? Apa kau bisa lebih menjelaskannya lagi.”
“Ya, masa muda. Ini adalah mengenai kehidupan semua orang, terlebih lagi mengenai hidup kami. Seperti yang Anda bisa lihat, kami masih muda. Orang-orang bilang selagi masih menjadi anak muda, rasa sakit dan kebingungan adalah hal yang tak dapat dilepaskan dari kami. Orang bilang itu terasa sakit karena kami masih muda. Itu mungkin saja benar namun untuk kami, menjadi muda adalah menjadi berani karena kami memiliki kemampuan untuk melihat keindahan.
Menjadi seorang yang masih muda terkadang mirip dengan menjadi seorang yang tolol karena banyak dari kami bertindak terlebih dahulu sebelum memikirkan konsekuensinya. Namun kupikir itu adalah waktu ketika kami tidak takut pada hal apa pun. Kami dapat tertawa, menangis, berkelahi, terluka, dan mengalami segala hal. Setiap kali kami terjatuh, kami akan memberanikan diri untuk bangkit kembali. Banyak orang dewasa yang telah melupakan hal tersebut namun kami tidak. Setidaknya belum.”
☆☆☆☆☆☆☆

Sebuah intro terdengar, melodi piano dengan beberapa efek suara sebagai pendamping.
You are my only sun, one and only in the world
I bloomed for you, but I’m still getting thirsty
It’s too late; too late I can’t live without you
Though my branch runs dry, I reach for you with all my strength.
Namjoon adalah yang keluar pertama kali dari belakang panggung membawakan rapnya yang ritmis. Penonton bersorak keras untuknya. Kebanyakan dari mereka telah mendukung tim tersebut sejak pertunjukan mereka pada episode sebelumnya. BTS adalah salah satu tim yang digadang-gadang menjadi kandidat pemenang jika berdasarkan ketertarikan dari massa dan seberapa tinggi lagu mereka yang terakhir di chart dari berbagai situs musik.
No matter how far I reach for you,
It is just an empty dream dream dream
No matter how crazy I run,
I remain on the same place place place
Just burn me! Yes, push me out!
This is crazy-fool’s love running.”
Yoongi bergabung dengan Namjoon di panggung setelah bagian pemuda tersebut, diikuti Jungkook yang menyanyikan bagian chorus. Itu seharusnya adalah bagian Taehyung namun pada akhirnya Jungkooklah yang membawakannya karena mereka harus melanjutkan pertunjukan. Dengan atau tanpa Taehyung.
☆☆☆☆☆☆☆

Semuanya terasa asing untuknya. Dia bahkan tidak lagi dapat merasakan apa yang dia rasakan atau pikirkan. Di sanalah dia berada, duduk sambil memandang kosong di dalam sel penjaranya. Dia tidak sendirian. Ada pria lain di sana. Beberapa dari mereka terlihat sangat keji dan beberapa terlihat begitu mabuk. Namun apa pun kesalahan mereka, tidak akan lebih buruk daripada dosanya. Mereka mungkin ditangkap hanya karena membuat keributan selagi mabuk atau tertangkap basah melakukan pencurian atau hal lain yang lebih mudah untuk dimaafkan. Sementara dirinya, dia tidak pantas mendapatkan pengampunan. Dia telah membunuh seseorang. Ah tidak, dia telah membunuh kakak laki-lakinya. Dia telah membunuh ayahnya. Dia tidak pantas untuk dimaafkan.
Haksaeng, temanmu ingin bertemu denganmu.” Seorang petugas polisi menggebrak jeruji sel untuk memanggilnya yang duduk di sudut terjauh.
Sorot mata Taehyung kembali pada kehidupan ketika dia mendengar suara petugas tersebut. Di sana terdapat Namjoon yang berdiri di sisi lain dari jeruji. Taehyung segera merangkak mendekati pembatas antara dirinya dan temannya.
“Kenapa kau ke sini? Bagaimana dengan ibuku? Apakah dia baik-baik saja?”
Apakah ayahku hidup?
Itu adalah pertanyaan yang paling dia ingin tanyakan. Sebenci apa pun dia pada laki-laki tersebut, Taehyung tidak bermaksud untuk membunuh seseorang, terlebih lagi membunuh ayahnya. Namun Taehyung tidak dapat menanyakan hal tersebut. Perasaannya yang terluka masih melarangnya untuk mengakui penyesalannya. Dia masih belum bisa memaafkan ayahnya karena telah memperlakukan kakaknya seperti itu. Dia masih tidak ingin memaafkan ayahnya karena telah menyiksa ibunya. Taehyung membenci cara ayahnya memperlakukan keluarga mereka. Dia benci cara ayahnya melarikan diri dari kesalahannya dengan menenggelamkan diri ke dalam pengaruh alkohol. Dia seharusnya sepenuhnya sadar untuk melihat betapa bersalahnya dia terhadap Taejun.
“Ibumu baik-baik saja. Tidak ada luka yang serius.” Namjoon memandangi Taehyung dengan serius. “Dan ayahmu berhasil diselamatkan. Saat ini dia berada di bangsal penyembuhan.”
Diam-diam Taehyung menghela napas lega ketika mendengar berita tersebut. Dia tahu bahwa dia dapat mempercayai Namjoon untuk mengatasi situasi ketika dia harus menyerahkan diri saat polisi datang untuk menangkapnya di bangsal rumah sakit. Sudah berapa lama waktu berlalu sejak saat itu? Lima? Sepuluh jam? Taehyung sudah kehilangan kemampuan untuk menghitung waktu.
“Bagaimana menjadi muda adalah momen terindah dalam kehidupan kita? Di mana letak keindahan dari hal ini?”
Mendadak Taehyung mendengus penuh ironi setelah keheningan sesaat. Pikiran itu hadir begitu saja.
☆☆☆☆☆☆☆

You Might Also Like

0 comments

2016 Reading Challenge

2016 Reading Challenge
Deasy has read 2 books toward her goal of 30 books.
hide