[Story about Memory] Caffe 0419 Behind

12:01 PM



Ini bukan editan. 
Ya, Caffe 0419 memang pernah ada di Seoul, tepatnya berada di alamat yang tertera di novel Caffe 0419.  

Tapi karena suatu hal, kafe ini akhirnya ditutup. 

Jujur saja, aku belum pernah main ke kafe ini, foto ini kapan diambil oleh adikku saja aku nggak ingat. Karena sewaktu perjalanan beberapa tahun lalu yang kuingat hanyalah kami banyak sekali berjalan melewati kafe-kafe unik di Seoul. Mungkin saat itulah foto ini diambil olehnya. 
Sebenarnya kisah kafe ini dan novel Caffe 0419 juga tidak ada hubungannya sama sekali.

Hanya saja, pada suatu hari, ketika sedang mencari ide menulis novel untuk suatu lomba bertema Korea Selatan, aku menemukan foto ini dalam folder kenangan TRIP TO KOREA yang kulakukan beberapa tahun lalu saat baru lulus kuliah.  

Ketika melihat foto tersebut, nama kafe ini menarik perhatianku. Mengapa dinamai dengan angka? Ada kisah apa di balik angka tersebut? Banyak masih banyak lagi pertanyaan bermunculan di kepalaku. Biasa penulis memang suka random kalau lagi mikir. *penulis... okay. mentang-mentang sekarang sudah punya dua buku, jadi sekarang bisa nyebut diri sendiri penulis wkwkwk*

Ide awal novel Caffe 0419 ini sebenarnya sangat jauh dari hasil akhirnya. Ada beberapa gabungan ide yang menginspirasi cerita novel ini.

Ide pertama berawal dari sebuah kalimat yang kupikirkan saat ulang tahunku beberapa tahun lalu. 


"How can you celebrate birthday alone?"

Pikiran random yang terlintas karena adikku sempat pull a prank, nggak ngacuhin aku di hari ultah. Tbh, aku memang dasarnya nggak gitu suka ngerayain ultah, it's not a big thing, tapi entah hari itu mungkin lagi agak mellow, jadi aku mikir begitu. 
Karena lagi mellow, kemudian kalimat ini berlanjut ke pikiran, hmm... bagaimana bikin cerita tentang seseorang yang selalu melewatkan hari-hari spesialnya sendiri. Dia nyaman dengan berada seperti itu. Hingga suatu hari seseorang yang sangat berbeda darinya mengusik kenyamanan itu dengan mengatakan "Gimana bisa sih kamu ngerayain ultah sendiri?" 
Akhirnya karena lagi infired *LOL*, akhirnya kuputuskan untuk buka buku catatan dan mulai membuat plot. 
Begini jadi plot awal. PS: ide cerita ini ditulis jauh sebelum aku akhirnya memutuskan untuk ikut lomba menulis yang kubilang tadi. 
Tentang seorang pemuda yang membenci Natal karena kenangan buruknya selalu terjadi di malam Natal itu, dan dia selalu saja sendirian di hari spesial itu. Hingga suatu hari, ia menemukan seorang gadis yang terdampar di dekat apartemennya di malam Natal.

Ini adalah draft awal novel ini. One fact, as you can see it, ide ini sebenarnya ditujukan untuk fanfiction. HAHA. Zaman lagi suka banget dengan Mark GOT7 (sekarang juga masih sih #ea) dan lagi suka-sukanya jadiin dia tokoh fanfic karena dia fanfic-able banget. 

Buat yang sudah baca Caffe 0419, kalian pasti ga asing dengan bagian awal draft ini. Bagian ini memang ada di novel (dengan penyesuaian nama tokoh). 

Namun dari sinilah perbedaan dimulai. Saat mengembangkan draft fanfic ini, aku sama sekali tidak memikirkan mengenai bangunan kafe maupun mengenai kenangan. Yang kupikirkan hanyalah romance side antar dua tokoh ini. Bagaimana gadis yang ia temukan di depan tempat tinggalnya ini akhirnya mengubah hidupnya yang sepi. (cheesy yak. wkwkwkw... kebanyakan nonton drakor, maklumi saja)



Saat mencoba mengembangkan novel ini, entah mengapa yang terpikirkan olehku selalu kenapa ceritanya jadi mirip drama Jepang berjudul Kimi wa Petto (yang pernah nonton angkat tangan!). Karena itulah, ide ini akhirnya kubiarkan saja. 
Setelah berbulan-bulan (mungkin setahun lebih kali ya), suatu hari ada info lomba bertema Korea dan karena banyak teman penulisku yang *masih* semangat 45 ikutan lomba saat itu akhirnya aku pun tergoda ikutan. Dan saat itu hanya sekitar dua minggu sebelum deadline berakhir. 

Mulai dari plotting ide, pengembangan, riset, dan penyelesaian naskah harus dikerjakan dalam rentang waktu tersebut. Pontang-panting? Jelas! Salah sendiri nggak niat dari awal. Wkwkwkwk... Tapi kelar loh 100 halaman dalam dua minggu. Hidup deadliners! 


Sewaktu mengembangkan ide untuk lomba, jelas saat itu aku tidak punya banyak waktu untuk mencari ide baru. Alhasil, karena punya tabungan ide banyak *cieh. Zaman masih rajin nabung*, kubukalah naskah-naskah lama mencari yang bisa sesuai. Saat itu tema dari lomba mewajibkan penulis untuk menonjolkan kekhasan Korsel. Makin pusinglah nyari yang pas. Bagian selanjutnya agak kabur dalam ingatanku karena yang kupikir hanya bagaimana caranya ikut lomba dan menyelesaikan naskah dalam waktu dua minggu. Coretan riset udah nggak berbentuk lagi, melingkar, naik turun gunung, banyak coretan. 

Aku sama sekali nggak ingat bagaimana kok akhirnya aku bisa sampai pada ide menggabungkan foto Caffe 0419 yang kulihat dengan cerita fanfic ini. Mungkin karena saat itu pikiran pertamaku mengenai ada apa sih di balik nama ini. Akhirnya kulihat, oh kayaknya cerita fanfic ini cocok dengan caffe. 

Awalnya aku sempat ingin sekali menyambungkan kisah sesungguhnya dari bangunan ini dengan novel ini. 

Saking isengnya, aku pernah mengontak pemilik kafe ini untuk menanyakan makna di balik angka 0419. 😂 Sayangnya saat kukontak memang kafe sudah akan ditutup.

Jawaban pemilik kafe sebenarnya agak unik saat itu dan juga ga penting banget. Aku sudah agak lupa gimana pasti kalimatnya. Kurang lebih dia bilang, angka itu menunjukkan waktu (waktu itu juga aku nggak paham-paham banget sih maksud dia gimana soalnya dijawab pakai bahasa Korea). Alhasil karena nggak terlalu bermakna dalam, kembalilah aku pusing tujuh keliling mencari sebenarnya ada apa dengan angka 0419 ini. 
Ada beberapa ide yang terpikir olehku. Tapi nggak perlu dijabarkan kali ya. Nanti spoiler novel. Hehe. Yang jelas hasil jadi dari ide-ide itu akhirnya berbeda dari yang kubayangkan di awal. 
Ini memang kebiasaan menulisku sih. Terkadang aku membuat key point scene, tapi pada akhirnya ketika menulis, aku membiarkan karakterku yang bergerak sesuai keinginannya untuk menceritakan kisahnya. 

Kurang lebih seperti itu kisah dibalik Caffe 0419. Pembuatan novel ini cukup berkesan buat aku karena saat itu selain deadliners, ini kali pertama aku kembali nulis novel dan niat ikut lomba. Beberapa tahun lalu, kalau ada yang pernah baca writing milestoneku, aku sempat trauma ikut lomba nulis karena nggak pernah lolos dan sempat menyerah juga. Ah, tulisanku masih belum bagus. Hasilnya, lolos lomba ini nggak? Ini bukan film. Jadi ya enggak lolos juga. hehehe. Sempat sedih sih... teman-teman seperjuanganku semuanya diterima naskahnya, cuma aku dan dua orang temanku yang nggak terpilih. 

Saat itu aku terus berpikir, di mana kesalahan naskahku. Kurang 'Korea' kah? Apa plotnya kurang kuat? Revisi demi revisi kulakukan. Ada banyak masukan dari teman yang baca. Sempat mikir, apa kuganti setting saja ya jadi setting Jepang (karena komen temenku sih), sempat kirim ke penerbit lain dan ditolak juga. 
 
Tapi akhirnya naskah ini punya rumah juga. 




Seperti yang kubilang di pengantar dalam novel. Novel ini berkisah tentang kenangan, masa lalu, dan rasa sakit.
 

“Memories warm you up from the inside. But they also tear you apart.”


Ini adalah salah satu kutipan dari Murakami yang juga menginspirasiku dalam menulis naskah ini. 

Dalam hidup, kita pasti akan bertemu dengan berbagai orang, berbagai kejadian. Semuanya membentuk banyak kenangan. Di antara kenangan-kenangan itu ada berapa banyak dari kita yang mengalami kenangan yang menyakitkan hingga hal tersebut berubah menjadi sebuah penyesalan? Lantas, apa yang mereka lakukan dengan kenangan tersebut? Menyesalinya seumur hidup ataukah melupakannya? 

Kurang lebih seperti itulah. Berdasarkan pemikiran itulah, akhirnya tagline dari novel ini kubuat jadi:

Every drop is a memory. 



Ada yang sudah baca novel ini? Bagaimana pendapat kalian tentang karyaku yang satu ini? Hehe... Buat yang belum bisa langsung ke gramedia/toko buku online untuk mengadopsinya. ^^

You Might Also Like

0 comments

2016 Reading Challenge

2016 Reading Challenge
Deasy has read 2 books toward her goal of 30 books.
hide