Reason Why BTS Use Demian as Concept

10:10 AM


WARNING: LONG POST AND RANDOM THOUGHT a.k.a GAJE. Dan ini aku copas dari postinganku di BAIA. *males*

Hallo, Daisy is back.

Pernahkah kalian membayangkan kenapa sih BTS memakai Demian sebagai referensi untuk comeback Wings mereka kemarin? 

  

Ternyata karya Hesse yang satu ini bukan buku yang asing loh untuk warga Korea. Sebelum BTS menggunakan buku ini, ada beberapa acara TV yang sempat mengungkit mengenai buku ini. 

Contohnya saja, drama Producer, buku ini merupakan buku yang diberikan Kim Soohyun kepada IU untuk dia baca. Selain itu pada variety show 2 Days 1 Night, pernah ada episode mengenai pertanyaan berupa kutipan dari buku ini.  Aku sendiri baca buku ini jauh sebelum BTS keluarin konsep ini. Lebih tepatnya karena Drama Producer dan variety show 2 Days 1 Night sih. Haha. Gara-gara penasaran dengan kutipan 

“The bird fights its way out of the egg. The egg is the world. Who would be born must first destroy a world. The bird flies to God. That God’s name is Abraxas.”

 

Nah beberapa hari lalu, aku menemukan sebuah artikel yang menarik tentang buku Demian.

Mengapa Orang Korea Sangat Menyukai Karya Hermann Hesse Demian di Antara Karya-Karya Novel Barat Lainnya?

Kalian bisa baca di sini artikelnya. 


Agak panjang dalam Bahasa Inggris. 

Aku ceritakan singkat saja buat kalian yang kurang paham (tidak semua kurangkum, kalau kalian ingin lebih memahaminya, bisa membaca langsung di sana)... 

Artikel ini dibuka dengan pandangan beberapa orang mengenai buku Demian ini dan Korea Selatan misalkan mengenai miskonsepsi orang Korea terhadap kehidupan Westerner, kemudian tentang hieraki sosial Korea, kebudayaan perusahaan di Korea hingga lingkup politikal Korea dan sebagainya yang seakan-akan terefleksi pada novel tersebut. 

 

Ada pula yang menyebutkan bahwa Korea Selatan adalah sebuah tempat di mana penampilan dan bentuk adalah hal yang sering kali lebih diutamakan dibandingkan esensi atau konten hingga tema semacam ini mungkin saja memiliki daya tarik bagi orang Korea. 

Bagi penulis sendiri, ketika membaca Demian sekali lagi setelah hidup di Korea selama setahun setengah, dia baru menyadari apa yang dimaksudkan oleh partner bahasanya saat menyarankan dia membaca buku tersebut untuk memahami kebudayaan Korea. 

Dia menyadarinya tepat dari bab pertama ketika narator buku, Emil Sinclair, mengingat masa kecilnya di akhir abad 19 di Jerman, mengatakan mengenai dua “dunia” dari realitas personalnya: “Rumah orang tuaku membentuk satu dunia, namun batas dari dunia tersebut bahkan lebih sempit, sesungguhnya dunia itu hanya berkisar di sekeliling orang tuaku.”

Menurut penulis, banyak pembaca muda Korea yang akan menyadari persamaan yang tinggi ini, ruang yang begitu menyesakkan dari “ibu dan ayah, cinta dan peraturan ketat, perilaku ideal, dan sekolah” tempat “dua garis lurus dan jalan-jalan dituntun menuju masa depan: di sana terdapat tanggung jawab dan rasa bersalah, kesadaran buruk dan pengakuan, permintaan maaf dan akhir yang baik, cinta, penghormatan, dan kebijaksanaan”.  Namun di sisi lain mereka juga menyadari dunia kedua Emil Sinclair. Tentang dunia yang penuh dengan hal-hal jahat dan mengerikan.

"Orang-orang takut karena mereka tidak pernah memiliki diri mereka sendiri sepenuhnya”

Bagian pada novel Demian:
“Seluruh masyarakat dibentuk oleh orang-orang yang takut pada hal yang tidak diketahui di antara mereka! Mereka semua menyadari bahwa peraturan yang mereka telah jalani seumur hidup tidak lagi valid, bahwa mereka hidup berdasarkan prinsip hukum kuno—baik agama maupun moralitas mereka tidak lagi sesuai pada kebutuhan dari masa sekarang” kemudian Demian menyebutkan mengenai hal yang dilakukan Eropa seabad ini “tidak melakukan apa pun selain belajar dan membangun pabrik-pabrik.”

Menurut penulis blog tersebut ini seakan merupakan deskripsi yang cukup tepat mengenai bagaimana Korea menghabiskan beberapa dekade untuk perkembangan yang sangat cepat setelah Perang Korea. 

 

Kemudian lanjut penulis, ketika Sinclair berpikir mengenai “pria-pria gentleman tua yang terpelajar yang bergantung pada kenangan dari masa-masa universitas mereka sebagai oleh-oleh dari surga dan membentuk sebuah penyembahan dari tahun belajar mereka yang telah “hilang” sebagai puisi atau bentuk romantis lain dari masa kecil mereka,” pencarian akan kebebasan dan keberuntungan di masa lalu seorang pembaca Korea akan berpikir mengenai lusinan pria paruh baya kenalannya yang mabuk untuk melewati malam-malam mereka. 

 

Bagi mereka dan banyak orang lainnya novel Demian memberikan semacam penghiburan, sebuah janji bahwa suatu hari seseorang mungkin akan mengakhiri kehidupan “mengikat pendapat mereka, idealisme, tugas, kehidupan, keberuntungan, dan lebih dekat lagi pada mereka dari kawanan” menuju “masa depan individual”, kemanusiaan, tempat di mana semua orang bergerak, tidak ada gambaran ideal, tidak ada hukum.

Artikel ini ditutup dengan pernyataan
Namun kebanyakan orang Korea paham bahwa cerita ini tidak berakhir baik bagi Emil. Pada akhirnya hal-hal itu memang seharusnya terasa menyakitkan.

Bagian akhir dari artikel ini mengingatkanku pada sebuah kalimat yang cukup popular disebutkan di Korea. Ada banyak drama yang mengutipnya. Acara TV yang membuat tema mengharukan mengenai masa muda pun juga pernah mengutipnya. Kutipan itu adalah

“아프니까 청춘이다”
“Because it’s hurt, it’s youth”

Kalau kalian pernah mendengar mixtape RM yang “Do You” atau rap GD di Palletenya IU, kalimat ini pun sempat disebutkan. Sebenarnya aku sempat membahas ini juga di fanficku, Youth of Lily, sekilas.
Aku cukup setuju dengan lyric Do Younya RM.

Mengapa karena itu terasa sakit itu adalah masa muda? Memangnya seseorang yang sudah berusia lanjut tidak lagi merasakan hal apa pun? Seperti apa kategori muda itu? Apakah jika kita terus merasakan “sakit” hingga berusia lanjut sekali pun kondisi itu pun termasuk dalam kategori “masa muda”?

I hate self-help books more than anything in the world
Bullshit telling us to do this or that
They have no backbone and believe other’s words
So that bullshit is a best seller
What do those guys know about you
Your dreams your hobbies, can they understand?
If you look less at wits, there are a lot of things that change
You were born as a hero, why are you trying to become a slave?
“Because it hurts, it’s youth”
That kind of definition is the biggest problem – RM, Do You

Kurasa, jika melihat dari penjabaran penulis blog tersebut dan melihat bagaimana kehidupan Korea, juga mencoba memahami pemikiran Namjoon, semua ini bisa menjadi gambaran bagi kita yang hidup di luar Korea untuk memahami latar belakang kebudayaan Korea hingga keterkaitannya dengan Demian.

Lantas, mengapa BTS menggunakan Demian sebagai sebuah konsep... bisa jadi alasannya adalah karena

Uhm... apa ya? Aku juga bingung *nggak membantu malah bikin rumit* #plak

Well, okay...
Mungkin... BTS ingin menunjukkan relevansi mereka terhadap Demian. Mungkin juga karena Bang PD-nim melihat bahwa ini menjadi fenomena sosial di Korea yang mungkin akan membuat orang-orang merasa terkoneksi dengan lagu BTS ketika mendengarnya. Kita bisa lihat sendiri, pendapat-pendapat di blog itu.

Itu alasan yang bisa kita lihat langsung karena terlihat cukup jelas.

Apalagi kalau lihat lyric Run dari album HYYH, kita bisa melihat esensi dari kutipan yang tadi kusebut. Terutama pada bagian
Let me run more
Please let me run more
Even though my feet are full of scars
I smile whenever I see you
Let’s run run run again! I can’t stop running
Let’s run run run again! I can’t help running
Only thing I can do is run
Only thing I can do is love you
Let’s run run run again! It’s ok to fall down
Let’s run run run again! It’s ok to be injured
I am happy enough even though I can’t get you
Curse me, this foolish destiny!


Memang benar alasan itu mungkin termasuk salah satu di dalamnya. Tapi selain itu, pardon me for being skeptic, kalau menurutku orang Korea cenderung meromantisasi sesuatu. Put romantic meaning over everything, wrap to make it look pretty and touching and at some point it turned to be an excuse for me. Like “아프니까 청춘이다” this quote. Karena ini adalah masa muda makanya ini terasa sakit, ini menjadi semacam excuse bagi seseorang untuk terus bertahan dalam posisi yang tidak menyenangkan untuk dirinya, situasi membuat dirinya tidak bahagia. Hingga akhirnya tidak melakukan apa pun selain bertahan. 

 

Seperti contohnya ada satu adegan yang kuingat dari drama I Need Romance 3 (drama ini tidak untuk ditonton anak usia di bawah 17 tahun. LOL. terlalu dewasa), ada sebuah karakter yang selalu menempelkan kutipan kata 아프니까 청춘이다 di meja kerjanya untuk mengingatkan bahwa usaha dan kerja keras yang dia lakukan saat ini terasa sangat berat, terasa sangat menyakitkan karena itu adalah masa muda. Dia terus bertahan dalam kondisi pekerjaan yang membuatnya tertekan, menyimpan seluruh gajinya, membaginya ke dalam beberapa macam tabungan: tabungan untuk pendidikan, tabungan untuk menikah, dan tabungan dsb, hingga dia bertahan dalam hubungan yang tidak menyenangkan lagi baginya karena pacarnya sedang berusaha untuk lolos ujian PNS (kalau tidak salah). 

Ya, di Korea entah mengapa (aku tidak bisa paham), ketika seseorang sedang mempersiapkan ujian PNS, dia selalu saja semacam tidak melakukan hal apa pun selain belajar. Ini terdengar konyol buatku karena pada akhirnya dia membuat susah orang di sekitarnya karena harus mengalah, harus menyokong kehidupannya.

Balik ke cewe ini... Karakter cewe ini karena terlalu bergantung dengan kutipan itu sebagai penghiburan, dia seakan kehilangan dirinya. Kehilangan kesenangannya. Sampai akhirnya dia menyadari bahwa yang dia lakukan itu kurang tepat dan dia akhirnya berusaha untuk menemukan apa yang ingin dia lakukan. 
*Kemudian kenapa aku malah bahas drama ya?*

Balik ke soal BTS dan Demian. 


 

BTS dengan lagu BST, kurasa ingin mengatakan memang dalam proses itu memang selalu ada rasa sakit namun lebih dari itu ketika melakukan itu mereka tidak ingin itu hanya sekadar excuse (seperti yang disebutkan dalam lirik mixtape RM). Mereka ingin memberikan full effort till the last drop agar tidak ada lagi penyesalan. Penyerahan diri sepenuhnya pada apa yang mereka inginkan dan kejar. Terlihat sekali dalam chorusnya.

Kalau menurut kalian, apa alasan di balik Demian sebagai referensi?
Yang sudah baca Demian, suaranya dunkz...


*BTW... postingan ini panjang sekali... 8 halaman word, LOL*

PS: Tambahan
Saking terkenalnya Hesse di Korea, di Paju ada sebuah kafe yang didedikasikan untuk Hesse. Nama kafe itu Cafe Hesse
 

You Might Also Like

0 comments

2016 Reading Challenge

2016 Reading Challenge
Deasy has read 2 books toward her goal of 30 books.
hide